Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2022

Kelindan Ruah Rasa

Tak hingga 24 jam, beragam rasa dalam kelindan kehidupan meruah

Ada yang melepaskan setelah berjuang dalam penantian
Ada yang kehilangan setelah berjalan bersama
Ada yang mendapatkan setelah tercampak
Ada yang menggenggam setelah terperenyak
Ada ketulusan dalam panjat-panjat doa

Pada rasa-rasa yang meruah dalam tiap insan, ada sirat keikhlasan



Glasgow, 2 Juni 2022
13.53
M Paschalia Judith J


Sabtu, 29 Desember 2018

Mencoba Merasuk (1)

Gara-gara membaca komik berjudul Beauty Pop sampai lupa kerja, terlalu banyak kesan dan rasa yang tertinggal. Yah, salah satunya perasaan saat mencoba berada di posisinya Kazuhiko Ochiai. Jadi, kutulis saja ehe
Ohiya gue tulis dari 16.35 sampai 16.52, setelah mengetik feature analisis buat kerjaan hehe

*****
Senyumannya

Kubetulkan kacamata, memastikan pandangan
Senyumnya saat mendengarkan cerita terasa beda
Tak dekat memang jaraknya, tak sadar dia kuada
Kuabadikan sunggingan tawa serta binar mata sarat makna

Sejengkal dasawarsa kemudian
Senyumnya tak pernah bosan kunikmat, kupandang
Memang tak ada jarak, sayang rasa kita tak sama
Sahabat menangkan senyumannya, selamanya


(Palmerah, 29 Desember 2018)

*****

Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Cinta Yang Mahakuasa dan semesta selalu beserta kita

Salam dari yang telah mencoba merasuki Kazuhiko Ochiai,
M Paschalia Judith J

Selasa, 30 Juni 2015

Taruhlah Bulan pada Tempatnya

Senin, 29 Juni 2015

Sore ini pukul 15.00, aku meninggalkan meja yang telah menjadi temanku sejak sepekan lalu. Kami berkenalan dengan embel-embel Kerja Praktik. Enam hari sudah meja ini menyaksikan membaca total 3 laporan sambil mencatat ilmu-ilmu baru (biasanya hanya bertahan paling lama 3 jam) lalu bosan dan dilanjutkan main internet lalu pulang.

Meja ini tinggal di Sovereign Plaza lantai 12 di Jalan TB Simatupang. Untuk mempermudah dalam membayangkannya, sering aku bilang, "Di seberang serongnya Citos (Cilandak Town Square)". Biasanya langsung mudah terbayangkan.

Dekat dengan tempat tinggal meja itu ada jembatan penyeberangan. Aku melalui jembatan penyeberangan itu lalu naik Kopaja P20. Tujuanku ke Grand Indonesia. Sekadar informasi, Jalan TB Simatupang ini di Jakarta Selatan sedangkan Grand Indonesia di Jakarta Pusat.

Pejaten kemudian Warung Buncit, masih lancar. Sesampainya di Mampang dan perempatan Kuningan, macetnya terasa. Aku hanya bisa membaca buku dibarengi angin sepoi-sepoi dan berefek ketiduran barang 5 menit.

Untungnya Jalan Rasuna begitu kosong. Di seberang Plaza Festival, aku turun dan ganti kendaraan ke Kopaja 66. Kemudian aku turun di dekat Stasiun Sudirman dan berjalan kaki dari sana ke Grand Indonesia. Pukul 16.42 sampai di Grand Indonesia.

Kali ini bukan tanpa tujuan aku ke sini. Ada tiga sosok sobat dekat yang paling sering bersamaku di Bandung. Sonya, Sudib, dan Seto. Tiga orang yang bisa dibilang cukup mengenal dan memahamiku.

Kami memutuskan makan ramen, menukar Lucky Chance di KFC, ditambah sekadar duduk-duduk di Chatime.

Pulangnya aku sendiri berjalan ke Stasiun Sudirman. Satu langkah dari pintu keluar Menara BCA Grand Indonesia, spontan aku menengok ke atas, mengamati langit. Gelap, cenderung berawan, tak ada bintang, namun ada satu bulan yang bulat dan begitu terang.

Langkah demi langkah aku tapaki. Entah di langkah ke berapa, aku berhenti dan lagi-lagi menengok ke langit. Bulan itu masih bersamaku, mengikutiku meski kadang harus bersembunyi di balik gedung yang membumbung tinggi.

Aku naik Commuter Line jurusan Bogor dan turun di Stasiun UI. Keluar dari Stasiun UI, lagi-lagi bulan itu masih ada. Tubuhku di dalam angkot pun, bulan itu tidak absen sedetik pun.

Ketika berjalan kaki menuju rumahku pun, bulan itu masih di atas langit, jauh di atas serong kepalaku. Bulan dan aku sama-sama diam, tak berbicara apapun. Memang rasanya tidak sopan kalau tak menggubris sosok yang menemani perjalanan ini. Tapi rasanya aku sudah tahu pesan bulan itu. Bulan itu pun pasti sadar kalau aku memandanginya berkali-kali.

Langit, Langit selalu menjadi favoritku. Mungkin ini salah satu alasan Yang Mahakuasa menjadikanku mahasiswi meteorologi. Ya, mungkin saja.

Langit malam ini memang tak berbintang, berawan pula. Tapi seakan bulan ingin memamerkan keindahan miliknya dan milik langit. Bulan yang tegap sendiri berpendar bersanding dengan langit gelap pun tak kusangkal cantiknya. Seolah apa yang disebut terang telah disabotase dan hanya menjadi satu-satunya perhiasan bagi langit. Ya, bulan begitu cantik.

Aku paham. Tanpa bintang pun dan temaram cahaya kota, langit tetap cantik, tetap indah. Langit tetap hidup.

