Ini kata-kata Ibu. Ini kalimat yang dilontarkan Ibu.
Ibu saya. Ibu saya yang cantik dan manis.
Mari saya perjelas percakapan saya dengan ibu.
Asam Format.
Di tengah khusyuknya belajar kimia, saya menemukan soal mengenai asam format. Berhubung rasa malas menghantui, saya jadi malas membuka buku dan mencari rumus asam format. Alhasil, saya bertanya pada Ibu.
----------------------------------------------------------------
J: "Bu, asam format rumus kimianya apa?"
I: "Aduh, lupa Dith."
..................
I: "Dith, Ibu inget!"
J: (lari mendekati Ibu) "Apaan Bu?"
I: "As.F2MT bukan?"
J: (syok)
................
J: "Bu..........Judith gak kuat, Bu. Jangan lawak ah, ga kuat...."
I: "Lah? Kan Ibu nggak minta gendong"
-______________-
*rumus kimia asam format versi Ibu saya: As.F2MT
-----------------------------------------------------------------
Kejutan untuk Bapak
8 Maret 2011 (tepatnya hari ini) Bapak berulang tahun ke 47. Kemarin pas tanggal 7, saya membicarakan kejutan untuk Bapak. Tiba-tiba Bapak menelepon Ibu. Percakapan terjadi setelah Bapak memutuskan hubungan teleponnya.
-----------------------------------------------------------------
I: "Dith, Bapak nanya mau apa besok?"
J: "Ha? Serius?"
I: "Iya. Mau ditraktir apa?"
J: (senyum girang) "Kamera baru!"
I: "Ih, dasar anak nggak tau diri. Ada juga kamu yang ngasih bapak kado mahal."
J: "Yaaaaaah.... Terus?"
I: "Ke Es Teler 77 aja! Kan restoran keluarga."
*fakta: Bagi Bapak, apapun mall nya dan di manapun dia berada, makannya harus di Es Teler 77
J: "Ogaaah!!"
I: "Dih, kan ulang tahun Bapak. Kok kamu yang sewot?"
J: "Eh Bu, besok Judith kasih surprise ke Bapak aja ya?"
I: "Boleh. Gimana?"
J: "Judith dateng ke kantor Bapak terus nyanyi di depan kantor."
I: "Aduuuh jangan, Nak! Nanti kamu diusir sama satpam. Terus Bapak nggak ngakuin kamu sebagai anak. Bikin malu keluarga itu maaah."
J: "............."
-____________-
------------------------------------------------------------------
Begitulah percakapan saya dengan ibu. Mohon dimaklumi.
Tapi apapun yang terjadi, saya sayang pada ibu
=D
God bless!
Best regard,
Maria Paschalia Judith Justiari
Sekumpulan cerita yang disaksikan mata, didengarkan telinga, dikecap lidah, disentuh kulit, dihirup hidung, dialami raga, dan dirasakan jiwa. Sekumpulan cerita yang ditulis apa adanya tanpa dibuat-buat oleh penulis. Sekumpulan cerita yang tak bermaksud puitis karena penulis bukan sastrawan. Sekumpulan cerita yang siap sedia dibaca oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Tampilkan postingan dengan label Kreativitas Ibu Saya (yang kelewatan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreativitas Ibu Saya (yang kelewatan). Tampilkan semua postingan
Selasa, 08 Maret 2011
Jumat, 14 Januari 2011
Sekedar Obrolan
Ibu dan saya
Saya: *ngambek, uring-uringan*
Ibu: "Udahlah Dith, jelek itu mukanya kalo lagi marah."
Saya: "Yang salah kan si Joe! Siapa suruh main PS mulu! Masa' copy-paste aja nggak bisa."
Ibu: "Makanya kamu ajarin dia"
Saya: "Males"
Ibu: "Eh kamu tau ga? Orang gaptek bisa aja lebih jago dari hi-tech"
Saya: "Maksud?"
Ibu: "Ibu lulus kuliah hukum berkat topik internet. Ibu udah meneliti cyber crime sejak sebelum kamu lahir. Terbukti kan, sekarang banyak cyber crime di dunia maya?"
Saya: ..................................
Ibu: "Jangan menilai orang dari luarnya, Dith. Kuno, tapi memang bener. Siapa yg nyangka ibu yg ga ngerti nyolok kabel modem bisa sukses karena penelitian internet? Jangan suka ngremehin orang makanya"
******
Ibu: "Jalur mandiri ITB dihapus lho, Dith,"
Saya: "Yaaaaah... Terus Judith gimana?"
Ibu: "Katanya Jerman."
Saya: "Prospek pendidikan di Jerman masih kalah sama Inggris."
Ibu: "Di manapun kamu kuliah, nanti kita bertemu di Paris yaa"
Saya: "Hah?"
