Rabu, 13 Juli 2016

Biar Saya Tidak Lupa

Rabu, 29 Juni 2016



"Awas Dith, jangan membuat Abang Gojek-nya menunggu," kata Ibuku padaku saat aku masih bersiap-siap pergi sedangkan Abang Gojek sudah di depan rumah
....... Ya, aku membuatnya menunggu.

"Neng, kalau ada waktu, kasih bintang lima ya," pinta Abang Gojek yang tadi sempat menungguku beberapa waktu saat bersiap-siap.
..... Ya, aku tampak tak memiliki waktu.



Pembelajaran. Untukku. Antara aku dan waktu.

********************************************************************************************************


Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati


Salam yang menyadari suatu pembelajaran pada 29 Juni 2016,
Maria Paschalia Judith Justiari

Senin, 11 Juli 2016

Antara Film A dan Lagu I

Hola!

Sebenarnya sudah ingin menulis ini sejak lebaran hari kedua, namun tertunda. Maafkan.
Ceritanya kemarin aku ikutan mudik. Mudiknya ke Lampung dan balik ke Depok kira-kira jam 21.00 pas lebaran hari pertama. Berhubung rencana mudik ini bukan hal yang mendadak, aku sempat melakukan beberapa persiapan.

Salah satu persiapan yang aku banggakan adalah, mengunduh film dan menaruhnya di dalam memori ponsel. Uyeah, jadi aku bisa nonton film di ponsel gitu pas di kapal feri. Berkat bantuan Seto, di ponsel aku udah ada film Armageddon, 500 Days of Summer, dan X-Men: First Class.

Ternyata oh ternyata, aku baru sempat nonton pas balik dari Lampung. Tepatnya di dalam kapal feri. Untuk menyeberangi selat Sunda, dibutuhkan perjalanan sekitar 2.5 jam. Sembilan puluh menit pertama aku habiskan untuk membaca buku tentang Nietzsche, sisanya aku manfaatkan untuk menonton film.

Pertama, judul tulisan kali ini ada bocoran dalam kata 'Film A'.
Kedua, di salah satu paragraf sudah diketikkan secara gamblang, film-film yang berniat aku tonton.
Harusnya bisa mulai ditebak nih judul film yang aku tonton selama sisa waktu di kapal feri.

ARMAGEDDON
(source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTvfwa__fHPDMniHibcwuvIxs_sOwm5xNzAEJfBzBdMDQ5L8CtdK_V7jDcyB9v78eeSwQE6e2YMxofV-y_c4bR53ROml-W_kb-V1GDcPRQRvBw5X4UU98OEY9Kt3d-WHIocq0orgH1DxVi/s1600/armageddon_1998_580x745_848715.jpg)

Film ini sukses membuat aku meneteskan air mata selain film Toy Story 3, Crazy Little Thing Called Love, P.K, Three Idiots, Beauty and The Beast, Kung Fu Panda 2, dan Kung Fu Panda 3.
(meneteskan air mata tidak berarti menangis ya HEHE)

Maaf maaf nih bray, aku nggak bakalan cerita sinopsisnya nih film dengan kata-kata gue. Tulisan kali ini lebih ke pengalaman aku pribadi, pikiran aku pribadi, dan perasaan aku pribadi saat menonton film ini. Ditambah lagi, mungkin akan aku selami juga 'Lagu I' yang ada di judul tulisan ini berdasarkan 3 hal tadi.

Sejujurnya aku rada gampang tersentuh dengan film-film yang ada sisi keluarganya, terutama jika menyoroti hubungan seorang ayah dan anak perempuannya. Ditambah lagi, kalau dari sisi aku, aku punya hubungan yang kaku-kaku-lucu gitu dengan Bapakku. Nah, pas nonton film ini, mata aku langsung berair pas adegan Harry Stamper berpamitan dengan putrinya, Grace Stamper.


(source: https://www.youtube.com/watch?v=2H0pnL03vB0)

"Daddy?"
"Hi Gracey. Hi honey. Grace, I know I promised you I was coming home."
"I don't understand"
"Looks like I'm going to have to break that promise."
"I lied to you too. When I told you I didn't want to be like you. Because I am like you. Everything good that I have inside of me, I have from you. I love you so much daddy. And I'm so proud of you, I'm so scared. I'm so scared."
"I know it baby. But there won't be anything to be scared of soon. Gracey, I want you to know that AJ saved us. He did. I want you to tell Chick, that I couldn't have done it without him. None of it. I want you to take care of AJ. And I wish I could be there to walk you down the aisle, but I'll... I'll look in on you from time to time, okay honey? I love you Grace."
"I love you too".
"Gotta go now honey."
"Daddy, no!"


(source: http://www.imdb.com/title/tt0120591/quotes)
...................................................................................................................................................................
*me was like burst into tears*
*completely moved*

Bahkan pas nonton video di atas, mata aku basah. Huhuhuhuhu adegannya cukup ngena di aku. Selang beberapa adegan kemudian, aku teringat beberapa momen (dan mungkin kebiasaan) antara aku dan Bapak.