Satu lagi pesan yang terbersit di telingaku dari bulan. Bulan itu mungkin hanya suatu lensa. Tanpa ada logika jelas, lensa itu terhubung pada bentangan layar di benak seseorang. Seseorang yang begitu ingin menemaniku pulang, memastikan aku selamat sampai di rumah. Mungkin juga ada, meski begitu kecil tak kasat mata, harapnya pada suatu hari nanti, dia dan aku bertemu di rumah, berpelukan erat satu sama lain sambil membagi penat dan cerita selama satu hari. Kalau begitu, terima kasih pada seseorang itu yang telah mengirimkan bulan.

Ah, aku mengambil dan menyimpan pesan pertama saja. Pesan barusan tampak sebatas khayalan. Karena aku begitu tulus ikhlas dalam paham dan mengerti, bulan pada langit sungguh begitu serasi untuk menghabiskan malam bersama, tak ada bintang pun tak apa.

Kakiku pun memasuki rumah, menyapa hangat Bapak, Ibu, dan Joe. Dari jendela, aku mengintip. Dan bulan itu masih ada :)

*****

Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur :)

Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati


Salam dari yang melakukan pemanasan bersama bulan untuk menulis lagi,
Maria Paschalia Judith Justiari 

Jumat, 05 Juni 2015

Mungkin Langit Menyimpan Iri

Langit iri
Ia terpaksa meneguk pahit menyiksa kalbu

Sama
Laut menyapa pantai siang malam
Langit pun disapa laut siang malam

Tapi berbeda
Laut mencumbu pantai lembut perlahan-lahan,
bahkan cumbunya kian meluap-luap saat langit kian menghitam

Mungkin
Langit menghitam karena dia iri
Siang-malam dia bersama laut
Tapi tak pernah laut mengecup atau membelainya
Tak pernah bisa, butuh sesuatu bernama sihir

Bisa jadi
Ada rasa ingin bertaut erat di antara laut dan langit
Sayang, ada pula garis tak terelakkan padahal tak nyata
Garis mendatar dari ujung ke ujung bumi
Garis yang memisahkan laut dan langit

Meski
Tidak kita ketahui ada suatu dunia tak kasat
Di sana langit dan laut puas dalam peluk satu sama lain
Melebur menjadi satu tanpa dipisahkan garis jahanam




-Pantai Santolo, 20 Mei 2015-


Terima kasih telah membaca tulisan ini
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati :)

Semangat selalu yaapss
Jangan lupa bersyukur ^v^


Salam dari peneguk pemandangan langit siang malam,
Maria Paschalia Judith Justiari

Minggu, 27 Juli 2014

Mengingat Lagi Jalan Dongeng Pengembara

Pengembara muncul pertama kali kala pikir dan imaji pemilik raga ini berkelana dalam ruang perumpamaan, tepatnya sekitar tahun 2010/2011.
Saat itu Pengembara berjalan dari kolaborasi logika dan imaji ke dunia Twitter.
Kini Pengembara tengah duduk, mereka ulang bagaimana hidupnya sejak 2010/2011 hingga detik di mana dia duduk dan mereka ulang.

Hidup Pengembara begitu bebas, bebas dalam kelana namun tetap menjaga mahkotanya sebagai perempuan.
Dia dalam jalan dan kelana menuju tempat-tempat bernama Mimpi, Visi, Cita, Cinta, Harapan, Keheningan, Diri Sendiri, dan sebagainya.
Modal perjalanannya hanya semangat dan niat.
Seperti yang telah dikatakan pada kalimat paling pertama pada tulisan ini, kisah Pengembara dimulai pada kisaran tahun 2010/2011.

Pada awal mula, dikisahkan Pengembara membangun tenda di pepohonan sekitar istana. Namakan wilayah istana itu Daerah Satu. Dalam masa tinggalnya di sana, Pengembara jatuh hati pada seorang Pangeran di Daerah Satu. Pada siang-sore-malam, Pengembara kerap menghabiskan waktu bersama Pangeran Satu dalam cerita, canda tawa, hingga jalan-jalan santai.
Sayang, sakit hati menyerang Pengembara ketika Pangeran Satu menceritakan perasaannya. Dia jatuh cinta pada seorang Putri cantik tiada cacat di Daerah Dua. Putri ini sungguh berbanding terbalik dengan Pengembara, dia begitu kalem dan pendiam. Pengembara mengunci jerit hatinya dengan senyum di wajah sambil memagut ketertarikan akan cerita Pangeran ini. Hari dan malam berikutnya, dunia Pengembara berisi kisah tentang Pangeran Satu yang begitu tergila-gila pada Putri Dua.





Tak kuat lagi menahan jerit hatinya, Pengembara membereskan tendanya dan melanjutkan perjalanannya. Dia tak punya tujuan (sudah dibilang bahwa dia memiliki kebebasan tersendiri). Ternyata kakinya berpijak di suatu desa kecil, masih di Daerah Satu.
Di pinggir hutan dekat desa itu, dia membangun tenda. Dia berusaha untuk menyembuhkan sakit hatinya yang berujung air mata di kala malam. Apa yang dia lakukan di siang hari? Dia hanya berjalan-jalan mengelilingi desa tersebut. Setelah sembuh, matanya jauh lebih terbuka. Pandangannya beralih pada Pemuda Satu. Tanpa dia duga, pandangan ini bersambut manis. Pemuda Satu pun menyukai Pengembara. Setelah mengenal satu sama lain dalam interaksi hangat, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman. Sayangnya, hubungan mereka hanya berlangsung selama 1 bulan. Ada tembok di antara Pemuda Satu dan Pengembara yang tidak ingin mereka hancurkan dan mereka panjat. Pengembara sadar betul betapa dia meninggalkan sakit hati pada relung kalbu Pemuda Satu. Sampai detik ini, Pengembara sadar kata 'maaf' tak cukup untuk menyembuhkan luka hati Pemuda Satu. Apalagi mengingat selama 1 bulan itu, benar-benar hanya ada bahagia yang sangat hangat bagi hidup mereka berdua. Tak heran bila kehangatan itu membekas dalam hidup Pengembara sampai saat ini.

