Jumat, 27 Juni 2014

Mengganti Judul

Sebelum:




Sesudah:




*****
Dari "Kegembiraan dan Distorsi" ke "Cerita Indera"


Mengapa "Cerita Indera"...?
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada yang masih abu-abu di antara kegembiraan dan distorsi.
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada berbagai macam hal yang tidak tergolong kegembiraan maupun distorsi.
Karena saya sadar, dalam hidup saya ada indera yang menerjemahkan suatu cerita ke dalam kegembiraan atau distorsi. Ya, kegembiraan maupun distorsi bergantung sudut pandang indera.
Karena indera diri saya melalui berbagai macam cerita, entah nyata maupun khayal.

Cerita Indera.
Sekumpulan cerita yang disaksikan mata, didengarkan telinga, dikecap lidah, disentuh kulit, dihirup hidung, dialami raga, dan dirasakan jiwa.
Sekumpulan cerita yang ditulis apa adanya tanpa dibuat-buat oleh penulis.
Sekumpulan cerita yang tak bermaksud puitis karena penulis bukan sastrawan.
Sekumpulan cerita yang siap sedia dibaca oleh siapapun, kapanpun, dan di manapun.

Selamat menikmati suguhan Cerita Indera :)


Terima kasih.
Tuhan memberkati.

Salam dari pemilik blog yang baru mengganti judul menjadi 'Cerita Indera',
Maria Paschalia Judith Justiari

Filosofi Angin --- Kata Orang, Cinta Itu Kayak Angin #bukanpostinggalau

-Diketik tanggal 27 April 2014 -

Broh bray
Orang-orang banyak yang berkata dan berpendapat kalau cinta itu kayak angin.
Sebagai mahasiswi (yang berusaha keras mempelajari) meteorologi, nih dah gue kasih tau aja salah satu hal tentang angin.

Angin telah menjadi aspek penting di meteorologi. Bisa dibilang, sebagian besar pembahasan di ilmu meteorologi yang menyangkut angin.
Salah satunya ini bray:





Jadi di atas, gue punya data kecepatan angin zonal (notasi: U, satuan: m/s) dalam periode waktu tertentu (notasi: t, satuan: menit) di waktu tertentu (dimulai dari 14.58 dan acuan pengamatan pukul 15.00).
Nah, dari data itu, gue diminta mencari nilai kecepatan angin zonal rata-rata dan angin meridional rata-rata.

Hmmmm... Biar nggak bingung, gue jelasin sebisanya yaa apa itu angin zonal dan angin meridional. Angin zonal itu komponen angin yang bergerak sepanjang barat-timur atau sebaliknya, sedangkan angin meridional itu komponen angin yang bergerak sepanjang utara-selatan atau sebaliknya.
Angin zonal dan angin meridional itu punya hubungan satu sama lain.
Yak begitulah penjelasan yang gue tangkap dari dosen gue.

Oke. Cukup perkenalannya dengan angin zonal dan angin meridional ini. Balik lagi ke soal di atas.

Gue puyeng banget bray... Menurut teori, kecepatan rata-rata angin meridional itu nilainya ada di persamaan 3. Dan nilai percepatan itu ada di persamaan 1 dan persamaan 2.

Terus................................terus..... terus...........................
Kagak ada definisi jelas tentang t1 dan t2.
Trashbag pisan lah ini -_-
Di soalnya bilang interval. Nah, interval mana yang di maksud? Menit awal sama menit akhir? Atau antara menit-menit itu sendiri?
Menurut gua sih interval waktu t1 dan t2 yang dimaksud itu yaa menit awal dan menit akhir.
Logikanya gini bray. Kalau antar menit, berarti gue bakal punya percepatan ke-1,2,3 sampai ke-n. Akibatnya, gue akan punya nilai kecepatan rata-rata angin meridional ke-1,2,3, sampai ke-n.
Masa' ada rata-rata di nilai rata-rata???

