Minggu, 13 November 2016

Asoy Geboy Membaca dengan PaDi

Halo Pembaca!

pem-ba-ca
mem-ba-ca
ba-ca

Dulu pas masih sekolah, membaca adalah salah satu kegiatan yang bikin aku betah berlama-lama. Biasanya aku berkutat pada buku-buku fiksi, buku tentang pendidikan, terus…. *berusaha mengingat-ingat* *apa daya, sudah begitu lama*

Lah kenapa begitu lama? Soalnya pas kuliah aku sejarang itu membaca buku (selain buku referensi kuliah loh ya). Alasan jujurnya sih gara-gara aku kurang bisa menyediakan waktu untuk membaca. Tapi pas tingkat tiga, gerah juga rasanya kalau diri ini tidak diisi pengetahuan atau minimal kesegaran fiksi dari buku. Mulailah aku menggandrungi buku-buku elektronik. Bahkan saking niatnya, beberapa ada yang aku cetak.

Di tingkat empat, membaca akhirnya kembali lagi menjadi kegemaranku. Buku-bukuku tambah beragam. Judul-judul non-fiksi  yang nggak ada hubungannya sama kuliahku pun kulahap pelan-pelan.

Waktu luang pun bisa saja tiba-tiba aku isi dengan membaca. Biar waktu luangnya berfaedah hehehe.. Kayak waktu itu, di suatu sore yang teduh (nggak panas, tapi nggak hujan), aku baru sadar kalau aku punya waktu kosong sekitar 1 jam. Sayangnya aku lagi nggak bawa buku apapun. Udah gitu, aku lagi nggak di daerah kampus jadi nggak bisa nangkring di perpustakaan. Lalu aku berpikir sejenak. Aha! Kayaknya iseng-iseng pergi ke Plasa Telkom yang ada di jalan WR Supratman bakalan asoy geboy nehh.

Seiseng itu, Dith?
Sebenarnya sudah diniatkan seminggu sebelumnya, tepatnya setelah berselancar di internet dan menemukan yang namanya PaDi atau Pustaka Digital. PaDi ini salah satu inovasi terbarunya Telkom dalam mewujudkan semacam perpustakaan digital.

Cukup dengan angkot Caheum-Ledeng, aku sudah sampai di depan Plasa Telkom. Sesampainya di sana, ada mbak-mbak ramah yang menyapaku dan menanyakan keperluanku. Langsung aku jawab kalau aku ingin tahu soal PaDi. Mbak-mbak ini mengantarku ke depan layar komputer dan voila! Aku pun bisa membaca buku-buku elektronik yang ada di PaDi.

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Swafoto di angkot hehehe

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Kyaaaa angkot Caheum-Ledeng kyaaaa

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Sampai juga di Plasa Telkom

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Tampilan PaDi di layar komputer 

 (sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Pilihan buku untuk dibaca secara daring

 (sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Akhirnya memilih untuk membaca Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana
Sebenarnya karena ingin nostalgia bacaan pas SMA :3

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Mulai membaca~~~

Tidak terasa, waktu luangku menipis. Kalau mau lanjut membaca, apakah aku harus ke sini lagi? Hmmmm, aku langsung menanyakannya ke mbak-mbak ramah yang tadi menyambutku. Dia menjelaskan kalau aku bisa mengakses PaDi dengan mengunduh aplikasi Qbaca di ponselku. Mantap jiwaa!!!!!

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Swafoto wajah bahagia setelah mencoba-coba PaDi di Plasa Telkom 

(sumber gambar: dokumentasi pribadi)
Plasa Telkom dari seberang jalan. Saatnya kembali ke aktivitas!


Sebelum mengenal PaDi, aku selalu meluangkan waktu beberapa menit sebelum tidur untuk membaca. Fleksibel, bisa buku cetak atau buku elektronik. Berkat adanya PaDi, aku semakin memiliki pasokan buku-buku elektronik yang siap aku baca kapan saja dan di mana saja! Senangnyaaa :'''')

Semoga kemudahan akses buku bacaan dari PaDi membuat kita semakin memiliki kebiasaan membaca. Saatnya kita semakin rajin membuka jendela wawasan kita dengan membaca buku :)

*****

Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur


Salam dari yang terkagum-kagum sama PaDi,
Maria Paschalia Judith Justiari

Selasa, 25 Oktober 2016

Bekal untuk Bapak



Hai hai
Kali ini aku mau berbagi cerita tentang aku yang berusaha menjaga kesehatan bapakku
Semoga bisa berfaedah yak hahaha


Semua bermula dari awal bulan Agustus 2016 :)

Lebih dari seminggu bapakku di rumah sendirian. Pasalnya, ibuku sedang menemani adikku yang tengah menjalani proses orientasi studi kampusnya di Bali. Sedangkan aku di Bandung lagi sibuk-sibuknya mengurus persiapan orientasi studi kampusku. Akibatnya tinggallah bapak sendiri di Depok. Rumah sepi - jelas karena hanya bapak yang mendiaminya.