Hebatnya, Pemuda Satu ternyata pemaaf. Bahkan sampai detik ini, Pemuda Satu dan Pengembara masih menjalin hubungan yang sangat baik. Beberapa bulan setelah mereka tak lagi menjalin hubungan khusus sampai detik ini pula, Pemuda Satu menjalin hubungan cinta yang sederhana namun pasti dengan Gadis Satu.

Kembali lagi saat hubungan antara Pengembara dan Pemuda Satu berubah menjadi pertemanan yang erat. Seolah diguratkan takdir, Pangeran Satu mendapati Pengembara di pinggiran desa itu.
“Aku mencarimu,” begitu kata-kata Pangeran Satu. Kata-kata itu lalu hanya disambut oleh diam dan senyum bahagia Pengembara.







*****

Hidup Pengembara begitu bebas, bebas dalam kelana namun tetap menjaga mahkotanya sebagai perempuan.

Pengembara baru saja usai menutup buku dengan Pangeran Tiga, Pangeran dari suatu istana di Daerah Tiga. Delapan bulan. Yah, begitulah yang terhitung oleh Pengembara.

*****

Hidup Pengembara begitu bebas, bebas dalam kelana namun tetap menjaga mahkotanya sebagai perempuan.

Dalam hidupnya, Pengembara memiliki Yang Diterawang untuk menjadi sandaran hidupnya.

Dalam hidupnya, Pengembara memiliki sebuah pondok kecil yang berada di wilayah yang dia sebut Rumah. Rumah ini bukan ‘rumah’ yang khalayak biasa sebut. Meski tingkat kenyamanannya memang tak senyaman ‘rumah’-yang-khalayak-biasa-sebut, namun cukup memberi ketenteraman dalam hidup Pengembara. Ah ya, di pondok kecil itu, Pengembara biasa bertemu dengan kedua orang tuanya dan adiknya.

Dalam hidupnya, Pengembara memiliki beberapa pohon rindang yang tersebar di berbagai macam wilayah. Baru satu pohon rindang yang tumbuh besar dan kokoh, sayangnya jaraknya begitu jauh dari Pengembara.
Meski jaraknya dengan pohon rindang – pohon rindang itu tak menentu jauhnya, Pengembara selalu berhasil mencari cara untuk sampai ke pohon rindang – pohon rindangnya tersebut. Dia selalu menemukan jalan untuk sekadar bersandar sejenak di salah satu atau bahkan banyak pohon rindang. Kemudian dia pergi melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan pohon rindang – pohon rindangnya untuk sementara. Pengembara pasti akan kembali pada mereka, hanya saja waktunya tak pasti.
Pengembara percaya pada alam dan hidup. Alam dan hidup akan menumbuhkembangkan pohon rindang – pohon rindang dalam kelana Pengembara. Namun apabila ada manusia yang mengancam hidup pohon rindang – pohon rindang itu, Pengembara akan langsung hadir bagi mereka serta berusaha keras menyelamatkan nyawa dan hidup mereka.

*****

Hidup Pengembara begitu bebas, bebas dalam kelana namun tetap menjaga mahkotanya sebagai perempuan.

Saat ini Pengembara tak sebebas biasanya namun tetap menjalani apa yang dia maksud dengan kebebasan miliknya.
Kini Pengembara tengah belajar memimpin suatu desa mungil yang dipenuhi orang-orang yang ramah pun hangat di Daerah Tiga.
Secara tak langsung, Pengembara belajar memaknai kebebasan dalam sudut pandang lain, memaknai rumah dalam sudut pandang berbeda, dan memaknai libur dalam sudut pandang tak biasa.

*****

Hidup Pengembara begitu bebas, bebas dalam kelana namun tetap menjaga mahkotanya sebagai perempuan.
Dia dalam jalan dan kelana menuju tempat-tempat bernama Mimpi, Visi, Cita, Cinta, Harapan, Keheningan, Diri Sendiri, dan sebagainya.

Ya, satu makna bebas yang Pengembara pegang. Dia bukan milik siapa-siapa. Dia adalah milik Yang Diterawang, keluarganya, dirinya sendiri, serta tanah dia lahir yang bernama Indonesia.
Tak ada satupun yang berhak menyatakan mereka memiliki hidup Pengembara selain empat pihak yang baru saja disebutkan. Ingat, Pengembara adalah kebebasan.

Sampai…
Sampai nanti Yang Diterawang mempertemukannya dengan sosok laki-laki yang menjadi sandaran hatinya dan kelak pula nantinya menjadi suaminya, keluarganya. Di saat itu makna kebebasan berubah bagi Pengembara.

*****


Nb: Ini beberapa prosa tentang secuil kisah Pengembara. Sila klik di label Jalan Dongeng Pengembara

Terima kasih telah membaca tulisan ini
Tuhan memberkati.

Salam dari pemilik kolaborasi imaji dan pikiran yang mencipta Pengembara,
Maria Paschalia Judith Justiari

Jumat, 11 Juli 2014

Sore Ini

- 11 Juli 2014 pukul 18.00 sampai 18.19 -

Sore ini aku duduk di depan Sekretariat KMK ITB.
Sore ini aku menunggu balasan dari seorang perempuan yang lebih muda setahun. Dia berjanji menemaniku mengecek sesuatu di daerah Cihampelas.
Sore ini aku mendengarkan kisah salah seorang anggota KMK tentang Diklat Panlap-nya.
Sore ini aku mendengar harmoni indah alunan musik dari Sekretariat UKSU ITB.
Sore ini aku tiba-tiba merasa dingin dari hujan.
Sore ini aku menyimpulkan kata 'redup' berdasar edaran mataku pada sekitar Sunken Court ITB.
Sore ini aku hanya ingin membagikan apa yang aku rasa.
Sore ini aku agak menyesal tidak membawa Jaket HMME "Atmosphaira".
Sore ini aku memandang langit mendung berawan.
Sore ini aku mengajak mataku menerobos ke kediaman Yang Mahakuasa, aku memohon agar malam ini tak hujan.
Sore ini aku mengusir kucing yang berusaha masuk ke dalam Sekretariat KMK ITB.
Sore ini aku..................................................................
Ya sudahlah :)



