Rabu, 24 September 2014

Over-imagining | Clarity

Well, recently I like to answer some questions in ask.fm

And now, my post will tell you about a little bit of my ask.fm account.

So one day, I got a daily question in ask.fm
Here's the question and my answer. <= *please, click it*

In my answer, there are 3 songs and for each song, I inserted the video clip also I typed my favorite lyric and my comment about the song.
If you pay attention at the details, in the third song, I just typed "Enough said :)))" as my comment.
.
.
.
.
.
It's just because.............................
That lyric represents what I'm feeling right now.


"Cause you are the piece of me I wish I didn't need

Chasing relentlessly, still fight and I don't know why
If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?"


Yep, it's enough said.
:''''')))
I totally consider that moving on from someone or something is a hard thing to do :''''
*****

Anyway, please kindly ask me at ask.fm/justiari
I will reply (but I don't promise if I will reply as soon as possible hehehe)
:p
Ah ya, please forgive me for the bad English.. I'm still learning by the way.

Cheers!
Don't forget to be grateful!
God bless you all..


Regards,
The one who represents her feeling by some lines in Clarity lyric,
Maria Paschalia Judith Justiari

Filosofi Anak Kecil dalam Taman Bermain Berpagar Kawat Duri

Seorang anak kecil sudah selayaknya gemar bermain.
Kala dia telah melihat taman bermain di depan matanya, dia langsung berlari menuju taman bermain tersebut.
Tanpa peduli bahaya apa yang mengancamnya, anak kecil itu akan tetap berlari ke sana.

Di waktu ini, anak kecil itu bermain dengan riang bermain di taman bermain.
Semua tampak normal, semua tampak biasa saja.
Sampai di saat mata ini memandang lebih luas lagi.
Mata akan menangkap potret kawat duri yang menjadi pagar taman bermain itu.
Dan diingatkan lagi. Anak kecil itu bermain di dalam taman bermain berpagar kawat duri.

Namanya juga anak kecil.
Dia hanya menengok sekilas ke sekelilingnya.
Tak peduli kawat duri itu akan menggores kulitnya hingga berdarah, dia tetap bermain dengan riang di sana.
Anak kecil itu pun mencoba di permainan ini itu, berlari ke sana ke mari di dalam taman bermain.
Dia tak peduli kawat duri di sekitarnya mampu melukainya.
Dia tak peduli.

Sama seperti aku.
Aku telah membiarkan diriku seperti anak kecil itu.
Aku pikir, aku cukup hati-hati.
Tapi mungkin Yang Mahakuasa dan semesta memandangku seperti anak kecil itu.

*****

Terima kasih telah membaca tulisan ini.

Tuhan memberkati.


Salam dari yang tampak seperti anak kecil dalam taman bermain berpagar kawat duri,
Maria Paschalia Judith Justiari