Mbak, kalau ada waktu, tolong pulang ya. Temani bapak
Pesan Whatsapp dari bapak itu membuatku tertegun. Benar juga.
Siapa yang memasak dan menyiapkan bekal untuknya tiap pagi?
Siapa yang menemaninya berbincang di malam hari atau bahkan doa bersama?

mencegah/men·ce·gah/ v 1 menahan agar sesuatu tidak terjadi; menegahkan; tidak menurutkan (KBBI)

Ya, aku paling mengkhawatirkan pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi bapak. Bapak memiliki turunan penyakit diabetes. Di umur setengah abad lebih, bapak semakin wajib mengontrol gula darahnya. Biasanya ibu menjaga gula darah bapak dengan memilah dan memilih makanan yang disantap bapak. Oleh karena itu, tiap pagi ibu menyiapkan bekal untuk bapak.

Sayangnya sudah beberapa hari ibu di Bali bersama adikku. Aku membayangkan kalau bapak belum tentu bisa memilah dan memilih yang dimakannya. Ditambah lagi kesibukan bapak di kantor. Jangankan memilih makanan, dapat mengingat waktu makan saja sudah cukup. Karena aku ingin Bapak menjaga kesehatan, aku langsung pulang ke Depok.



Di perjalanan menuju Depok, aku merancang bermacam-macam menu untuk bekal bapak. Sebagai orang yang berisiko menderita diabetes, bapak dianjurkan mengonsumsi sayur dan buah lebih banyak. Tidak hanya itu, bapak perlu mengonsumsi jenis makanan sumber karbohidrat yang rendah kalori. Biasanya ibu membuatkan bapak bekal nasi merah dengan sayur-sayuran. Yap, dengan cekatan otakku telah menata menu bekal untuk bapak.

Hari pertama, 3 Agustus 2016

Nasi Merah dan Oseng Toge Sawi Putih


Hari kedua, 4 Agustus 2016


Untuk sarapan, aku memasakkan nasi merah dengan sayur oseng sawi putih
Menu makan siangnya kentang (rendah kalori) kukus, wortel kukus, dan ikan tenggiri kukus
Sedangkan kudapannya ialah buah pepaya


Hari ketiga, 5 Agustus 2016

Roti gandum isi ikan dori dengan saus yoghurt


*********************************************************************************
lawan /la·wan /5 v menentang; menghadapi; berbanding (KBBI)
Keluargaku memutuskan untuk melawan diabetes dengan memilah dan memilih jenis makanan yang disantap. Apabila diperinci, bekal-bekal yang aku masak di atas mengandung nutrisi yang dianjurkan bagi orang yang berisiko diabetes. Misalnya mengganti nasi putih dengan nasi merah, kentang rendah kalori, atau roti gandum. Untuk sumber proteinnya, aku memilih ikan. Lalu ditambah lagi, aku cenderung memasak sayur-mayur untuk bekal bapak.

Oh ya tambahan sedikit hehehe.. Ini foto bapak dan aku :3

*********************************************************************************

Begitulah kira-kira ceritaku untuk menjaga kesehatan bapak yang berisiko menderita diabetes. Aku pun masih berusaha mencegah dan melawan risiko penyakit diabetes dalam keluargaku. Semoga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. Terlebih, semoga kita semua menyadari betapa pentingnya mencegah maupun mengatasi diabetes sejak dini.
Yuk semangat dalam menjaga kesehatan, terutama kesehatan orang-orang tercinta :)

Kalau mau resepnya, langsung kontak aku saja yaa teman-teman.


Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur.
Semoga Yang Di Atas senantiasa menyertai kita


Salam dari yang berusaha mencegah bapaknya dari diabetes,
Maria Paschalia Judith Justiari


*****
sumber gambar:
1. Untuk bekal merupakan dokumentasi pribadi
2. Selain bekal, sumbernya sila klik di sini

Sabtu, 08 Oktober 2016

Pemantik Teknologi yang Dirindukan

Kita Indonesia?
Boleh boleh

Tapi.
Adakah kita pada teknologi informasi Indonesia?
Adakah kita pada teknologi komunikasi Indonesia?
Hm

Tulisan saya kali ini bercerita tentang sejentik harapan saya. Kiranya agar jentik harapan ini mampu mengangkat kata 'kita' pada teknologi informasi dan komunikasi Indonesia.

Hm
Hanya dua huruf itu yang dapat saya sampaikan. Menurut pandangan saya, masih ada daerah yang belum merasakan manfaat teknologi informasi dan komunikasi. Sebanyak 122 kabupaten disebut sebagai daerah tertinggal. Salah satu indikator daerah tertinggal tersebut ialah perekonomian masyarakat, sarana dan prasarana daerah, serta sumber daya manusia (SDM).

Tidak cukup rasanya jika membentuk kualitas SDM di suatu daerah bergantung pada internal daerah itu sendiri. Perlu adanya SDM yang menjadi pemantik dari luar daerah tersebut. Dalam hemat saya, perlu adanya program yang mempersiapkan SDM pemantik ini. Seyogyanya, SDM pemantik ini mampu berempati hingga dapat merumuskan teknologi tepat guna bagi daerah tertinggal sasarannya. Belum selesai sampai di situ. Selanjutnya, SDM pemantik ini pun perlu mendampingi SDM daerah tertinggal untuk membiasakan diri dalam memahami, menggunakan, dan merawat teknologi yang telah diwujudkan.

Boleh saja SDM pemantik ini menerapkan kata teknologi informasi dan komunikasi secara sederhana namun penuh makna.
Sesederhana teknologi yang bermakna metode yang sistematis untuk suatu tujuan.
Sesederhana informasi yang bermakna penerangan.
Sesederhana komunikasi yang bermakna saling berbagi.

Ya, saya berharap SDM pemantik ini turut merasakan kegelisahan masyarakat daerah tertinggal hingga mampu berpikir sistematis dalam menciptakan suatu teknologi tepat guna.

Ya, saya berharap SDM pemantik ini mampu memberi penerangan akan teknologi pada masyarakat daerah tertinggal.

Ya, saya berharap SDM pemantik ini dengan tulus berbagi teknologi dan penerangan pada masyarakat daerah tertinggal dari mata ke mata hingga hati ke hati.

Mengapa teknologi yang akhirnya menjadi jawaban bagi daerah tertinggal?
Manfaat teknologi bagi daerah tertinggal dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat daerah tertinggal. Misalkan Desa Cinta Mekar di Subang yang salah satu roda ekonominya disokong oleh teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Bukan hanya mendongkrak perekonomian, teknologi tersebut pun menjadi sarana dan prasarana aliran listrik di daerah tersebut.

Kaitannya dengan SDM?
Sesederhana karena yang mencipta, menggunakan, dan mengontrol teknologi adalah manusia itu sendiri.

Harapan saya?
Supaya SDM pemantik ini hadir di seluruh sudut-sudut Indonesia hingga akhirnya dapat dinyatakan dengan lantang bahwasanya kita Indonesia dalam teknologi informasi dan komunikasi.

Muluk-muluk?
Semoga tidak.




Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur


Salam dari yang mengharapkan pemantik,
Maria Paschalia Judith Justiari



*********************************************
Sumber:



Rabu, 13 Juli 2016

Biar Saya Tidak Lupa

Rabu, 29 Juni 2016



"Awas Dith, jangan membuat Abang Gojek-nya menunggu," kata Ibuku padaku saat aku masih bersiap-siap pergi sedangkan Abang Gojek sudah di depan rumah
....... Ya, aku membuatnya menunggu.

"Neng, kalau ada waktu, kasih bintang lima ya," pinta Abang Gojek yang tadi sempat menungguku beberapa waktu saat bersiap-siap.
..... Ya, aku tampak tak memiliki waktu.



Pembelajaran. Untukku. Antara aku dan waktu.

********************************************************************************************************


Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati


Salam yang menyadari suatu pembelajaran pada 29 Juni 2016,
Maria Paschalia Judith Justiari

Senin, 11 Juli 2016

Antara Film A dan Lagu I

Hola!

Sebenarnya sudah ingin menulis ini sejak lebaran hari kedua, namun tertunda. Maafkan.
Ceritanya kemarin aku ikutan mudik. Mudiknya ke Lampung dan balik ke Depok kira-kira jam 21.00 pas lebaran hari pertama. Berhubung rencana mudik ini bukan hal yang mendadak, aku sempat melakukan beberapa persiapan.