Terima kasih telah membaca cerita sore ini.
Tuhan memberkati

Salam dari yang sedang bercerita tentang sore ini,
Maria Paschalia Judith Justiari


Jumat, 27 Juni 2014

Mengganti Judul

Sebelum:




Sesudah:




*****
Dari "Kegembiraan dan Distorsi" ke "Cerita Indera"


Mengapa "Cerita Indera"...?
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada yang masih abu-abu di antara kegembiraan dan distorsi.
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada berbagai macam hal yang tidak tergolong kegembiraan maupun distorsi.
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada indera yang menerjemahkan suatu cerita ke dalam kegembiraan atau distorsi. Ya, kegembiraan maupun distorsi bergantung sudut pandang indera.
Karena indera diri saya melalui berbagai macam cerita, entah nyata maupun khayal.

Cerita Indera.
Sekumpulan cerita yang disaksikan mata, didengarkan telinga, dikecap lidah, disentuh kulit, dihirup hidung, dialami raga, dan dirasakan jiwa.
Sekumpulan cerita yang ditulis apa adanya tanpa dibuat-buat oleh penulis.
Sekumpulan cerita yang tak bermaksud puitis karena penulis bukan sastrawan.
Sekumpulan cerita yang siap sedia dibaca oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.

Selamat menikmati suguhan Cerita Indera :)


Terima kasih.
Tuhan memberkati.

Salam dari pemilik blog yang baru mengganti judul menjadi 'Cerita Indera',
Maria Paschalia Judith Justiari

Breathtaking Episode of Bones Season 8

Holaaahhh everybody!

Pengennya sih gue nulis ini dalam Bahasa Inggris tjui, pengennya...
Tapi apa daya, Bahasa Inggris gue udah rada gimana gitu karena jarang dipakai. Jadi daripada ribet mikirnya, langsung aja deh pake Bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (nggak terlalu) benar :D

Gue mau mengulas sedikit salah satu episode dari Bones. Yep, Bones udah jadi salah satu serial tv favorit gue sejak kelas 12. Thanks Agitha for introducing Bones to me anyway :3

It's titled "Pathos in Pathogens".
Garis besarnya, episode ini mengisahkan Bones dan Booth menghadapi kasus kejahatan biologi yang telah berhasil membunuh 1 nyawa dan nyaris membunuh 1 kerabat terdekat mereka.

Buat gue, sudut pandang yang menarik di sini adalah bagaimana ilmu pengetahuan dieksplorasi di masa kini.

Suatu hari Jeffersonian (semacam lembaga penyelidikan jenazah. Tempat Bones dan sohib-sohibnya bekerja dan menghabiskan waktu bersama) kalang kabut. Bagaimana tidak? Ada seorang jenazah memasuki Jefersonian dengan infeksi biologis yang tidak dikenal.



Sayangnya, pada saat pemeriksaan, salah seorang dokter di Jeffersonian tertusuk jarum yang berisi cairan yang mengandung sumber infeksi biologi tersebut. Dokter itu bernama Arastoo. Dalam waktu singkat, Arastoo menderita demam tinggi bahkan kejang-kejang.


Untuk menemukan vaksin agar Arastoo pulih, mau tak mau Booth dan Bones harus segera menemukan pelaku pembunuhan keji kelas ilmiah ini.

Sambil selidik sana-sini demi menangkap pelaku jahanam itu, Bones dan Hodgins bekerja sama membuat ramuan dari bahan-bahan herbal tradisional. Ini dilakukan karena setelah diteliti ternyata infeksi biologis tersebut memiliki gejala yang sama dengan penyakit chikungunya namun dimodifikasi lebih jauh secara biologis.

Singkat cerita, Booth dan Bones menemukan pelakunya. Ternyata pelakunya adalah seorang dokter yang sengaja membuat infeksi biologis yang mengerikan itu untuk kepentingan pribadi.

Si pelaku tampaknya sudah tak lagi memiliki hati nurani. Booth naik pitam karena si pelaku tak kunjung menyebutkan lokasi penyimpanan vaksinnya. Puncaknya ketika Booth membawa dia secara paksa untuk melihat kondisi Arastoo yang sekarat, bukannya kasihan, si pelaku malah bangga. Dengan teganya dia merasa diri hebat karena karyanya mampu melumpuhkan orang secepat itu. Melihat kejamnya si pelaku, Bones dengan cekatan menyuntikkan suatu cairan ke pelaku sambil berkata, "Nikmatilah hasil karyamu sendiri! Sekarang katakan di mana vaksinnya?"



Akhirnya, secara dramatis pelaku itu ditangkap dan Arastoo pun pulih secara perlahan. Usut punya usut, ternyata yang disuntikkan Bones hanya cairan biasa, bukan virus penyebab infeksi biologis mematikan itu.



*****

Nah, apa yang membuat gue tertarik?
Perkembangan ilmu pengetahuan mungkin membuat beberapa manusia merasa dirinya 'tuhan' yang hanya sudi memikirkan kebahagiaannya sendiri bahkan sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain. Kesenjangan ilmu antara yang menguasai dan mengenyam lebih lama dengan yang berangan pada ilmu pun dimanfaatkan demi meraup keuntungan sendiri.
Padahal kesenjangan itu harusnya diubah menjadi kesetaraan.
Menurut gue pribadi, eksplorasi ilmu pengetahuan itu seharusnya bisa dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya kaum cendekia yang bertitel. Bagi mereka yang hanya punya mimpi mencicip ilmu pengetahuan pun perlu disuguhkan ilmu pengetahuan eksakta yang begitu menakjubkan. Hingga mereka pun tak hanya mencicip melainkan terus melahap dan melahap ilmu pengetahuan tersebut.

