Sabtu, 14 Maret 2015

Sekelebat Memori tentang Pemilu

Maret! Maret selalu menjadi bulan favorit saya selama ini. Entah kenapa peristiwa-peristiwa di bulan Maret selalu membawa saya pada suatu refleksi yang terus terngiang-ngiang dalam relung benak saya.

Maret tahun ini pun telah memulai aksinya dalam menambah peristiwa-peristiwa semacam itu. Tanggal 13 Maret 2015, saya tengah duduk di Sekretariat KMK ITB – medan magnet terbesar bagi saya selama saya di ITB. Mata saya tertuju pada kertas berwarna cokelat tertempel di kaca.

‘Pendaftaran ketua KMK tinggal 4 hari lagi…’

Saya tersenyum. Sebentar lagi periode Badan Pengurus KMK ITB 2014/2015 berakhir. Tanpa sengaja saya mengingat masa Pemilu Ketua KMK ITB tahun lalu. Bagi saya, masa itu membuat saya merasa dicintai dan dipercaya lalu cinta dan kepercayaan tersebut menjadi bensin bagi saya untuk berjuang.

Di masa Pemilu yang saya lalui tahun lalu ada hal yang membuat saya merasa pusing tujuh keliling. Bukan perihal visi-misi, bukan perihal kampanye, bukan perihal program kerja, bukan perihal organigram.

MOTIVASI.

Inilah yang membuat saya pusing karena tak kunjung saya temukan pada masa itu. Apa motivasi saya mencalonkan diri menjadi ketua KMK ITB? Apa yang mendasari keinginan saya?

Saya akan menceritakan secara jujur dan terbuka mengenai masa-masa pengumpulan berkas calon ketua KMK ITB. Berkas pendaftaran calon ketua KMK ITB bukan saya yang mengambil. Saya mengisi berkas pendafataran milik sobat saya yang kini menjadi salah satu Kepala Bidang. Dari lima promotor, ada yang asalnya mau mencalonkan diri menjadi ketua KMK ITB namun akhirnya malah menawarkan diri untuk menjadi promotor saya. Lembar dukungan pun saya banyak sekali dibantu masa KMK ITB. Beberapa dari masa KMK ITB membawa dan menemani saya ke sana kemari untuk memenuhi lembar dukungan walaupun mereka bukan promotor maupun tim sukses saya. Mengumpulkan keseluruhan berkas pun pada pukul 17.58 padahal tenggat waktunya pukul 18.00. Bahkan, saya baru menyadari ternyata saya mencalonkan diri menjadi ketua KMK ITB ketika pengumuman calon ketua yang lolos verifikasi berkas.

Setidak tahu itu saya pada motivasi saya mencalonkan diri menjadi ketua KMK ITB. Akibatnya, saya terus-menerus mencari motivasi saya sampai menghabiskan waktu setengah masa kampanye.

Bagi saya, motivasi ini sungguh menjadi penting ketika saya melayani KMK ITB sebagai ketua. Saya yakin, mungkin ada waktu saya akan jatuh ketika melayani KMK ITB ini. Ketika saat tersebut datang pada saya, saya tidak mau melarikan diri dari tanggung jawab. Saya sadar saya hanya cukup bergantung pada Yang Mahakuasa dan diri saya sendiri untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan pelayanan saya. Bagi saya, cara paling mudah untuk membangkitkan diri saya sendiri adalah menggaungkan motivasi saya menjadi ketua KMK ITB.

Akhirnya pada satu titik di tengah masa kampanye, saya berhenti bertanya-tanya apa yang menjadi motivasi saya. Ya, saya berhenti mencari motivasi saya. Di titik itu pula saya memutuskan untuk membuka diri selebar-lebarnya kepada kepemimpinan Yang Mahakuasa dalam melakukan segala hal yang terbaik untuk KMK ITB.

