Rabu, 05 April 2017

Melihat, Melirik (2)

19 Maret 2016

Pujasera yang kudatangi bersama Ibundo minggu lalu kali ini menjadi tempat sarapanku. Aku duduk dekat meja makan yang kutempati minggu lalu. Seperti biasa, aku memesan makanan, membayarnya, lalu duduk mengamati sekitar.

Meja sebelahku ditempati 3 orang, seorang kakek, seorang ibu, dan seorang anak kecil. Si ibu menyampaikan pesanan makanannya pada kakek yang mungkin adalah ayah kandungnya (atau ayah suaminya). Kakek duduk berseberangan dengan anak kecil. Sambil menunggu makanannya datang, anak kecil itu meninggalkan kursinya dan lari menuju patung sapi dekat mejaku. Dia tertawa-tawa. Kakek dan ibu tersenyum memandangi tawa si anak kecil. Begitu melihat makanannya sudah datang, anak kecil itu kembali duduk dan bersiap untuk menyantap hidangannya. Sebelum dia makan, dia sempat berkata pada ibu dan kakeknya, "Opa, mama, makan yaaa." Cukup nyaring suaranya hingga sampai di telingaku dan membuatku tersenyum. Jarang sekali aku mendengar kalimat seperti ini keluar dari bibir mungil anak kecil. Tenang sekali anak kecil itu makan. Pelan-pelan satu per satu suapan dilahapnya. Ibu mengamati anak kecilnya sembari bercakap-cakap dengan kakek. Melihat anaknya yang makan begitu tenang, ibu mengeluarkan ponsel dari tasnya, memotret anaknya, lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Percakapan ketiganya pun terdengar samar namun senyum ketiganya terlihat jelas. Beberapa menit kemudian, tak ada lagi makanan yang tersisa di atas piring. Ketiganya meninggalkan meja.

Selang beberapa waktu, meja itu terisi kembali. Kali ini meja itu digabungkan dengan meja lainnya. Ternyata yang duduk di sana lebih dari empat orang. Keluarga besar mungkin. Sesudah memesan makanan, mereka duduk dan berbagi cerita. Kadang suasananya hening karena ada satu yang berbicara, kadang dipenuhi bahak tawa. Mataku cukup tertuju ke ponsel milik anak laki-laki dan anak perempuan yang duduk di meja itu. Sedari tadi kedua ponsel itu tergeletak di atas meja. Begitu makanan datang pun, kedua ponsel itu tidak bergeming. Tampaknya pemiliknya begitu larut dalam obrolan keluarga besarnya.

Belajar dari mereka, aku pun segera mendengarkan cerita teman yang duduk di sebelahku sambil menyantap sarapan pagiku.

*****


Terima kasih sudah membaca tulisan ini.
Semoga Yang Mahakuasa selalu mencurahkan cinta-Nya
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur ^v^


Salam dari yang dua kali mengunjungi pujasera yang sama di hari Minggu,
Maria Paschalia Judith Justiari

Minggu, 02 April 2017

Guruku yang Mampu Melihat Lebih Banyak Dibanding Aku

Halo halo

Ceritanya tulisan kali ini sangat ingin aku dedikasikan untuk Pak Nie Ing Han. Beliau penyelamat akademikku semasa SMA dan TPB (Tahap Persiapan Bersama atau mahasiswa tingkat 1 ITB).

Bermula dari aku yang sangat terkejut dengan perbedaan cara mengajar guru-guruku di SMP dengan SMA. Saat aku masih di SMP Bunda Hati Kudus (Kota Wisata, Bogor), sesungguhnya aku sejarang itu belajar *jumawa *jangan ditiru. Apalagi matematika. Di saat itu, aku benar-benar cukup mendengarkan penjelasan guruku, bertanya sebanyak-banyaknya saat kelas bahkan kadang sampai aku merasa puas, mengerjakan tugas dan kalau salah langsung aku cari yang benar seperti apa, lalu tadaaaaaa pas ulangan selalu lancar jaya *syukur pada Yang Mahakuasa.