Sama satu lagi yang benar-benar membuat gue tertarik.
Jangan pernah meremehkan suatu bentukan ilmu apapun. Setradisional atau sekuno apapun ilmu itu, ilmu tetaplah ilmu. Pada hakikatnya, ilmu itu berguna bagi kehidupan. Meskipun sudah berkembang secara pesat, ilmu yang dianggap tradisional jangan sampai dilupakan.
Karena pasti ada momennya, ilmu yang dianggap tradisional itu terbukti menolong manusia.
Ya, ilmu pengetahuan itu kekal. Semesta kece! Yang Mahakuasa benar-benar hebat!

Sebagai (calon) ilmuwan, gue merasa apapun yang gue temukan itu demi kesejahteraan bersama. Bukannya malah merugikan orang lain dan hanya meraup keuntungan sendiri.

Gue sadar bannget kalau gue ini calon ilmuwan.
Calon ilmuwan yang berusaha memberi solusi ilmiah pada nusa dan bangsa.
Calon ilmuwan yang mengabdikan dirinya pada ilmu yang diemban tanpa ego sedikitpun.
Calon ilmuwan yang berharap bisa menyelamatkan nyawa nantinya.

Semoga suatu saat nanti gue bisa menjadi seorang ahli vulkanologi, seismologi, dan meteorologi profesional kebanggaan Indonesia di dunia internasional yang berbasis nilai-nilai ilmiah serta memiliki semangat mengabdi. 

*seluruh sumber gambar: klik di sini :)*

Terima kasih sudah membaca.
Tuhan memberkati.


Salam dari (calon) ahli vulkanologi, seismologi, dan meteorologi,
Maria Paschalia Judith Justiari

Selasa, 15 April 2014

Raga Ini Masih Penasaran

Raga Ini Masih Penasaran

Raga ini berdiri kokoh di tengah cerita bahagia
Meski raga ini punya sedih untuk dipenjara
Raga ini berdiri tersenyum di antara mimpi
Meski raga ini punya takut untuk bertepi

Raga ini teguh mendengar kisah hebat
Meski raga ini punya malu tuk bicara
Raga ini teguh perhatikan keluh kesah
Meski raga ini punya alasan tuk merana

Raga ini tak mau lagi berteriak akan cita
Berbisik saja dia tak sanggup dan enggan
Raga ini dalam diam meronta akan belas
Sudah jauh dia dari adab, acuh, dan manja

Raga ini masih penasaran
Sayang, raga ini punya putusan tuk merangkak
Raga ini terseok maju merangkak awalnya
Hingga akhirnya raga ini terbang mengangkasa


Distorsi (lagi).

Tuhan memberkati.

Salam dari penulis puisi 'Raga Ini Masih Penasaran',
Maria Paschalia Judith Justiari

Senin, 18 November 2013

Saat Dia Bilang

Saat Dia Bilang

Saat Dia bilang tidak
Tidak, itu bukan tidak
Dia tahu jauh lebih banyak
Dia tidak sembarang mengayak

Saat Dia bilang belum
Belum, itu entah belum
Dia dan waktu saling mengagum
Dia mencinta makna momentum

Saat Dia bilang iya
Iya, itu jelas iya
Dia paham benar naskah drama
Dia dan ihwal t'lah kenal lama

19 November 2013 - 08.47
- Maria Paschalia Judith Justiari -

Pengkhotbah 3 : 11
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."


Semangat, Judith!
Seperti yang selalu kamu katakan pada teman-temanmu untuk menyemangati mereka, Dith:
"Semua indah pada waktunya broh, kalo ga indah yaa berarti bukan waktunya!" :')

Semangat dan selamat pagi, Judith!
Selamat pagi juga Tuhan serta seluruh ciptaan-Nya!

Tuhan memberkati.

Salam,
Maria Paschalia Judith Justiari

Jumat, 25 Oktober 2013

Air Mata

Pengembara bahagia. Bahagia hingga langit sudi menangis haru terhanyut dalam kebahagiaan Pengembara.
Sedetik kemudian, Pengembara ikut meneteskan air mata bersama langit.
Langit mengira Pengembara mencucurkan air mata yang sama dengannya.
Ternyata tidak.
Pengembara sedih. Hatinya teriris pilu mengingat waktu dan tiga ratus enam puluh lebih makhluk.
"Satu itu jauh ya?" Tanya Pengembara dalam hati seraya mengusap air matanya dengan tangannya sendiri.
"Biar, biar saja. Akan kusyukuri semua. Akan kusyukuri," gumamnya dalam hati sambil melangkah berat untuk belajar bersyukur.

- MPJJ -

Senin, 06 Mei 2013

Mungkin

Mungkin di sana, ada satu pintu yang harus kubuka
Mungkin di sana, ada satu ruang yang perlu sinar matahari
Mungkin di sana, ada rantai yang mesti dilepas
Mungkin di sana, aku keluar

Mungkin.........

Jumat, 07 Desember 2012

Sudah Pagi?

Ketika embun menetes dan jatuh tepat di permukaan kelopak mata, Penggembara mengernyitkan dahi. Bola matanya langsung menatap ke atas, bukan untuk mencari pelaku yang meneteskan embun, melainkan menyambut sinar matahari yang malu-malu mencolek retinanya dari balik awan kelam.
Ah, sudah pagi.
Lantas Penggembara tak lagi menatap sinar matahari. Dia menerawang jauh menerobos. gerombolan awan yang mulai memutih karena kepercayaan diri matahari untuk tampil.
Hatinya bingung. Otaknya yang tadinya berpikir logis, juga bingung.
Kepada yang diterawang, dia berkata dalam sunyi, apa yang terjadi denganku? Jarang sekali aku hanya berdiam dan lebih dari dua jam bersandar di makhluk yang entah sudah sampai berapa dia menghitung helaan nafasku. Aku tahu Engkau tahu di mana diriku. Kembalikan diriku karena aku ingin menggembara tanpa beban...
Matanya terpejam.
Apa sebenarnya aku telah memenjarakan diriku?