Salah satu persiapan yang aku banggakan adalah, mengunduh film dan menaruhnya di dalam memori ponsel. Uyeah, jadi aku bisa nonton film di ponsel gitu pas di kapal feri. Berkat bantuan Seto, di ponsel aku udah ada film Armageddon, 500 Days of Summer, dan X-Men: First Class.

Ternyata oh ternyata, aku baru sempat nonton pas balik dari Lampung. Tepatnya di dalam kapal feri. Untuk menyeberangi selat Sunda, dibutuhkan perjalanan sekitar 2.5 jam. Sembilan puluh menit pertama aku habiskan untuk membaca buku tentang Nietzsche, sisanya aku manfaatkan untuk menonton film.

Pertama, judul tulisan kali ini ada bocoran dalam kata 'Film A'.
Kedua, di salah satu paragraf sudah diketikkan secara gamblang, film-film yang berniat aku tonton.
Harusnya bisa mulai ditebak nih judul film yang aku tonton selama sisa waktu di kapal feri.

ARMAGEDDON
(source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTvfwa__fHPDMniHibcwuvIxs_sOwm5xNzAEJfBzBdMDQ5L8CtdK_V7jDcyB9v78eeSwQE6e2YMxofV-y_c4bR53ROml-W_kb-V1GDcPRQRvBw5X4UU98OEY9Kt3d-WHIocq0orgH1DxVi/s1600/armageddon_1998_580x745_848715.jpg)

Film ini sukses membuat aku meneteskan air mata selain film Toy Story 3, Crazy Little Thing Called Love, P.K, Three Idiots, Beauty and The Beast, Kung Fu Panda 2, dan Kung Fu Panda 3.
(meneteskan air mata tidak berarti menangis ya HEHE)

Maaf maaf nih bray, aku nggak bakalan cerita sinopsisnya nih film dengan kata-kata gue. Tulisan kali ini lebih ke pengalaman aku pribadi, pikiran aku pribadi, dan perasaan aku pribadi saat menonton film ini. Ditambah lagi, mungkin akan aku selami juga 'Lagu I' yang ada di judul tulisan ini berdasarkan 3 hal tadi.

Sejujurnya aku rada gampang tersentuh dengan film-film yang ada sisi keluarganya, terutama jika menyoroti hubungan seorang ayah dan anak perempuannya. Ditambah lagi, kalau dari sisi aku, aku punya hubungan yang kaku-kaku-lucu gitu dengan Bapakku. Nah, pas nonton film ini, mata aku langsung berair pas adegan Harry Stamper berpamitan dengan putrinya, Grace Stamper.


(source: https://www.youtube.com/watch?v=2H0pnL03vB0)

"Daddy?"
"Hi Gracey. Hi honey. Grace, I know I promised you I was coming home."
"I don't understand"
"Looks like I'm going to have to break that promise."
"I lied to you too. When I told you I didn't want to be like you. Because I am like you. Everything good that I have inside of me, I have from you. I love you so much daddy. And I'm so proud of you, I'm so scared. I'm so scared."
"I know it baby. But there won't be anything to be scared of soon. Gracey, I want you to know that AJ saved us. He did. I want you to tell Chick, that I couldn't have done it without him. None of it. I want you to take care of AJ. And I wish I could be there to walk you down the aisle, but I'll... I'll look in on you from time to time, okay honey? I love you Grace."
"I love you too".
"Gotta go now honey."
"Daddy, no!"


(source: http://www.imdb.com/title/tt0120591/quotes)
...................................................................................................................................................................
*me was like burst into tears*
*completely moved*

Bahkan pas nonton video di atas, mata aku basah. Huhuhuhuhu adegannya cukup ngena di aku. Selang beberapa adegan kemudian, aku teringat beberapa momen (dan mungkin kebiasaan) antara aku dan Bapak.

