Minggu, 25 November 2018

What I Write About Inner Peace in 20 Minutes

April, 21st 2015 was my EF writing test. I was late but I could finish it in 20 minutes just because the topic was interesting. Here what I wrote and the topic.


The task:
In your opinion, can talking about your problems or bad experiences help you to deal with them? Can you think of any more ways of dealing with problems or bad experiences? Write an essay explaining your opinions!


My answer:
I usually share my problems or bad experiences to my closest circle, such as my mother, my father, my brother, or my best friends. Psychologically, I am an extrovert who naturally expresses what I feel or what I am thinking about.

When I am expressing my feeling, somehow I get relieved. It is same with when I'm sharing my problems to my family or my best friends. Sometimes, I don't need their advises. I just need somebody's listening and caring me.

Many books state that sharing our problems is one step to make peace with ourselves and a way to avoid stress. When we keep the problems just for ourselves, we can get stressed and there will be no more inner peace in ourselves. If we have no inner peace in ourselves, we make ourselves drown deeper in our trouble.

However, beside sharing our problems to someones we trust, we can get inner peace by ourselves. We just need to be alone for a little time. We can pray, write everything we feel or think and simply talk to ourselves. Then, we can find our inner peace.
The matter is, the inner peace that we get. Inner peace helps us a lot to think and feel clearly. Surely, it eases us to find the way for our problems. Go find your own inner peace! 


*******
I'm really sorry that I've just finished this post today.
Please forgive me for my bad grammar there hehe

Anyway, here's the picture of my writings. I took this pict before submitting it to my teacher





Thank you for reading this post
Cheers! Be grateful always and Godspeed :D

Regards from the one who writes about inner peace for English course test,
M Paschalia Judith J
Tulisan ini diketik dalam dua kerangka waktu

**********

Sabtu, 8 April 2017
ditulis karena bosan di tengah kemacetan teralay tingkat nasional. Bayangin aja, Tol Cikarang itu ternyata menyempit lajurnya, ditambah lagi ada perbaikan jalan cqcq.. Yha mungkin ini bisa jadi bahan inspirasi topik Tugas Akhir.

Baiklah.
Setelah curcol alay tentang macet yang tengah dihadapi, gue mau menuliskan permenungan gue yang dimulai sejak tanggal 2 April 2017 (iya, H+1 wisuda gue haha)

 Tentang perempuan, cinta, dan karya :)

Ternyata bray, setelah wisuda gue merasa rutinitas gue sekosong itu. Biasanya malam-malam gue habiskan di kampus buat rapat atau nge-lab. Terus tiba-tiba aja gue bingung malam-malam sekarang mau ngapain yak.

Muncullah suatu pertanyaan secara tak diundang.
"Jangan-jangan seorang perempuan memilih untuk fokus ke karya lantaran ketiadaan cinta dari pasangannya. Bahasa singkatnya, karena kesendiriannya."

Gue pun menengok ke teman-teman gue lainnya yang sudah berpasangan. Misalkan di suatu malam yang sama. Teman gue yang berpasangan menghabiskan waktu dengan pasangannya, mungkin makan berdua atau bercengkrama atau menikmati hobi masing-masing. Di malam itu, gue sedang asyik-asyiknya rapat. Kemudian luluslah gue dari kampus. Di malam yang sama lagi, teman gue yang berpasangan  masih melakukan hal yang sama sedangkan gue bingung mau ngapain. Akhirnya gue memutuskan untuk menemani teman gue di kosan atau menghabiskan malam di kantor.


*********
Senin, 26 November 2018

/masih ingat hendak menulis apa, terima kasih Yang Mahakuasa dan semesta :)/

Oh iya, kantor yang dimaksud itu Kompas Jawa Barat karena sebelum lulus (hingga diwisuda), gue magang di sana. Lokasinya di Jalan RE Martadinata, Bandung.

Lanjut.
Kesadaran setelah lulus itu membuat gue menelusuri internet dengan kata kunci pencarian "love career woman" untuk membuktikan hipotesis gue pada saat itu.

Hipotesis gue adalah:
Perempuan yang terlihat suka bekerja sebenarnya bisa saja dilatarbelakangi oleh kesendiriannya serta kebutuhannya akan cinta dari pasangan (yang belum kunjung hadir) dan kebutuhannya akan aktualisasi diri dalam mencintai si pasangan.
Namun, karena si perempuan tampak suka bekerja, dia mendapatkan sentimen dari laki-laki sehingga laki-laki pun berpikir berkali-kali untuk mendekatinya.
Lah kalau kayak gitu kan jadi lingkaran setan yang nggak ketolongan alaynya yak.

Namun, usut punya usut di internet, gue tidak menemukan bukti terhadap hipotesis awal. Yang ada, gue malah menemukan sejumlah kisah wanita karir yang dapat menyeimbangkan waktu dan tenaganya antara keluarga dan karyanya.

Baik.
Tampaknya, sementara dapat disimpulkan, perempuan-cinta-karya itu semua tentang waktu versi-Nya saja. 
Kayak motivasi yang selalu gue dengungkan pada diri gue, "Semua indah pada waktunya. Kalau belum indah, ya berarti belum waktunya. Ehe"


Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur yaaps bunds
Semoga Yang Mahakuasa selalu memberkahi kita :D


Salam dari yang akan menemukan waktu-Nya untuk menyeimbangkan diri bagi keluarga dan karya,
M Paschalia Judith J