Lagi-lagi, pohon menambah jumlah helaan nafas dari orang yang bersandar padanya....


Selamat pagi!
- Maria Paschalia Judith Justiari -

Coba Diingat

Setelah menelusuri blog gue, ternyata gue pernah nulis cerpen benar-benar singkat dan sad ending loh..
Di link ini niih

Masalahnya gue gasuka sad ending...
Dan sekarang....
Sekarang....
Sekarang gue kangen berbahasa dan menulis... Hiks..
Gue kangen belajar bahasa Inggris dan Jerman
Ich vermisse Deutsch und Englisch so viel.. :'(
Tampaknya jaman SMA dulu gue produktif banget dalam tulis-menulis, entah bagus atau kagak..
Gue juga sering nulis filosofi....
Sekarang belum nulis filosofi lagi... hiks

Oh ya, tadi gue bilang kalo gue gasuka sad ending...
Mari kita lanjutkan Trilogi Danau Toba Season 2

Ujung Lidah

Memang Toto tak mendapatkan Avi karena capnya. Tapi mata Toto tetap segar.
Semua karena Mia.
Lama Toto menghapus perasaannya pada Avi.
Ternyata penghapus itu ada pada Mia.


- Maria Paschalia Judith Justiari-

Helaan Nafas

Haaaaahh....
Penggembara menghela nafas untuk ke sekian kalinya.
Mungkin pohon sampai bosan menghitung helaan nafas orang yang bersandar padanya. Prediksi si pohon, orang yang bersandar padanya sedang kalut.
Penggembara kalut?
Ah, tidak juga. Penggembara bukan cuma kalut. Dia kehilangan dirinya. Kehilangan apa yang dia lihat, dengar, dan rasa. Padahal ucapan apapun dari mulutnya bukan berarti hilang.
Seperti yang dibilang, Penggembara tak hanya kalut.
Dia distorsi.
Untungnya bukan distorsi teman dari torsi di dunia benda tegar. Kalau sampai iya, Penggembara akan mengenal penyakit bernama stroke di dunia yang dia tinggali untuk pertama kali.
Oh ya, distorsi apa yang dialami Penggembara?
Distorsi karena tidak bisa mencurahkan distorsinya.
Benaknya bertanya, "Kepada siapa aku berucap jika tak ada yang ingin mendengar ucapanku? Mereka lebih peduli ucapan bibirnya masing-masing."

Pohon menambah jumlah helaan nafas orang yang bersandar padanya....

Selasa, 08 Maret 2011

Unyu, sedang Galau Braay! *brbgaruktanah <= ababil

Posting kali ini mau ngobrolin perihal kata-kata yang gue temukan selama hidup satu setengah tahun lebih di 39. Perlu digarisbawahi, posting kali ini benar-benar murni didasarkan kurang kerjaan dari pribadi gue. Jadi mohon dimaklumi yaa

Rumusan masalah: 
Tak ada yang tau kenapa bisa merebak sampai seluruh pelosok. Atau karena radio? Atau karena dunia sempit? Ataukah ada hal lain (dari dunia lain)?

Waktu itu pas liburan kenaikan kelas (Juni/Juli 2010), gue tweet-to-tweet sama Cecil. Alangkah bahagianya Cecil yg berlibur ke tanah Jawa (gue juga mauuuu).
Daripada gue ngenes di rumah bersemedi di depan laptop, gue palak oleh-oleh ke Cecil.
Lalalalalaladubidambidamtrilililiii ada satu tweet di mana Cecil bilang "unyuuuu..."
Lah? Gue kan bingung apaan noh arti kata unyu. Dengan polosnya gue nanya Cecil artinya naon.
Gue penasaran dan dengan cerdasnya Cecil tak menjawab. Ujung-ujungnya gue masih hidup dengan digandrungi rasa penasaran.
Lama-lama di timeline twitter gue, kata "unyu" semakin eksis. Dan gue pun ikut menggunakan kata "unyu" setelah mengetahui maknanya. Apa maknanya? Sulit dideskripsikan, nanti kalian juga tahu sendiri.
Itulah perkenalan gue dengan kata "unyu" pada bulan Juli 2010.

Juli 2010 nyaris sampai pada akhir hayatnya. Sambil menemani bulan Juli di masa rentanya, gue tetap rajin nongkrong depan timeline twitter. Naah sekarang si ketua kelas semester duanya Exhsclafe10 (baca: Dzorfhi dgn nama imut Opi) bikin sensasi. Nggak deh, bukan sensasi. Pokoknya dia lagi tweet banyak status dan di RT sana-sini. Chika nanya dia kenapa (lagian makhluk kayak gitu kok bisa ngetweet semacam itu). Gue RT tweetnya Chika. Opi pun menjawab kalau dia lagi galau.
Galau. GALAU. G-A-L-A-U.
Otomatis gue langsung teringat lagunya Titi DJ yang berjudul Galau. Lagu itu lahir tahun 2008 (kalau nggak salah). Gue menyimpulkan kalau "galau" itu berarti perasaan yang nggak enak dan nggak tenang. Selidik punya selidik, gue menemukan arti kata "galau" yang sebenarnya itu bulan September. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "galau" berarti kacau. Kasihan sekali dia, banyak yang salah mengartikan kata "galau".
Itulah perkenalan gue dengan kata "galau" pada akhir Juli 2010 dan mengenalnya lebih dalam pada September 2010.