Ternyata kenikmatan itu tidak terjadi lagi di SMA.
Selain aku harus beradaptasi dengan rutinitas dan pergaulan di sana (SMAN 39 Jakarta), aku mesti beradaptasi pula dengan cara mengajar guru-guru SMA. Mungkin karena sudah SMA, aku sebagai siswa dituntut pula belajar aktif di luar kelas. Jujur saja, ini sangat memberatkan aku yang tadinya terbiasa memaksimalkan waktu belajar di dalam kelas. Oleh karenanya, di semester pertama kelas 10 aku seanjlok itu dalam bidang akademik.

Aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama di semester pertama. Semester kedua, aku langsung berusaha mati-matian menjadi pembelajar aktif di luar kelas. Kurang puas dengan buku teks yang digunakan sekolah? Langsung saja aku membeli buku penerbit lainnya. Tidak jarang aku memiliki lebih dari 1 buku teks yang berbeda-beda penerbitnya untuk 1 mata pelajaran.

Ada satu kebiasaanku dari SMP dan terus berlanjut sampai SMA. Bertanya "kenapa?" di pelajaran matematika dan fisika. Sayangnya, terkadang semakin aku naik kelas di SMA, pertanyaan "kenapa"-ku sering dijawab "Cari sendiri saja yaa, Judith." Padahal aku sangat berharap mendengarkan cerita tentang asal-usul mengenai segala hal, terutama matematika dan fisika *anjay *sokbangetludith

Lompat cerita ke kelas 12. Saatnya menghadapi Ujian Nasional dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Lagi-lagi dengan alaynya, aku tidak mau lulus SMA tanpa mendalami materi akademik yang diajarkan oleh sekolah. Guru les SD aku menyarankanku ke Pak Nie Ing Han. Tanpa ba-bi-bu langsung aku iyakan.

Sesungguhnya aku tahu betul bahwa Pak Ing Han adalah seorang tuna netra. Beliau pernah tampil di acara Kick Andy! karena begitu menginspirasi. Jujur saat itu aku merasa istimewa bisa menjadi murid Pak Ing Han.

Di suatu sore saat saya kelas 12. Hari pertama les saya dengan Pak Ing Han di rumahnya. Kemudian aku memperkenalkan diri. Pak Ing Han pun langsung membuka percakapan.

"Judith, kamu tahu tiga kunci utama untuk belajar matematika dan fisika?"
"Hmmmm... Pertambahan, pengurangan, perkalian, Pak?" Jawabku agak kurang yakin. Kalau jawabannya seperti itu harusnya pertanyaan tentang empat kunci utama.
"Kurang tepat, Judith."
"Hmmm... Apa tuh, Pak?" Aku langsung menembak balik karena saking penasarannya.
"Ada tiga kunci utama, Judith. Kamu harus baca, baca, dan baca!"
Aku diam. Sambil tersenyum, beliau pun melanjutkan, "Tidak hanya di matematika dan fisika, ini berlaku untuk semua pelajaran."
Kemudian dia bertanya, "Berapa buku matematika yang kamu punya, Judith?"
"Ada dua, Pak. Yang satu dari sekolah, penulisnya Wilson. Yang kedua saya cari sendiri, Pak. Penulisnya Sutikno, penerbitnya Erlangga."
"Kenapa sampai punya 2 buku, Judith?"
"Penjelasannya saling melengkapi, Pak."
"Bagus, Judith."

Cara mengajar beliau pun berbeda tapi malah lebih mudah dimengerti dibandingkan di sekolah. Beliau menggunakan beberapa alat peraga. Ada peraga untuk sumbu x-y, ada peraga untuk menjelaskan kurva, ada peraga untuk kubus, bahkan ada peraga untuk menjelaskan konsep gerak dalam fisika. Selain alat peraga, beliau juga menyiapkan papan-papan yang berisi rumus-rumus.

Waktu baru pertama kali les, Pak Ing Han selalu berkata, "Judith, kalau kamu paham langsung bilang paham, kalau enggak yaa bilang enggak. Jangan mengangguk atau geleng-geleng kepala, saya 'kan nggak bisa melihat hehehe." Kami pun terkekeh berdua.

Apabila Pak Ing Han menulis di papan tulis, aku memperhatikannya dengan saksama. Beliau akan mengucapkan apa yang dituliskannya. Sebelum menulis di papan, beliau akan memastikan apakah papannya bersih atau kotor. Kalau ada tulisan, dia langsung menghapusnya sendiri dengan penghapus papan tulis. Setiap hendak mengganti baris, beliau pasti bertanya, "Judith, kalau saya menulis di sini nabrak sama baris atasnya nggak?"