Bapak yang tiap dini hari memastikan aku terselimuti *kalau enggak, biasanya aku diselimuti*
Bapak yang tiap dini hari mengecek lampu kamarku sudah mati atau belum *kalau masih terang, Bapak yang mematikan lampu*
Bapak yang ingin menghabiskan banyak waktu denganku
Bapak yang tiap aku akan pergi ke Bandung subuh-subuh selalu berusaha untuk mengantarkan aku ke pool travel
Bapak yang sering mengingatkanku untuk berdoa
Bapak yang mengecam laki-laki yang membuatku menangis (ini baru pertama kejadian kok HEHE)
Bapak yang selalu tersirat memberikan nasihat dalam berorganisasi
Bapak yang pernah menghentikan rapat gara-gara aku mau dioperasi
Bapak yang selalu aku panggil "Daddy Baymax"
Bapak yang membiarkanku ditempa oleh Yang Mahakuasa dan semesta namun tetap diperhatikan.
Bapak yang mungkin sebentar lagi memergokiku begadang dan dengan nada agak tinggi memintaku segera tidur
Bapak yang sering memintaku membuatkannya kopi hitam kental tanpa gula
Bapak yang sering memintaku memanaskan air dan menuangkannya di ember untuk mandi

Bapak yang menyayangiku.


Lalu di akhir, lagu yang diawali huruf 'I' kembali berputar. Penyanyinya Aerosmith.

I Don't Wanna Miss A Thing

Mari kita mundur ke detik persis sebelum Judith menyentuh judul film Armageddon di ponsel untuk ditonton.
Di detik itu, aku masih berpikir dan merasakan bahwa lagu I Don't Wanna Miss A Thing adalah lagu roman dari seorang pria untuk pasangannya.

Maju lagi.
Setelah menonton film itu, pandanganku terhadap lagu ini meluas. Bisa jadi, lagu ini adalah lagu yang menggambarkan paduan perasaan seorang Ayah kepada anak perempuannya dan perasaan seorang pria yang ingin menjadikan anak perempuan itu pasangan hidupnya. Dalam film ini dapat disederhanakan menjadi paduan perasaan Harry Stamper dan A.J kepada Grace Stamper. Bisa dilihat di akhir film, lagu ini diputar mengiringi beberapa adegan dengan Grace Stamper sebagai sorotan utamanya. Ditambah lagi, jika aku perhatikan, poster film Armageddon terpampang 3 tokoh yakni Harry Stamper, A.J, dan Grace Stamper.

Back to the song I'm talking about, I humbly think that the whole lyrics are very related to lover generally and some of it can be related to Daddy-daughter relationship.


Tidak menutup kemungkinan loh kalau lagu Aerosmith yang satu ini dituliskan untuk hubungan-hubungan lainnya secara umum, bahkan yang melampaui batas. Tapi sekali lagi maafkan aku kalau dalam tulisanku ini hanya ingin mengaitkannya pada hubungan seorang ayah dengan putrinya.

*****

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping, while you're far away and dreaming

Well, meskipun kemungkinannya sangat mengawang tapi bisa jadi ada beberapa menit waktu sang Ayah untuk menengok putrinya yang sudah tidur. Dia berdiri di sisi tepi tempat tidur putrinya dan mungkin saja di saat itu, sang Ayah tersenyum memandangi putrinya yang terlelap dengan senyum di wajahnya.

I could spend my life in this sweet surrender. I could stay lost in this moment forever
Well, every moment spent with you is a moment I treasure

I don't wanna close my eyes, I don't wanna fall asleep
'Cause I'd miss you, baby and I don't wanna miss a thing

Adalah suatu kemungkinan kalau seorang Ayah tidak ingin melewatkan momen besar putrinya. Kalau di film Armageddon, Harry mengatakan ingin sekali mendampingi Grace ketika berjalan ke altar saat pernikahan Grace dengan A.J. Bahkan di saat terakhirnya, Harry Stamper mengabadikan wajah Grace, putrinya, sebagai wajah terakhir yang ia pandangi sebelum mengorbankan diri. Kalau dari pengalamanku, Bapak sangat ingin hadir di seminar proposalku kemarin namun karena ada rapat penting, Bapak tidak bisa hadir. Bahkan bisa-bisanya si Bapak curhat ke Ibu, "Itu seminarnya Judith nggak bisa diundur ya?".
Lalu aku juga tertarik dengan frasa 'sweet surrender'. Mungkin saja, ada ketulusan dan keikhlasan seorang ayah yang mati-matian banting tulang demi kebahagiaan dan kebaikan putrinya. Suatu bentuk pengorbanan, yang menurut aku pribadi, biarpun menguras keringat tetapi tak menuntut balas demi senyum bahagia,
*****

A dad is someone who is a daughter's first love (- Anonymous)

*****
Gara-gara film ini, aku menjadi mendapat suatu pandangan baru. Sepengalaman aku dan seingat aku, kebanyakan teman-temanku yang laki-laki menginginkan anak perempuan. Yha mungkin ingin mengalami bagaimana memiliki dinamika hubungan antara ayah dan anak perempuannya.