Selama 2 minggu, gue belom nemu kata-kata baru yang memperkaya diksi gue. Setelah dinanti-nantikan, gue bertemu (lagi-lagi di twitter) dengan gaya bahasa baru. Kali ini bukan kata tapi gaya bahasa. Di timeline saat itu gue sering baca hashtag dengan gaya bahasa seperti ini:
#brbgalikubur #nangisdipojokan #garukgaruklantai #garukgaruktembok dsb.
Sebenarnya gue udah pernah denger #brbngakak dari bulan Juni 2010. Tapi kalau hashtag dengan gaya bahasa seperti di atas, gue baru nemu pas akhir September.
Di 2011 sekarang ini, hashtag yang sering gue baca dan pake adalah #eaaa dan #plaak. Ohya, nggak lupa sama hashtag #malamgombal karya Gian, Nimas, dan gue. Kalo sempet baca yaa! *promosi
Itulah perkenalan gue dengan gaya bahasa yang gue namakan aksi-reaksi ngenes pada akhir September 2010.


Masih di bulan September 2010. Saras, temanku yang paling imut membuat akronim baru yakni "Ababil". "Ababil" ini merupakan singkatan dari ABG Labil. Maklum namanya saja SMA, dunia peralihan dari remaja menjadi dewasa, wajar dong kalo labil? Jadi, begitulah asal-muasal kata "Ababil".

Itulah perkenalan gue dengan kata "Ababil" pada akhir September 2010. 
 
Terakhir nih braay! Di bulan November, anak-anak Bily Scive pada menyebut kata "bray" di akhir kalimat. Maknanya sama aja sih kayak sapaan. Sampai sekarang gue masih doyan menggunakan kata "bray" sebagai kata sapaan.
Itulah perkenalan gue dengan kata "bray" pada awal November 2010 di Bily Scive.



Naah naaah naaah..... Abis posting panjang lebar tinggi gini terus gue mau ngasih kesimpulan apaa?? Setelah ditilik lebih mendalam ternyata...........nggak penting ya? -,-
krik krik krik
Nggak deh, gue punya kesimpulan sendiri. Di mata gue, komunikasi itu hebat banget. Kata-kata yang tadinya dipakai di suatu komunitas kecil (contoh: SMAN 39) bisa begitu merebaknya di Indonesia lewat berbagai macam media.

Bener kan kesimpulan gue? Hehehehehe
Sekian dulu braay!

God bless! 

Salam hangat,
Maria Paschalia Judith Justiari 
 

Sabtu, 14 Agustus 2010

Setelah Satria November

Bukannya mau selingkuh dari novel-novelnya Mia Arsjad, tapi entah mengapa saya terhipnotis membeli kedua novel ini





Well, I’ve read and felt Satria November. But, both of them have similar story with me. They are my teacher now because I want to get out from a situation that you don’t wanna be there. Welcome Refrain and Pillow Talk! We’ll meet during Ramadhan on break time. Give your lesson and accompany me during my school break time! I’m ready to ‘slap’ myself with these novels! Hehehehehe

=D


GBU always..

Best regards,
Maria Paschalia Judith Justiari

Mohon Dimaklumi, Saya Sedang Girang

Heyyaaa!!
Saya duduk di depan laptop langsung setelah mendapat mention (bahasa twitter) dari novelis favorit saya.
Begini kronologi nya:

Saya mengetikkan 3 tweet ini: ( maksa banget dah) -.-

Dan......... VOILAAAA!! Tweet saya dibalas oleh dia:

Efeknya seperti ini: (malu-maluin diri sendiri)
 
Hahahahahaha, saya teriak jejeritan, histeris, dan dengan noraknya lhoo -____-
#bangga


Dia adalah Mia Arsjad.
Sejak kelas 7 (1 SMP), saya sudah ngefans (kelas) berat sama dia gara-gara novelnya yang berjudul Miss Cupid.
Novel Miss Cupid berhasil membuat ibu saya hampir dibawa ke psikiater (baca: ngakak kenceng-kenceng sendirian di kamar sambil baca Miss Cupid).

Akhirnya, dan mungkin sudah ditakdirkan *sok tau* saya mengecap Mia Arsjad sebagai novelis favorit saya.
Saya masih ingat pada zaman Friendster merupakan ciri anak gaul, saya mencantumkan nama Mia Arsjad di kolom “Who I Want to Meet”. *kalo saya punya nyali, saya cantumkan untuk membuktikan.

Novel-novel karya wanita geulis asal Bandung ini memang patut diacungi lebih dari 10 jempol (pinjem jempol kaki-tangan tetangga, abang ojek, ibu-ibu PKK). Bahasa dan kalimat-kalimat menggelikan dan mengalir merupakan ciri khas novelnya. Biarpun masalah yang diangkat serius, dijamin masih bisa ketawa di tengah jalan kalo baca novelnya (juga di tengah jalan). Saya pribadi saat membaca novel-novel Kak Mia *maaf, sok akrab*, nggak pernah pusing mikir ini-itu atau bolak-balik ke halaman belakang buat mengerti. Dengan caranya, Kak Mia berhasil membawa pembaca menikmati cerita dengan tutur kalimat yang mudah dipahami dan ber-genre lawak. Bahkan hebatnya lagi, saya selalu merasa hadir di dalam novel itu dan menyaksikan sendiri bagaimana tiap paragraf diceritakan. *standing applause

Masih banyak lagi kehebatan novelnya. Masalah yang diangkat dalam novelnya pun unik. Yang paling unik adalah Satria November.
Satria November menceritakan perjuangan dan pengorbanan seorang cewek berumur 15 tahun membantu seorang cowok berumur 16 tahun yang memiliki niat teguh untuk lepas dari jeratan narkoba.

Hayoo, belum ada lho novelis selain Mia Arsjad yang memasukkan tema Narkoba sebagai tema utama sebuah novel. Kalau diumpamakan dengan detergen, Satria November ibarat detergen yang sudah komplit – ada pemutih, pembersih, pewangi, pelembut, penggoda (?) – sehingga pakaian yang dicuci dengan detergen ini akan nyaman dipakai dan terlihat berkualitas. Sama dengan Satria November, nyaman dibaca dan berkualitas.