Yak dan gue telusuri ke buku referensi kuliah Meteorologi Dinamik. Bisa dibaca judulnya 'An Introduction To Dynamic Meteorology'. Iya bray, buku setebal ini masih tahap 'AN INTRODUCTION' kok :3



Penjelasan hubungan antara angin zonal dan angin meridional yaa kayak gini................................:





Langsung gua tutup dah bukunya.

Lalu gua mikir lagi.
Mikir asumsi apa yang digunakan terhadap percepatan angin ini.
Gilak, bahkan gue sekarang mengasumsikan asumsi .-.

Intinya, kalau gue berhasil nemu algoritmanya, gue bisa bikin programnya dengan bahasa Fortran :3
Wuidih kece badai banget sih...

*lalu gue berpikir keras*
*diskusi sesama anak meteorologi*

TADAAAAAAAAA

Nah ternyata gue nemu algoritmanya daaaaannnn mulai kepikiran programnya kayak apa :''3
Lalu segalanya tampak lebih mudah :'''3
Ah bahagia~~~ :'''''''''''''3

Men, gue setuju banget sih kalo cinta itu kayak angin.
Angin itu tampaknya begitu rumit di awal. Lalu ketika kita telah mengerti bagaimana alur memahami angin, semuanya menjadi lebih mudah, lebih sederhana. Kemudian akan membawa bahagia kepada kita.
Sama seperti cinta :)


*sumber gambar: dokumentasi pribadi*

Terima kasih telah membaca.
Tuhan memberkati.


Salam dari yang sedang memahami angin dan cinta secara paralel,
Maria Paschalia Judith Justiari
Kita tak hanya berada dalam bumi berbentuk bola pepat.
Kita tak hanya berada di atas tanah Ibu Pertiwi.
Kita berada dalam satu tubuh.
Aku, diriku, dan jiwaku.

Aku dengan senang hati membebaskan diriku untuk pergi dan melakukan segala sesuatu. Apalagi di tengah libur dan berada di rumah seperti ini.


WAKAKAKAKAKAKAK JUDITH BERLIBUR WOOYY!! YIHAAAAAAAA :3
JUDITH SEMEDI DI RUMAH TJOIIIIIII!! YUHUUUUUU :3

Gaada galau-galauan.........
......
......
Betewe, galau gue cuma muncul kalau gue udah stress tingkat dewa. Begitu gue merasa tertekan amat sangat, gue akan membutuhkan seorang laki-laki yang gue tahu saking sayangnya dia sama gue, tekanan yang buat dia remeh-temeh sampai tekanan yang memang berat pun dia dengarkan. Lalu dia pun memimpin gue untuk meloncat dan terbang menerobos tekanan-tekanan tersebut, memimpin atau paling tidak mendampingi gue menyelesaikan masalah-masalah hidup yang gue hadapi. Ya, sosok sandaran hati.
Oke. skip. Gausah dibahas lagi :p

Iya. Harusnya tidak ada distorsi (baca: galau-galauan) :)

Karena aku bebas tanpa tuntutan
Karena aku bisa rehat dan melepas sejenak beberapa tanggung jawab. Ingat, hanya sejenak.
Karena aku bisa menikmat waktu untuk membahagiakan diriku sendiri tanpa perlu mengganggu kebahagiaan orang lain.
Karena aku dapat memiliki waktu lebih untuk semakin mengenal diriku dan hidupku sendiri.
Karena aku bisa berada di sekitar raga dan jiwa yang menerima sekaligus menyayangi aku apa adanya diriku ini.

Libur dan Rumah :)

Tapi untuk beberapa waktu ke depan, mungkin sampai belasan Juli, aku harus memiliki liburku dan rumahku sendiri. Rumah dan libur yang kusebut dalam sandingan kelenturan hingga di manapun dan kapanpun aku berada, aku selalu bisa menyebut "Judith sedang libur!" atau "Judith sedang di rumah!". Meski aku secara kasat mata tak di rumah atau tak dalam waktu libur.