Bulan demi bulan berlalu. Di tengah saya menjadi ketua KMK ITB, saya benar-benar mengalami masa jatuh. Tak disangka-sangka, justru di saat itulah akhirnya saya menyadari motivasi saya. Ternyata ini semua karena saya begitu menyayangi KMK ITB dan karena saya begitu mensyukuri cinta Yang Mahakuasa pada saya.

Begitu saya menyadari motivasi ini, saya langsung mengabadikannya. Sampai detik ini pun, motivasi tersebut terus menyala dalam keseluruhan diri saya. Motivasi inilah yang membuat saya selalu berjuang lebih dan lebih.



Agar setiap bangun pagi dan sebelum tidur, saya menyegarkan setiap bagian diri saya untuk berintegrasi dan berjuang mewujudkan visi, misi, dan janji dalam suatu motivasi teguh.



Visi saya selalu terpatri dalam diri saya.
Kalau tak sengaja bertemu saya, tanyakan saja apa visi yang saya bawa untuk KMK ITB. Dengan senang hati, saya akan menjawab dengan yakin, "KMK ITB sebagai paguyuban yang saling terbuka untuk bergerak bersama." 



Janji yang saya ucapkan di dalam Misa Kudus. Janji yang saya buat dengan Yang Mahakuasa dan KMK ITB.
Tak lupa, motivasi yang mendasari saya berjuang lebih dan lebih dalam melayani KMK ITB.
Semoga motivasi ini pun membuat saya menepati janji ini.


Kini, masa Pemilu KMK ITB untuk ketua periode 2015/2016 tengah berlangsung. Saya memutuskan untuk membuka diri lebih lebar lagi di masa Pemilu ini, terutama bagi mereka yang membuka dirinya untuk menjadi panitia pelaksana, calon ketua, promotor, tim sukses, Badan Pengurus, dan masa KMK yang mengkritisi, memberi saran, masukan, bahkan sekadar curhat perihal KMK ITB. Dari keterbukaan saya selama di masa Pemilu yang berlangsung ini, saya tersentuh dengan ketulusan mereka untuk berjuang lebih bagi KMK ITB. Meskipun ketulusan itu tidak mereka sadari. Entah kenapa saya merasa suatu kondisi penuh cinta dalam KMK ITB ini (intermezzo: penuh cinta adalah tagline yang saya gaungkan ketika saya menjadi Kepala Departemen Doa dan Liturgi periode 2013/2014).

Sikap saya untuk membuka diri lebih lebar lagi dalam masa Pemilu ini karena saya ingin ketua KMK ITB berikutnya lebih baik dari saya, kalau perlu jauh lebih baik dari saya. Harapan saya sederhana, KMK ITB semakin maju dan berkembang lebih baik lagi. Semuanya ini karena motivasi saya - karena saya begitu meyayangi KMK ITB.

Bagi saya pribadi, setiap orang terlahir sebagai pemimpin yakni pemimpin bagi dirinya sendiri. Kita hanya perlu membuka diri dalam memimpin diri sendiri untuk memimpin orang lain.

Jujur saja, menjadi ketua KMK ITB adalah salah satu momen yang paling membahagiakan bagi saya. Semoga kita tidak lagi takut dalam memimpin karena memimpin adalah tentang cinta, bukan ketakutan. Jadilah pemimpin dan syukurilah cinta dari Yang Mahakuasa dan semesta.

“Awal keterbukaan dimulai ketika mata bertaut. Saat mata bertaut, bibir dan tulisan bergerak berkata-kata hingga dua pikiran atau lebih saling bertemu dan berkolaborasi. Setelah ada kolaborasi pikiran satu sama lain, ada rasa ingin sering saling bertemu. Di saat itulah ada keterikatan yang mengakar hingga ada kenyamanan antar satu sama lain.” – Maria Paschalia Judith Justiari
#eyes2eyes #mind2mind #heart2heart


Semangat selalu yaps gaess!!
Jangan lupa bersyukur yaa everibadeh ^v^



Salam,
Maria Paschalia Judith Justiari
12812006
Anggota biasa KMK ITB
Anggota biasa HMME “Atmosphaira” ITB