Ibu: "Kamu kuliah di Eropa, Joe kuliah perhotelan di Swiss. Martin (sepupu Judith) ngebet kuliah di Amerika. Jadi bisa kan kita ketemu di Paris?"
Saya: *dalam hati* "Amin.!"
You're an unbeatably super woman, Mom! We'll meet in Paris someday, when my name is known by world. Amen.!
=D
God bless!
Warmly regards,
Maria Paschalia Judith Justiari
Saya: *ngambek, uring-uringan*
Ibu: "Udahlah Dith, jelek itu mukanya kalo lagi marah."
Saya: "Yang salah kan si Joe! Siapa suruh main PS mulu! Masa' copy-paste aja nggak bisa."
Ibu: "Makanya kamu ajarin dia"
Saya: "Males"
Ibu: "Eh kamu tau ga? Orang gaptek bisa aja lebih jago dari hi-tech"
Saya: "Maksud?"
Ibu: "Ibu lulus kuliah hukum berkat topik internet. Ibu udah meneliti cyber crime sejak sebelum kamu lahir. Terbukti kan, sekarang banyak cyber crime di dunia maya?"
Saya: ..................................
Ibu: "Jangan menilai orang dari luarnya, Dith. Kuno, tapi memang bener. Siapa yg nyangka ibu yg ga ngerti nyolok kabel modem bisa sukses karena penelitian internet? Jangan suka ngremehin orang makanya"
******
Ibu: "Jalur mandiri ITB dihapus lho, Dith,"
Saya: "Yaaaaah... Terus Judith gimana?"
Ibu: "Katanya Jerman."
Saya: "Prospek pendidikan di Jerman masih kalah sama Inggris."
Ibu: "Di manapun kamu kuliah, nanti kita bertemu di Paris yaa"
Saya: "Hah?"
Ibu: "Kamu kuliah di Eropa, Joe kuliah perhotelan di Swiss. Martin (sepupu Judith) ngebet kuliah di Amerika. Jadi bisa kan kita ketemu di Paris?"
Saya: *dalam hati* "Amin.!"
You're an unbeatably super woman, Mom! We'll meet in Paris someday, when my name is known by world. Amen.!
=D
God bless!
Warmly regards,
Maria Paschalia Judith Justiari
Sabtu, 14 Agustus 2010
Manipulasi dan Kamuflase
Demi apapun! Pelakunya bukan gue! Melainkan ibu kandung gue.
Ibu gue melakukan manipulasi dan kamuflase yang untungnya nggak perlu dibawa sampai ke meja hijau.
Perhatikan kisahnya baik-baik!
Suatu siang yang cerah (baca: terik, panasnya nyengat), gue baru balik dari sekolah dengan tampang ceria (suram). Pas turun dari ojek, gue memandang sekitar. Ternyata semua rumah sudah memasang bendera merah-putih.
Contoh: (tetangga depan)
Nih fotonya tampak depan:
Lanjut. Gue pun serta-merta kaget dan menggelengkan kepala. Ternyata di balik bendera yang berkibar penuh semangat di halaman rumah gue tersimpan rahasia kreativitas ibu gue. Biar jelas, nih fotonya tampak belakang:
Alamaaaaakk?! Ibu gue melakukan kamuflase dan manipulasi yang berlandaskan kreativitas. Liat noh hasil kreativitas ibu gue: KURSI BAKSO DIJADIKAN PENYANGGA TIANG BENDERA
-________-
Usut punya usut, gue bertanya pada Mbak Sri tentang apa yang terjadi di halaman rumah gue. Mbak Sri pun menceritakannya
- Percakapan antara Ibu gue (I) dan Mbak Sri (S) –
S: ”Tiangnya mau ditaro mana, Bu?”
I: “Di halaman lah, Sri”
S: “Iya tau, di mananya?” (jengkel)
I: “Di tanahnya.” (berjalan menuju TKP)
S: “Ga ada pasak, Bu. Ga bisa nancepin tiangnya.”
I: “Oooh.. Bentar..” (masuk ke rumah)
S: ”Bu.........?” (tampang bingung)
I: ”Pake ini aja kalo gitu” (membawa kursi bakso warna biru dengan bangga)
S: (bengong)
I: (meletakkan tiang bendera ke lobang kursi bakso)
S: (masih bengong)
I: ”Makanya, jadi orang itu kreatif, Sri”
S: ”Kalo ibu mah kelewat kreatif.”
Yak! Ibu gue terbukti melakukan kamuflase dan manipulasi. Heran gue, kok bisa kepikiran pake kursi bakso ya??