Bapak yang tiap dini hari memastikan aku terselimuti *kalau enggak, biasanya aku diselimuti*
Bapak yang tiap dini hari mengecek lampu kamarku sudah mati atau belum *kalau masih terang, Bapak yang mematikan lampu*
Bapak yang ingin menghabiskan banyak waktu denganku
Bapak yang tiap aku akan pergi ke Bandung subuh-subuh selalu berusaha untuk mengantarkan aku ke pool travel
Bapak yang sering mengingatkanku untuk berdoa
Bapak yang mengecam laki-laki yang membuatku menangis (ini baru pertama kejadian kok HEHE)
Bapak yang selalu tersirat memberikan nasihat dalam berorganisasi
Bapak yang pernah menghentikan rapat gara-gara aku mau dioperasi
Bapak yang selalu aku panggil "Daddy Baymax"
Bapak yang membiarkanku ditempa oleh Yang Mahakuasa dan semesta namun tetap diperhatikan.
Bapak yang mungkin sebentar lagi memergokiku begadang dan dengan nada agak tinggi memintaku segera tidur
Bapak yang sering memintaku membuatkannya kopi hitam kental tanpa gula
Bapak yang sering memintaku memanaskan air dan menuangkannya di ember untuk mandi

Bapak yang menyayangiku.


Lalu di akhir, lagu yang diawali huruf 'I' kembali berputar. Penyanyinya Aerosmith.

I Don't Wanna Miss A Thing

Mari kita mundur ke detik persis sebelum Judith menyentuh judul film Armageddon di ponsel untuk ditonton.
Di detik itu, aku masih berpikir dan merasakan bahwa lagu I Don't Wanna Miss A Thing adalah lagu roman dari seorang pria untuk pasangannya.

Maju lagi.
Setelah menonton film itu, pandanganku terhadap lagu ini meluas. Bisa jadi, lagu ini adalah lagu yang menggambarkan paduan perasaan seorang Ayah kepada anak perempuannya dan perasaan seorang pria yang ingin menjadikan anak perempuan itu pasangan hidupnya. Dalam film ini dapat disederhanakan menjadi paduan perasaan Harry Stamper dan A.J kepada Grace Stamper. Bisa dilihat di akhir film, lagu ini diputar mengiringi beberapa adegan dengan Grace Stamper sebagai sorotan utamanya. Ditambah lagi, jika aku perhatikan, poster film Armageddon terpampang 3 tokoh yakni Harry Stamper, A.J, dan Grace Stamper.

Back to the song I'm talking about, I humbly think that the whole lyrics are very related to lover generally and some of it can be related to Daddy-daughter relationship.


Tidak menutup kemungkinan loh kalau lagu Aerosmith yang satu ini dituliskan untuk hubungan-hubungan lainnya secara umum, bahkan yang melampaui batas. Tapi sekali lagi maafkan aku kalau dalam tulisanku ini hanya ingin mengaitkannya pada hubungan seorang ayah dengan putrinya.

*****

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping, while you're far away and dreaming

Well, meskipun kemungkinannya sangat mengawang tapi bisa jadi ada beberapa menit waktu sang Ayah untuk menengok putrinya yang sudah tidur. Dia berdiri di sisi tepi tempat tidur putrinya dan mungkin saja di saat itu, sang Ayah tersenyum memandangi putrinya yang terlelap dengan senyum di wajahnya.

I could spend my life in this sweet surrender. I could stay lost in this moment forever
Well, every moment spent with you is a moment I treasure

I don't wanna close my eyes, I don't wanna fall asleep
'Cause I'd miss you, baby and I don't wanna miss a thing

Adalah suatu kemungkinan kalau seorang Ayah tidak ingin melewatkan momen besar putrinya. Kalau di film Armageddon, Harry mengatakan ingin sekali mendampingi Grace ketika berjalan ke altar saat pernikahan Grace dengan A.J. Bahkan di saat terakhirnya, Harry Stamper mengabadikan wajah Grace, putrinya, sebagai wajah terakhir yang ia pandangi sebelum mengorbankan diri. Kalau dari pengalamanku, Bapak sangat ingin hadir di seminar proposalku kemarin namun karena ada rapat penting, Bapak tidak bisa hadir. Bahkan bisa-bisanya si Bapak curhat ke Ibu, "Itu seminarnya Judith nggak bisa diundur ya?".
Lalu aku juga tertarik dengan frasa 'sweet surrender'. Mungkin saja, ada ketulusan dan keikhlasan seorang ayah yang mati-matian banting tulang demi kebahagiaan dan kebaikan putrinya. Suatu bentuk pengorbanan, yang menurut aku pribadi, biarpun menguras keringat tetapi tak menuntut balas demi senyum bahagia,
*****

A dad is someone who is a daughter's first love (- Anonymous)

*****
Gara-gara film ini, aku menjadi mendapat suatu pandangan baru. Sepengalaman aku dan seingat aku, kebanyakan teman-temanku yang laki-laki menginginkan anak perempuan. Yha mungkin ingin mengalami bagaimana memiliki dinamika hubungan antara ayah dan anak perempuannya.


Yap sekian tulisanku yang mengulas film Armageddon dan lagu I Don't Wanna Miss A Thing. Memang tidak ada data, tidak ada kesimpulan, dan tidak bisa seenaknya dikaitkan.
Dan perlu diingat, makna sebenarnya dari film maupun lagu ini hanya si penulis lagu dan penulis cerita ini yang tahu, itupun ketika dalam proses membuatnya.
Tapi aku sudah menyelesaikannya dan tidak menyesalinya. Malah cukup menikmatinya :)


Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur :)
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati kita


Salam dari yang pandangannya dan perasaannya meluas ketika mendengar lagu I Don't Wanna Miss A Thing,
Maria Paschalia Judith Justiari