Anggota biasa KPA ITB

Rabu, 11 Maret 2015

Izinkan Saya

Rabu, 11 Maret 2015

Malam!
Kali ini saya masih terduduk menghadap laptop, yang baru selesai diperbaiki, setelah tertawa lepas.
Judul kegiatan kali ini adalah belajar bersama. Bersama duabelas mahasiswa Meteorologi ITB 2012 yang lain, saya berada di dalam ruang berdinding biru dan dinamakan Sekretariat Himpunan Mahasiswa Meteorologi "Atmosphaira" ITB. Kami mengangkat judul belajar bersama dilatarbelakangi besok ujian Metode Prediksi Cuaca Numerik II, sering dipanggil Pemodelan II.



Demi Semester VI yang Lebih Baik :')

Belajar.

Izinkan saya pada malam ini tidak satu kerangka dengan judul kegiatan malam ini.
Saya masih dalam euforia jenaka pada UTS Meteorologi Satelit hari ini. Pagi ini saya habiskan untuk menghafal dan memahami segala tulisan 5 bab materi. Tak disangka-sangka, yang keluar bukan hafalan gambar yang notabene tidak saya sentuh sama sekali.
Saya masih dalam euforia rasa syukur karena laptop saya hari ini sudah kembali pada saya. Tiga hari ini saya luntang-luntung mencari pinjaman laptop. Bahkan saya sempat menyimpulkan, "Ternyata gue lebih butuh laptop daripada pacar HAHA". Bukan apa-apa, ternyata laptop telah menjadi nyawa mahasiswa Meteorologi ITB. Saya hanya bengong ketika mayoritas teman-teman seangkatan saya berhadapan dengan laptop untuk mengerjakan tugas dan belajar. Terutama belajar CBT.... C-B-T :')

Izinkan saya untuk menggaungkan syukur senantiasa dalam diri ini untuk Yang Mahakuasa, baik melalui hening saya, tawa saya, senyum saya, ekspresi saya, tulisan saya, dan seutuhnya diri saya. Jujur, saya cukup panik ketika saya baru menyadari laptop telah menjadi bagian penting bagi mahasiswa Meteorologi ITB. Apalagi mas-mas Asus Service Center mengatakan, "Paling cepat 10 hari". Di hari Senin, saya langsung membatu tiap mengingat kalimat mas-mas Asus Service Center tersebut. Sejak mulai Senin, saya mengemis ke sana kemari mencari pinjaman laptop. Bahkan saya sudah bertekad bulat untuk mencari jasa sewa laptop. Tekad bulat ini didasari pekan deadline dan UTS yang tengah saya lalui.

Izinkan saya bertindak sok tahu. Sungguh saya merasa seolah Yang Mahakuasa sudah mengerti kondisi hari-hari saya. Memang sebelum laptop ini masuk ke Service Center, saya optimis bahwa saya bisa hidup tanpa laptop. Sayang, optimisme ini hanya bertahan beberapa jam. Daaaaannn..... Yang Mahakuasa mengembalikan laptop saya di waktu yang tepat. Tidak tanggung-tanggung, di tengah tiadanya laptop saya, Yang Mahakuasa memberi kesempatan pada saya untuk seproduktif mungkin meskipun tanpa laptop. Bukan hanya itu, saya belajar bersyukur diperbolehkan memiliki laptop yang menunjang perkuliahan dan hidup pribadi saya. Benar-benar ada sesal yang menohok karena saya tidak menjaga salah satu nikmat yang diberi Yang Mahakuasa berupa laptop ini.


Di hari ini pun, saya diizinkan untuk belajar menjaga dan merawat laptop saya.


Izinkan saya berterima kasih dan bersyukur.
Terutama pada Yang Mahakuasa dan semesta :')


Terima kasih telah membaca tulisan ini
Semangat selalu!
Jangan lupa bersyukur yaapss ^v^

Tuhan memberkati


Salam dari yang minta izin,
Maria Paschalia Judith Justiari