Hari ini tepatnya Sabtu, 14 Agustus 2010, tiang bendera di rumah gue sudah normal. Mungkin karena kursi baksonya mau dipake.
nih foto yang sudah normal:
MERDEKAAA!!
Salam,
Maria Paschalia Judith Justiari
Ibu gue melakukan manipulasi dan kamuflase yang untungnya nggak perlu dibawa sampai ke meja hijau.
Perhatikan kisahnya baik-baik!
Suatu siang yang cerah (baca: terik, panasnya nyengat), gue baru balik dari sekolah dengan tampang ceria (suram). Pas turun dari ojek, gue memandang sekitar. Ternyata semua rumah sudah memasang bendera merah-putih.
Contoh: (tetangga depan)
Hati dan semangat gue langsung berkoar-koar memandang Sang Merah Putih berkibar di udara sepanjang jalan perumahan gue. Rumah gue juga udah memajang bendera Indonesia.
Nih fotonya tampak depan:
Lanjut. Gue pun serta-merta kaget dan menggelengkan kepala. Ternyata di balik bendera yang berkibar penuh semangat di halaman rumah gue tersimpan rahasia kreativitas ibu gue. Biar jelas, nih fotonya tampak belakang:
Alamaaaaakk?! Ibu gue melakukan kamuflase dan manipulasi yang berlandaskan kreativitas. Liat noh hasil kreativitas ibu gue: KURSI BAKSO DIJADIKAN PENYANGGA TIANG BENDERA
-________-
Usut punya usut, gue bertanya pada Mbak Sri tentang apa yang terjadi di halaman rumah gue. Mbak Sri pun menceritakannya
- Percakapan antara Ibu gue (I) dan Mbak Sri (S) –
S: ”Tiangnya mau ditaro mana, Bu?”
I: “Di halaman lah, Sri”
S: “Iya tau, di mananya?” (jengkel)
I: “Di tanahnya.” (berjalan menuju TKP)
S: “Ga ada pasak, Bu. Ga bisa nancepin tiangnya.”
I: “Oooh.. Bentar..” (masuk ke rumah)
S: ”Bu.........?” (tampang bingung)
I: ”Pake ini aja kalo gitu” (membawa kursi bakso warna biru dengan bangga)
S: (bengong)
I: (meletakkan tiang bendera ke lobang kursi bakso)
S: (masih bengong)
I: ”Makanya, jadi orang itu kreatif, Sri”
S: ”Kalo ibu mah kelewat kreatif.”
Yak! Ibu gue terbukti melakukan kamuflase dan manipulasi. Heran gue, kok bisa kepikiran pake kursi bakso ya??
Hari ini tepatnya Sabtu, 14 Agustus 2010, tiang bendera di rumah gue sudah normal. Mungkin karena kursi baksonya mau dipake.
nih foto yang sudah normal:
MERDEKAAA!!
Salam,
Maria Paschalia Judith Justiari
Selasa, 23 Maret 2010
Resolusi Terbaru dalam Dunia Koki: DUREN KUKUS HANGAT
Alkisah.
Gw pengen banget ngemil di sore hari. Semua makanan udah lenyap dalam perut gw.
Gw pun menelusuri kulkas gw. Hohoho, akhirnya di freezer gw menemukan sekotak duren tak berdosa.
Gw pun mengambil tuh duren layaknya singa lapar.
Sayangnya..
Tuh duren beku.. Bener-bener beku dan keras. Seperti biasa, karena naga di perut gw udah teriak-teriak ga karuan, gw pun hanya bisa ngadu ke ibu tercinta.
Tanggapan ibu gw pun luar biasa (over-creative nya mulai dah). Ibu gw memberi inspirasi dalam dunia masak-memasak dengan berkata:
"Durennya dikukus saja!!"
Gw shock. Ibu gw dengan senyum menantang mengambil sekotak duren dari tangan gw. Gw langsung ilfil dan meninggalkan ibu gw berkreasi dengan duren yang tak bersalah itu.
Beberapa menit kemudian, ibu gw berteriak: "Udah jadi, dith! Cobain nih! Enak tauu!"
Gw memandang tuh duren.. Berjuta tanya menari di pikiran gw.. Duren kukus? Duren hangat? Kayak apaan tuu?
Naga di perut gw udah ga bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya dengan setengah hati, gw ngambil tuh duren dan mencicipinya.
Lidah gw pun menyentuh tuh duren.. Kesan pertama: ENAK BANGET TO THE MAX!!
Tuu duren bener-bener kerasa..
Ibu gw manggut-manggut puas..
Gw pun nambah ampe 3duren..
Inilah foto dari Duren Kukus Hangat
Cukup menarik bukan? Tertarik untuk mencicipi? Make it by yourself!! Hehehe
GBU always..
Salam, Judith
Langganan:
Postingan (Atom)