Yap sekian tulisanku yang mengulas film Armageddon dan lagu I Don't Wanna Miss A Thing. Memang tidak ada data, tidak ada kesimpulan, dan tidak bisa seenaknya dikaitkan.
Dan perlu diingat, makna sebenarnya dari film maupun lagu ini hanya si penulis lagu dan penulis cerita ini yang tahu, itupun ketika dalam proses membuatnya.
Tapi aku sudah menyelesaikannya dan tidak menyesalinya. Malah cukup menikmatinya :)


Terima kasih telah membaca tulisan ini.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur :)
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati kita


Salam dari yang pandangannya dan perasaannya meluas ketika mendengar lagu I Don't Wanna Miss A Thing,
Maria Paschalia Judith Justiari

Kamis, 26 Mei 2016

Begitu Cepatnya Evaporasi Ini!

evaporasi/eva·po·ra·si/ /évaporasi/ n 1 proses yang terjadi apabila jumlah molekul yang keluar dari permukaan lebih besar daripada jumlah yang kembali ke permukaan air; 2 Kim proses perubahan molekul zat cair menjadi gas atau uap air; penguapan


Bandung, 27 Mei 2016

Oh hai pembaca!
Tampaknya ini tulisan pertamaku di 2016. Huhuhu lama tidak menulis :(
Rasa-rasanya jadi kaku begini :(

Tulisan inipun tampaknya singkat dan tak beraturan. Bisa jadi juga antar paragrafnya tak berkaitan. Tapi tak apa.

1. Loh kenapa tak apa, Dith?
Aku merasa seminimal-minimalnya apapun yang aku pikirkan, rasakan, dan terinteraksikan perlu dituliskan. Evaporasi dalam diriku benar-benar begitu cepat! Terutama evaporasi dalam dimensi karsa, rasa, dan indera. Ada 3 hal yang aku renungkan selama seminggu ini. Dan detik ini, yang masih menggaung tinggal 1. Dua lainnya menguap. Sambil mengingat-ingat dua lagi, aku catat dulu yang masih nongkrong di otakku ini.
"Jangan-jangan suatu ketidaktahuan merupakan pengetahuan."

2. Tadi siang di angkot
Seperti biasa, ke mana-mana aku cenderung menggunakan angkot. Kali ini aku memperhatikan suatu percakapan dalam angkot jurusan Margahayu - Ledeng.
Ada seorang ibu bersama 2 anaknya, laki-laki dan perempuan. Tampaknya anak laki-laki si ibu ini masih di bawah lima tahun sedangkan anaknya yang satu lagi di atas lima tahun. Bocah kecil itu bertanya pada kakaknya yang sibuk dengan ponselnya, "Kak, itu apa, Kak?" sambil menunjuk-nunjuk. Khas anak kecil, gumamku. Sayangnya si kakak tidak menggubris dan masih asyik dengan ponselnya.
Tidak puas karena tak mendapat jawaban, si adik menarik-narik lengan kakaknya sambil mengulang pertanyaan, "Kak, itu apa?". Si kakak hanya melirik adiknya sepintas lalu kembali memainkan ponselnya.
Akhirnya, si adik langsung membalikkan badan ke ibunya dan mengajukan pertanyaan yang sama, "Bu, itu apa?". Sambil tersenyumnya, sang ibu menjelaskan pada anak laki-lakinya, "Itu lampu, Nak." Kemudian percakapan mengenai lampu antara ibu dan anak kecil itu mengalir begitu saja sampai aku turun dari angkot. Sedangkan si kakak masih asyik dengan ponselnya.
Gara-gara memperhatikan kejadian tadi, aku jadi mempertanyakan diriku sendiri. Apakah ketika aku di samping adikku, aku sering mengabaikan adikku dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan ponselku? Apakah aku selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan sesederhana apapun itu yang dilontarkan adikku? Apakah aku sering membangun percakapan yang mengalir dengan adikku?

Hmmmmm
Untuk adikku, semangat SBMPTN yaa!! Ku doakan keberhasilan dan restu Yang Mahakuasa menyertai dirimu.. Amin.!


Terima kasih telah membaca tulisan ini
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur yaapss :3
Semoga Yang Mahakuasa senantiasa memberkati

Salam dari yang menjaga karsa dan rasanya dari evaporasi,
Maria Paschalia Judith Justiari