Buku-buku koleksinya? Wah jangan ditanya. Banyak dan termasuk jenis buku-buku yang mungkin sulit dicari di jaman sekarang. Sayangnya Pak Ing Han jarang mengizinkan buku-buku miliknya dibawa pulang. Aku sendiri memakluminya. Buku-bukunya cetakan lama sehingga sudah agak rapuh. Seringnya aku mencatat dari buku-buku Pak Ing Han. Pak Ing Han pun juga rutin meminta tolong istrinya untuk mencatat ulang beberapa bagian penting di buku-buku lamanya ke buku tulis yang baru. Bahkan, meski di umur senja, Pak Ing Han tetap mengasah pengetahuannya dengan membaca buku-buku berhuruf Braille.

Berbicara soal buku-buku Pak Ing Han, ada bagian yang menakjubkan. Awal mula aku berkenalan dengan buku-buku Pak Ing Han dimulai dari pembahasan suatu soal matematika. Seperti biasa, ada aturan atau kaidah matematika yang aku pertanyakan asal-usulnya.
"Saya ambilkan dulu bukunya."
...
"Judith, ini bukunya. Coba kamu buka halaman empat belas, di sana ada jawabannya. Nanti kamu bacakan ke saya lalu saya akan terangkan."
Pas aku buka halaman yang diminta, aku cukup kaget. Bukan hanya karena di sana ada jawabannya, tetapi juga karena Pak Ing Han mengingat dengan persis nomor halaman setiap subbab di setiap bukunya. Kalaupun dia lupa, ternyata dia sudah membuat buku yang bertuliskan indeks subbab-subbab yang menurutnya penting beserta judul buku dan halamannya.

Iya, benar. Soal ingatan, aku kalah telak dari Pak Ing Han. Selain ingat seluk-beluk masing-masing persamaan fisika dan matematika, beliau juga mengingat berbagai nomor kontak kenalannya dan pastinya rincian peristiwa hidupnya. Pak Ing Han punya cara unik untuk menghafalkan nomor. Terkadang dia menggunakan pola deret atau barisan angka, kadang juga dengan tanggal-tanggal peristiwa penting.
"Begini cara menghafalkan nomor telepon rumah saya. Depannya angka 87 karena area tempat tinggal saya kodenya 87. Setelah 87, diikuti tanggal satu hari sebelum hari kemerdekaan yaitu 16845. Jadi nomor telepon saya 8716845."

Masih ada lagi yang membuatku kagum pada Pak Ing Han. Indra peraba dan indra pendengarannya sangat tajam. Ketika di rumahnya, dia sudah hafal letak tiap meja, kursi, dan perabotan lainnya. Bahkan bentuk kunci pun beliau hafal. Khusus untuk buku, beliau memang meminta tolong istrinya untuk menyusunnya dengan rapi dan memberitahukan urutan susunannya pada beliau. Jadi pada saat beliau mengambil buku, dia tinggal meraba susunan bukunya lalu mengambilnya. Luar biasa!

Selain peka terhadap suara hujan, suara kucing, atau suara mobil yang lalu-lalang depan rumahnya, Pak Ing Han juga hafal tiap suara kerabat-kerabatnya.
"Saya tau Pak A yang menelepon dari timbre suaranya."
Saat berbicara dengan beliau, arah tatapan beliau pasti ke arah saya. Beliau pun tahu saya duduk di depannya, kanannya, atau kirinya. Iya, tampaknya Pak Ing Han benar-benar memperhatikan arah sumber suara.