:)

Semangat Judith! Semangat untuk menciptakan rumah dan liburmu sendiri!
Semangat!!
:3

Tuhan memberkati.


Salam dari yang sedang menikmati libur di rumah secara tersurat maupun tersirat,
Maria Paschalia Judith Justiari

Breathtaking Episode of Bones Season 8

Holaaahhh everybody!

Pengennya sih gue nulis ini dalam Bahasa Inggris tjui, pengennya...
Tapi apa daya, Bahasa Inggris gue udah rada gimana gitu karena jarang dipakai. Jadi daripada ribet mikirnya, langsung aja deh pake Bahasa Indonesia yang (mungkin) baik dan (nggak terlalu) benar :D

Gue mau mengulas sedikit salah satu episode dari Bones. Yep, Bones udah jadi salah satu serial tv favorit gue sejak kelas 12. Thanks Agitha for introducing Bones to me anyway :3

It's titled "Pathos in Pathogens".
Garis besarnya, episode ini mengisahkan Bones dan Booth menghadapi kasus kejahatan biologi yang telah berhasil membunuh 1 nyawa dan nyaris membunuh 1 kerabat terdekat mereka.

Buat gue, sudut pandang yang menarik di sini adalah bagaimana ilmu pengetahuan dieksplorasi di masa kini.

Suatu hari Jeffersonian (semacam lembaga penyelidikan jenazah. Tempat Bones dan sohib-sohibnya bekerja dan menghabiskan waktu bersama) kalang kabut. Bagaimana tidak? Ada seorang jenazah memasuki Jefersonian dengan infeksi biologis yang tidak dikenal.



Sayangnya, pada saat pemeriksaan, salah seorang dokter di Jeffersonian tertusuk jarum yang berisi cairan yang mengandung sumber infeksi biologi tersebut. Dokter itu bernama Arastoo. Dalam waktu singkat, Arastoo menderita demam tinggi bahkan kejang-kejang.


Untuk menemukan vaksin agar Arastoo pulih, mau tak mau Booth dan Bones harus segera menemukan pelaku pembunuhan keji kelas ilmiah ini.

Sambil selidik sana-sini demi menangkap pelaku jahanam itu, Bones dan Hodgins bekerja sama membuat ramuan dari bahan-bahan herbal tradisional. Ini dilakukan karena setelah diteliti ternyata infeksi biologis tersebut memiliki gejala yang sama dengan penyakit chikungunya namun dimodifikasi lebih jauh secara biologis.

Singkat cerita, Booth dan Bones menemukan pelakunya. Ternyata pelakunya adalah seorang dokter yang sengaja membuat infeksi biologis yang mengerikan itu untuk kepentingan pribadi.

Si pelaku tampaknya sudah tak lagi memiliki hati nurani. Booth naik pitam karena si pelaku tak kunjung menyebutkan lokasi penyimpanan vaksinnya. Puncaknya ketika Booth membawa dia secara paksa untuk melihat kondisi Arastoo yang sekarat, bukannya kasihan, si pelaku malah bangga. Dengan teganya dia merasa diri hebat karena karyanya mampu melumpuhkan orang secepat itu. Melihat kejamnya si pelaku, Bones dengan cekatan menyuntikkan suatu cairan ke pelaku sambil berkata, "Nikmatilah hasil karyamu sendiri! Sekarang katakan di mana vaksinnya?"



Akhirnya, secara dramatis pelaku itu ditangkap dan Arastoo pun pulih secara perlahan. Usut punya usut, ternyata yang disuntikkan Bones hanya cairan biasa, bukan virus penyebab infeksi biologis mematikan itu.



