Senin, 18 Mei 2015

Pengembara Tak Suka Gurun

Pada gurun, Pengembara tak temukan satupun pohon rindang.
Pada gurun, Pengembara bertengkar dengan dirinya sendiri di tiap langkah sepanjang perjalanannya.
Pada gurun, Pengembara muak terhadap segala dinamika hidupnya.
Pada gurun, Pengembara tak temukan makna bersyukur dan bahagia meski telah bersusah payah menyelaminya.
Pada gurun, Pengembara hanya melihat sisi negatif hidup.
Pada gurun, Pengembara terlalu dehidrasi dan tak sanggup berlari meraih pohon rindangnya.

Gurun itu adalah nama dari momen yang membuat Pengembara menyalahkan dirinya sendiri dan membenci dirinya sendiri.
Gurun itu adalah nama dari momen yang membuat Pengembara menangis menjerit dan makin menjerit karena menyadari yang mendengarkannya hanya dirinya sendiri dan Yang Diterawang.
Gurun itu makin menjadi-jadi ketika ada momen atau perkataan yang semakin membuat Pengembara membenci dirinya sendiri.

Gurun itu gurun.

Walau ada harap bagi Pengembara, bahwasanya gurun dapat menyenangkan. Bahwasanya ada momen kala Pengembara bersyukur ketika dia di gurun.
Ah ya benar.
Mungkin sudah saatnya Pengembara bersimpuh rata dengan pasir di gurun. Mengucap syukur pada Yang Diterawang, menguatkan dirinya sendiri, bahkan kalau perlu menyenangkan dirinya sendiri minimal dengan kebahagiaan semu.
Ah ya, mungkin memang itu saatnya.

Kini Pengembara bersimpuh dalam frustasi sendirian. Teriakannya keras namun gurun itu membuat segalanya hening. Harapnya tak hanya Yang Diterawang yang mendengarkan.
Tolong.


Terima kasih telah membaca tulisan ini
Meskipun Pengembara juga masih sulit melakukannya tapi izinkan Pengembara berucap, jangan lupa bersyukur.

Yang Diterawang senantiasa memberkati.



Salam dari Pengembara yang tengah sendiri di gurun,
Maria Paschalia Judith Justiari

Minggu, 03 Mei 2015

Pernahkah Kamu Membangun Tembok Berpintu?

Pernahkah kamu mendirikan tembok hanya untuk melindungi dirimu sendiri?
Lalu kamu meletakkan pintu kokoh di sana agar tetap bisa memandang panorama dunia namun dirimu terlindungi di balik tembok
Lalu seiring dengan pendirian tembok itu, perasaanmu untuk mengenal cinta kepada satu sosok ciptaan Yang Mahakuasa kamu sembunyikan dan tak lagi kamu acuhkan agar dirimu terlindungi dari sakit hati
Lalu pada hari-hari berikutnya kamu memang hanya sedikit tersakiti tapi sayangnya kamu lebih banyak menyakiti orang lain
Lalu setelah kamu menyadari telah menyakiti banyak sosok, kamu hanya bisa menyesal meskipun dirimu hanya sedikit tersakiti
.....
Lalu pada suatu hari pintu pada tembok itu rusak karena didobrak
Lalu perasaanmu yang telah lama mati suri mulai terusik, mulai dari kupu-kupu yang entah mengapa membuat perutmu terasa aneh untuk sesaat
Lalu perasaan yang kamu sambut pertama kali adalah rasa yang samar
Lalu ada perasaan yang tak kamu harapkan datang menyerangmu
Lalu kamu hanya bisa diam dan matamu hanya bisa menjadi jalan air matamu pergi meninggalkan tubuhmu
Lalu kamu berdoa, berserah diri pada Yang Diterawang
Lalu kamu memutuskan hal yang paling sederhana - menjalani semuanya tanpa pertanyaan dan permintaan
Lalu kamu tersenyum tipis berusaha meyakini keputusanmu adalah keputusan yang tepat
Lalu semuanya bersambung, belum tahu ke mana jalan yang ditempuh membawamu
Pernahkah?


Ps: di sini Pengembara mulai membangun tembok kokoh berpintu yang dia harapkan bisa melindungi dirinya

Semangat selalu!
Jangan lupa bersyukur yaps

Terima kasih telah membaca tulisan ini
Tuhan memberkati.

Salam dari yang membangun tembok kokoh berpintu dan tengah melaluinya,
Maria Paschalia Judith Justiari