Pak Ing Han merupakan sosok guru yang paling aku banggakan. Bahkan di mataku, dia adalah guru sejati. Dia tidak akan membiarkan aku, muridnya, berada dalam kebingungan atau ketidaktahuan. Kalau ada konsep matematika atau fisika yang sulit aku pahami, kami akan benar-benar mendalami konsep tersebut sampai aku benar-benar paham. Pernah suatu ketika sesi lesku sudah habis dan ada murid lain yang sudah menunggu padahal masih ada soal yang dibahas bersama Pak Ing Han.
"Sudah Pak, tidak apa-apa. Saya coba selesaikan di rumah saja, Pak," kataku. Setelah berpamitan, aku pun pulang.
Tiba-tiba pukul delapan malam, Pak Ing Han menelepon ke rumahku.
"Judith, segera ambil kertas dan pulpen. Saya sudah ketemu jawabannya. Sini saya jelaskan," kata beliau lewat pesawat telepon. Dan benarlah beliau menjelaskan secara runtut tentang penyelesaian soal yang dibahas tadi sore.
Terkadang beliau pun masih ingat soal-soal yang tidak selesai di bahas selang 3 hari atau bahkan seminggu. Tidak hanya diingat, beliau benar-benar mencari solusinya lalu menjelaskannya padaku.

Oh ya. Masih ingat perjuanganku untuk menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung? *kalau mau mengingat kembali, sila klik di sini
Yap. Setelah diumumkan bahwa aku tidak berhasil lewat jalur SNMPTN Undangan, aku langsung belajar dan latihan soal setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Kalau sesi bersama Pak Ing Han biasanya mulai jam 2 siang sampai malam. Untung saja waktu itu pekan liburan sekolah, jadi murid Pak Ing Han lainnya pun ikut libur. Rutinitas demikian berlangsung selama dua minggu sampai hari H SNMPTN Tertulis.
Pak Ing Han tahu betul bahwa aku menginginkan (FITB) ITB sebegitunya. Dia pun benar-benar tidak segan sama sekali membantuku untuk berjuang mendapatkannya. Saat aku mengabarkan bahwa aku diterima di FITB ITB, beliau sungguh turut berbahagia. "Selamat Judith! Proviciat!"

Memang setelah menjadi mahasiswa ITB, aku menjadi jarang ke rumah Pak Ing Han. Paling-paling hanya sempat 2 minggu sekali untuk kursus kalkulus dan fisika dasar. Warna kursus kali itu cukup berbeda. Di sela-sela penjelasan, Pak Ing Han pasti bernostalgia akan ITB. Maklum saja, beliau adalah alumni Teknik Elektro ITB tahun 1960an.
"Dulu saya ke kampus naik sepeda, Judith."
"Judith, gedung kuliah umum ITB sekarang seperti apa?"
"Wah lapangan depan sudah jadi lapangan basket? Dulunya..................."
"Rektor sekarang siapa, Judith?"
"Aulanya masih luas?"
dan lain sebagainya. Aku benar-benar menikmati momen-momen Pak Ing Han bernostalgia akan kampus yang dulu pernah menjadi 'rumah'-nya.

Kalaupun 1 April 2017 kemarin aku berhasil diwisuda dari ITB, aku yakin salah satunya karena Pak Ing Han. Tanpa Pak Ing Han, mungkin aku tidak bisa menjadi mahasiswa ITB. Bagi aku pribadi, Pak Ing Han adalah guru yang menjadi bukti nyata tulisan kalimat pada Plaza Widya Nusantara, 'setiap pertanyaan harus ada jawabannya'.

Terima kasih Pak Ing Han.
Terima kasih karena telah hadir dalam perjuanganku.
Terima kasih karena telah turut menuntun aku dalam meraih cita-cita.
Terima kasih karena telah menjadi lentera untuk tetap berbagi dalam keterbatasan.
Terima kasih :''''''''')

Ohya, lalu tanggal 26 Maret 2017 aku bermain ke rumah Pak Ing Han bersama Ibundo dan Daddy. Beliau dan istrinya begitu gembira mendengar bahwa aku sudah lulus dari ITB. Tidak ketinggalan, mereka juga menanyakan kabar Joe, adikku.

Pak Nie Ing Han yang Menuntunku ke Gerbang Ganesha

Ibundo - Bu Ing Han - Pak Ing Han - Judith


Ps.
Pak Ing Han masih semangat mengajar matematika dan fisika loh!! Yuk, yang mau jadi muridnya segera hubungi beliau

*****

Terima kasih telah membaca tulisan ini
Semoga Yang Mahakuasa senantisa memberkati
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur ^v^


Salam dari yang sangat bersyukur atas hadirnya Pak Ing Han sebagai guru dalam hidupnya,
Maria Paschalia Judith Justiari