*****

Nah, apa yang membuat gue tertarik?
Perkembangan ilmu pengetahuan mungkin membuat beberapa manusia merasa dirinya 'tuhan' yang hanya sudi memikirkan kebahagiaannya sendiri bahkan sampai mengorbankan kebahagiaan orang lain. Kesenjangan ilmu antara yang menguasai dan mengenyam lebih lama dengan yang berangan pada ilmu pun dimanfaatkan demi meraup keuntungan sendiri.
Padahal kesenjangan itu harusnya diubah menjadi kesetaraan.
Menurut gue pribadi, eksplorasi ilmu pengetahuan itu seharusnya bisa dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya kaum cendekia yang bertitel. Bagi mereka yang hanya punya mimpi mencicip ilmu pengetahuan pun perlu disuguhkan ilmu pengetahuan eksakta yang begitu menakjubkan. Hingga mereka pun tak hanya mencicip melainkan terus melahap dan melahap ilmu pengetahuan tersebut.

Sama satu lagi yang benar-benar membuat gue tertarik.
Jangan pernah meremehkan suatu bentukan ilmu apapun. Setradisional atau sekuno apapun ilmu itu, ilmu tetaplah ilmu. Pada hakikatnya, ilmu itu berguna bagi kehidupan. Meskipun sudah berkembang secara pesat, ilmu yang dianggap tradisional jangan sampai dilupakan.
Karena pasti ada momennya, ilmu yang dianggap tradisional itu terbukti menolong manusia.
Ya, ilmu pengetahuan itu kekal. Semesta kece! Yang Mahakuasa benar-benar hebat!

Sebagai (calon) ilmuwan, gue merasa apapun yang gue temukan itu demi kesejahteraan bersama. Bukannya malah merugikan orang lain dan hanya meraup keuntungan sendiri.

Gue sadar bannget kalau gue ini calon ilmuwan.
Calon ilmuwan yang berusaha memberi solusi ilmiah pada nusa dan bangsa.
Calon ilmuwan yang mengabdikan dirinya pada ilmu yang diemban tanpa ego sedikitpun.
Calon ilmuwan yang berharap bisa menyelamatkan nyawa nantinya.

Semoga suatu saat nanti gue bisa menjadi seorang ahli vulkanologi, seismologi, dan meteorologi profesional kebanggaan Indonesia di dunia internasional yang berbasis nilai-nilai ilmiah serta memiliki semangat mengabdi. 

*seluruh sumber gambar: klik di sini :)*

Terima kasih sudah membaca.
Tuhan memberkati.


Salam dari (calon) ahli vulkanologi, seismologi, dan meteorologi,
Maria Paschalia Judith Justiari

Satu Lagi Langkah dalam Hidup

Diketik mulai tanggal 27 April 2014

Entah men, entah banget. Gue selalu bahagia ketika gue menemukan detil-detil kecil yang melengkapi siapa jati diri gue.
Menjelang umur 20 tahun, gue merasa potongan teka-teki 'siapakah aku' semakin banyak dan semakin terkumpul. Yah walaupun masih jauh dari kata tersusun tapi setidaknya potongan-potongan itu sudah ada, tinggal dirangkai.

Alkisah, gue blogwalking ke sana- kemari. Teman-teman seumuran gue menulis perihal kemahasiswaan. Intinya tentang paradigmanya mengenai berbagai macam hal perihal kemahasiswaan. I'm just like, "Wow! Pinter banget sih mereka."

Lalu gue bandingkan dengan blog gue.

Iya, gue bandingkan.

Gue bandingkan.

.............
.............
.............

Ini blog tuh entah mau gue sebut dengan apa. Isinya yaa literally kegermbiraan dan distorsi hidup gue. Bener-bener tentang hidup gue dan...........................................................................ga ada atribut-atribut kemahasiswaannya.

Jujur, gue malu banget.
Di saat teman-teman sekampus gue yang seumuran atau setingkat sama gue menulis perihal kemahasiswaan atau lebih jauhnya tentang nasionalisme, tulisan gue hanya berkutat tentang apa yang gue rasakan dalam hidup gue.
Tentang bahagia gue. Tentang kegalauan gue. Tentang hal-hal aneh yang gue alami maupun gue lalui.