Sejujurnya (pengakuan), saya meneteskan air mata (hiperbola nggak dosa kan?). Intinya, saya nangis pas adegan Inov (mantan pecandu narkoba) menangis di pelukan ibunya. Pendeskripsian Mia Arsjad di sini sebenarnya cukup singkat, namun mampu membawa emosi saya ke dalam peristiwa itu. Mungkin kalian pikir bahasa yang kocak selalu membawa kalian tertawa terbahak-bahak keselek duren. Salah! Mia Arsjad mampu membuat kalian nangis sesenggukan jika kalian baca Imajinatta. *standing applause kedua kalinya

Pesan moral yang dihidangkan oleh Mia Arsjad juga berbobot tinggi. Sederhana, namun bermakna besar bagi kehidupan.

Bukan mau promosi, tapi kalau kalian butuh bacaan yang menghibur sekaligus mendidik, kalian HARUS eh ga harus juga sih tapi DIWAJIBKAN membeli novel karya Mia Arsjad. Alasan, ulasan, penjelesan, kukusan dari saya di atas cukup merayu iman Anda untuk membeli kan?

Sejauh ini, saya baru punya 2 novel yaitu Imajinatta dan Satria November. Sisanya saya baca pas lagi nongkrong di Zoe Comic Corner Depok.







Terima kasih atas perhatiannya.
Maaf yaa Kak Mia Arsjad kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Sebagai permohonan maaf, karena Kak Mia doyan kuda, saya kasih gambar kuda:
  
hehehe


Salam,
Maria Paschalia Judith Justiari

Jumat, 13 Agustus 2010

Bebaskan Saya!

Saya terpenjara dalam barisan huruf
Padahal
Huruf selalu menyunggingkan senyum untukku

Saya terkurung dalam balutan kata
Padahal
Kata selalu membuatku bebas

Saya terikat dalam neraka frasa
Padahal
Frasa selalu membawaku ke khayalan

Saya terjebak dalam naungan kalimat
Padahal
Kalimat selalu melayangkanku
 
Saya terjepit
di antara prosa dan puisi


 *galau, Maria Paschalia Judith Justiari

Senin, 21 Juni 2010

Pahit

Cerita ini berbeda jauh dari obat yang rasanya pahit, bahkan jauh dari makanan yang paling pahit sekalipun, namun masih bermusuhan dengan kata manis

Latarnya di Jakarta, di suatu SMA. Kisahnya mengenai percintaan klise yang basi dan asli orang udah bosan dan muak sebelum membacanya.

Dan beginilah kisahnya...
SMA itu nggak seru kalau nggak ada bumbu-bumbu cinta.
Kalimat kuno yang diucapkan oleh ibunya terus terngiang di telinga Avi. Padahal dunia Avi cukup menyentakkan kata iri di hati cewek-cewek lainnya. Berlusin piala dan prestasi dengan angkuh terpampang di sekolahnya. Wajahnya manis dan mengisyaratkan bahwa ia orang cerdas. Tapi kalimat kuno itu selalu menghancurkan dunia Avi.

16 tahun gue hidup dan gue belum pernah merasakan pacaran.
Toto selalu memandang hidupnya semiris itu. Walaupun anak seorang nelayan, dia dapat meraih berjuta prestasi. Tetap saja dia memiliki perasaan minder karena mendapat cap anak nelayan. Padahal, bisa saja dia menarik hati para cewek dengan otak, hati, dan wajah manisnya. Sayang, cap anak seorang nelayan yang dia lekatkan sendiri telah meruntuhkan kepercayaan dirinya.

Klise dan basi. Sama dengan kisah percintaan remaja lainnya, Toto dan Avi dipertemukan di SMA dan kelas unggulan yang sama.

Kesan pertama: Biasa saja
"Saya Toto dari SMP X. Motivasi saya bersekolah di SMA A karena akreditasinya bagus."
3 deret bangku berikutnya...
"Saya Avi dari SMP Y. Saya bersekolah di sini karena dekat dari rumah."

Skenario pertama: dipanggil guru
"To, kamu kan ketua kelas, kamu kumpulin data-data anak kelas terus kasih tau ke saya,"
"Iya Bu,"
"Semua nomor hape harus ada ya, To,"
"Baik Bu." 

Skenario kedua: Di kelas yang panas dan penuh emosi
Angin semilir tak cukup untuk menghilangkan rasa gerah dan penat. Semua emosi karena ulangan geografi telah mengusir semua hiburan. Tapi di mata Toto, ada seorang gadis yang dapat menghilangkan gerahnya. Dan di mata Avi, ada sosok yang meredakan emosinya. 

Dunia Avi.
'Aku nggak tau sejak kapan, yang pastinya menurut aku Toto itu beda. Entah kenapa. Apa ini yang dimaksud bumbu-bumbu cinta? Kenapa tidak bisa dijelaskan dengan trigonometri? Kenapa tidak bisa diselesaikan dengan teori getaran dan gelombang? Kenapa semua yang aku pelajari selama ini tidak bisa mengungkap apa yang kurasakan pada Toto sekarang ini?"

Pikiran Toto.
'Gue capek ah. Gue jelas-jelas suka sama Avi. Tapi gue nggak mungkin jadi pacarnya Avi. Gue capek nerima kenyataan kalo gue nggak bisa jadi bagian dari hidup Avi. Gue capek ngeliat senyum Avi tanpa memiliki senyumnya. Gue capek menghapus perasaan gue ke Avi. Kalau ada jalannya, tolong kasih tau gue.'

Tak tersampaikan. Akhir cinta yang pahit.
Pahit yang terasa tanpa ada rasa manis sedikit pun.


.TAMAT.


oleh: Maria Paschalia Judith
 *cerpen abstrak*