Mana ada tentang kemahasiswaannya -_-"

Tapi di satu sisi, justru gue makin mengenal diri gue melalui tulisan-tulisan yang ada. Tentang siapa gue, tentang jati diri gue. Gue lebih tahu seperti apa gue sebenarnya.
Jujur, tadinya gue mau mengutuk-ngutuk tulisan gue karena isinya ga berbobot banget (menurut gue) apalagi kalau dibandingkan dengan tulisan teman-teman gue.
Lalu gue mulai menelusuri tulisan-tulisan gue dari yang terbaru sampai tulisan yang pertama kali muncul di blog.
Dan gue kembali menemukan jalan pikiran seorang Maria Paschalia Judith Justiari.

Meski hanya sedikit, setidaknya gue menemukan Judith yang sesungguhnya di dalam tulisan-tulisan gue.
Gue memahami seperti apa Judith bermimpi, menghadapi hidup, ingin diperlakukan, memiliki sudut pandang, berpikir, dan lain-lain.
Bagian hidup gue yang tadinya benar-benar hilang dan kosong juga mulai terisi perlahan-lahan dengan tulisan-tulisan di blog ini. Bahkan jujur, semua tulisan yang ada di blog ini hanya merangkum sepersekian bagian dari diri dan hidup gue namun menjadi kunci untuk semakin mengenal siapa gue sesungguhnya.

Dan gue pun tersenyum tiap membaca tulisan gue. Karena gue semakin mengenal bagaimana jalan pikiran gue.



Terima kasih Yang Mahakuasa.. Engkau mengizinkanku menyimpan serpihan jalan pikiranku sendiri melalui tulisan-tulisan di blog ini. Sekali lagi, terima kasih :)

Mari berkelana lebih lanjut untuk mengenal diri sendiri, Dith :)
Semangat Judith! :)

Tuhan memberkati

Salam dari yang baru saja menemukan dirinya melalui tulisan-tulisannya sendiri,
Maria Paschalia Judith Justiari

Aku Bilang Langit Malam Ini Cerah

- Diketik sejak bulan Mei -


#sedangdiputar Mudah Saja - Sheila On 7

Mungkin sejak dekat denganmu, aku makin sering memandang langit.
Kala bintang bertaburan di atas langit sana, aku selalu tersenyum.
Dulu itu tak sekadar "Malam ini tak akan hujan"
Dulu itu pertanda aku bisa menghabiskan waktu denganmu.
Waktu denganmu yang benar terasa mahal awalnya. Lalu lama-kelamaan aku menyesuaikan diri dan bersyukur untuk tiap detik aku bisa menghabiskan waktu denganmu.
Karena itu, aku selalu menyukai langit bertabur bintang. Ya, itu pertanda aku bisa menikmati waktu yang lebih panjang bersamamu tanpa diganggu hujan badai.


Tuhan, aku berjalan menyusuri malam setelah patah hatiku

Iya, malam bertabur bintang akhir-akhir ini sering aku anggap sebagai pertanda malam cerah tanpa hujan.
Kini malam terasa sepi, siang terasa sibuk namun kosong.
Jalanku menyusuri malam menyisakan jutaan tanda tanya dan milyaran rasa sakit.
Tapi aku berusaha bersyukur. Bersyukur pada Yang Mahakuasa.
Karena malam cerah dan tak hujan.
Karena bintang-bintang di atas sana setia menghibur dan menemani langkah hampaku.

Aku berdoa semoga saja ini terbaik untuknya

Iya, aku berani menyimpulkan bahwa kamu bahagia menjalani hidup sekarang.
Antara senang dan sakit, begitulah yang aku rasakan.
Mungkin ini memang terbaik untukmu. Untukmu saja.
Kalau terbaik untukku juga, aku tidak akan merasa sakit seluar biasa ini.
Kalau terbaik untukku juga, malam ini aku tidur dengan nyenyak.

Dia bilang, 'Kau harus bisa seperti aku, yang sudah biarlah sudah...'

Awal hari buruk itu terjadi, aku sama sekali tidak bisa tidur.
Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan itu berlalu begitu muda.
Aku tidak bisa semudah itu berkata "Ya sudah..."
Bagaimana bisa segala yang kita lalui bisa kubiarkan berlalu begitu saja?
Kala banyak keindahan di sana...
Kala banyak hal manis di sana...
Bagaimana bisa segala yang kita lalui bisa kubiarkan berlalu begitu saja?

Mudah saja bagimu, mudah saja untukmu

Mengapa? Mengapa semua tampak mudah untukmu?
Sedang bagiku di sini semua tampak sulit, semua tampak rumit tak berujung.
Mengapa untukmu semudah itu?

Andai saja, cintamu seperti cintaku

Ah ya, mungkin inikah jawabnya?
Jujur, aku tidak tahu sama sekali dan tidak ingin menerka.
Mungkin hanya Tuhan dan semesta yang tahu.
Tapi setiap reflek ketika aku membutuhkan sosok sandaran hati, aku pasti reflek akan menghubungimu.
Bagian yang menyakitkan, aku sadar kamu telah pergi.
Dan siapalah aku ini kalau masih tidak tahu diri mengemis memohon bahumu untuk bersandar, memohon hatimu untuk memberi perhatian dan memimpinku melalui masalah yang aku hadapi.

Coba saja, lukamu seperti lukaku

Apakah kamu tahu aku sesakit apa?
Apakah kamu tahu dengan rasa sakit seperti itu, apa saja yang harus kuhadapi?
Dan kamu tampak bahagia menjalani hidup di sana.....
Sedang aku tak tahu harus bagaimana.
Aku mencoba dengan sungguh menenggelamkan diriku pada pelbagai macam kegiatan.
Harapku, ada kesembuhan yang kudapat.
Ah, aku lupa kalau semakin sibuk, aku bisa semakin stress. Semakin aku stress, semakin aku membutuhkan sosok sandaran hati. Semakin aku sadar aku membutuhkan sandaran hati, aku semakin sakit menghadapi kenyataan bahwa kamu bukan lagi sandaran hati untuk diriku. Lalu luka yang telah menganga terasa diperciki jeruk nipis. Sakit.
Mungkin karena itu juga tiap malam aku habiskan dalam sendu.


Omong-omong, ada sedikit tulisan yang iseng kutulis pada 19 Juni 2014


Congratulation Anyway
(by. Maria Paschalia Judith Justiari)

Congratulation anyway
You share your smile with your friends there
While I’m stuck with thousands paper here
Congratulation anyway

Congratulation anyway
You have reached another achievement
While I have to speak with rock-head people
Congratulation anyway

Congratulation anyway
You get one another step for your dream
While I feel tired with all of stuffs in my life
Congratulation anyway

Congratulation anyway
I’m really happy for you
I wish you tons of success and happiness
God bless you

*****

Ya sudah.
Sudahlah Judith, sudah...
Relakan.
Terbanglah Judith, terbang..
Jalani.
Semangat Judith, semangat..
Biarkan dia bahagia yaa Judith..
Bisa, Judith pasti bisa.
Karena dari dulu sampai sekarang Judith hanya ingin bahagianya tanpa mengganggu hidupnya.
Dari dulu itu ya dari ini:
http://judithjurang.blogspot.com/2013_07_01_archive.html

:)

Lalu aku melanjutkan penelusuran hidup ini.
Meski berawan, aku bilang langit malam ini cerah.

Terima kasih.
Tuhan memberkati

Salam dari aku yang bilang langit malam ini cerah,
Maria Paschalia Judith Justiari