Kamis, 02 Juni 2022

Kelindan Ruah Rasa

Tak hingga 24 jam, beragam rasa dalam kelindan kehidupan meruah

Ada yang melepaskan setelah berjuang dalam penantian
Ada yang kehilangan setelah berjalan bersama
Ada yang mendapatkan setelah tercampak
Ada yang menggenggam setelah terperenyak
Ada ketulusan dalam panjat-panjat doa

Pada rasa-rasa yang meruah dalam tiap insan, ada sirat keikhlasan



Glasgow, 2 Juni 2022
13.53
M Paschalia Judith J


Jumat, 23 April 2021

Langkah demi Langkah Mengelola Sisa

Hari ke-18 di bulan keempat menjadi tanggal yang tidak aku lupakan sejak tahun lalu. Di tengah pandemi Covid-19 yang menjungkirbalikkan keseharian, aku mengambil langkah pertama untuk sebuah kebiasaan baru. Namanya memilah dan mengompos. Ada apa di tanggal itu? Komposter pertamaku mengetuk pintu hunian.

Langkah ini ternyata cukup berdampak signifikan di rumah. Pertama, sebelumnya orang-orang di rumah membuang sampah di satu keranjang dan bercampur antara yang organik dengan anorganik. Biasanya ada dua kantong plastik besar berisi sampah tercampur itu yang keluar dari hunian tiap harinya. Setelah mulai mengompos, ada si ember hitam yang menampung sisa bahan organik. Sampah anorganik tak lagi tercampur. Hanya satu kantong plastik besar per hari yang keluar dari rumah.


Foto oleh: M Paschalia Judith J
Ember hitam untuk sisa bahan organik dan keranjang untuk sisa bahan anorganik. Foto diambil pada Mei 2020



Kedua, tak hanya aku yang punya kebiasaan baru, tetapi juga penghuni rumah mulai beradaptasi memilah sisa organik dan anorganik. Pertanyaan “Ini masuk ember hitam atau keranjang?” dalam sebulan pertama kerap muncul. Pernah orangtuaku ragu memasukkan kulit kacang kering ke ember hitam. Pola pikir yang timbul ialah, ember hitam untuk bahan basah sedangkan keranjang untuk bahan kering. Aku memberikan perspektif, pembedanya adalah sifat bahan, berasal dari makhluk hidup atau bukan.

Ketiga. Kalau teman-teman sadar, aku memilih menyebut “sisa bahan organik” ketimbang “sampah organik”. Mengapa? Dalam refleksiku dan terinspirasi dari seorang perempuan pegiat urban farming, kita sebaiknya tidak cepat-cepat menyematkan kata “sampah” pada sisa bahan. Sisa bahan organik rumah tangga, dengan bantuan kita sebagai manusia, tetap berdaya guna. Bahkan, sisa bahan organik tersebut menjadi salah satu sumber kehidupan ketika dia menjadi pupuk kompos. Oleh karenanya, rasa-rasanya tak layak kalau aku menyebutnya dengan kata “sampah”.

 

Langkah berikutnya

Berangkat dari perubahan pola pikir sebagai dampak ketiga, aku merenung. Kalimat tanya “Jangan-jangan, sisa bahan anorganik pun tak bisa langsung kuhakimi sebagai sampah?” muncul. Jawabannya benar. Aku tidak bisa buru-buru menggolongkan sisa bahan anorganik sebagai sampah. Apalagi setelah membaca beragam informasi yang ada di laman Waste4Change, salah satu usaha rintisan yang bergerak di bidang waste management Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, Waste4Change punya solusi terpadu untuk mengajak masyarakat lebih akrab dengan pengelolaan sampah secara lebih bertanggung jawab. Misalnya, kita ingin warga di perumahan terlibat aktif dalam memilah sampah dan mengurangi volume ke tempat pembuangan akhir, Waste4Change bisa memfasilitasi.

Syaratnya, seperti langkah pertamaku. Kita perlu memilah. Nah, memilah di sini perlu secara rinci. Sisa bahan anorganik ini perlu dipisahkan dari sampah medis serta sampah golongan bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah medis itu misalnya masker sekali pakai atau jarum suntik. Sampah B3 itu seperti barang elektronik atau bohlam lampu.

Setelah bahan anorganik tersebut bersayonara dengan sampah medis dan sampah B3, kita perlu membersihkannya. Misalnya, botol atau gelas kemasan plastik dibersihkan terlebih dahulu dan dikeringkan. Kenapa? Kalau menurutku pribadi, supaya bisa bernilai tambah untuk jadi bahan baku industri daur ulang. Oia, sebaiknya sebelum diambil oleh petugas dari Waste4Change, kita kelompokkan berdasarkan material. Kelompok bahan dari plastik berada di wadah yang berbeda dengan kelompok dari karton.


Foto oleh: M Paschalia Judith J
Memisahkan sisa bahan anorganik berdasarkan materialnya. Foto diambil pada April 2021


Mayoritas langkah-langkah di atas aku sadur dari tips personal waste management atau pengelolaan sampah secara pribadi ala Waste4Change. Karena tadi skalanya perumahan, kebiasaan-kebiasaan pribadi tadi perlu di-“copy paste” sehingga menjadi kebiasaan kolektif. Tak hanya perumahan, skala gedung perkantoran juga bisa! Prinsip dan langkah-langkahnya sama, hanya beda tempat.

Mentransformasi kebiasaan pribadi menjadi kebiasaan bersama atau kolektif memang memiliki tantangan. Untungnya, ada jalan keluar untuk setiap tantangan. Kita secara pribadi harus mengedukasi diri terlebih dahulu dengan informasi dan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dari sumber terpercaya. Belajar dari orang yang sudah berpengalaman juga bisa, contohnya ke kerabat yang telah menggunakan jasa Waste4Change.

Selanjutnya, kita perlu membagikan informasi dan pengetahuan yang diperoleh ke warga sekitar atau komunitas. Dalam tahap ini, kita perlu membuka ruang diskusi yang sehat karena mungkin ada sejumlah kerabat yang memiliki semangat sama dalam mengelola sisa bahan namun caranya berbeda. Sudut pandang “siap belajar hal baru tiap saat” mesti terpatri di diri kita.

Mungkin ada juga kawan yang masih bingung dan bertanya pada kita. Demi membangun kebiasaan kolektif, sebisa mungkin kita selalu hadir dan berupaya menjawab pertanyaan mereka dengan santun. Kalau kita tidak tahu bagaimana? Kita akui ketidaktahuan kita lalu langsung gerak cepat alias gercep belajar dan mencari informasi.

Oia, sebagai salah satu sumber informasi, teman-teman bisa mampir ke akun Instagram Waste4Change. Di sana tersedia beragam tips mengelola sisa bahan dari hunian. Tips dan informasinya dikemas dengan grafis yang ciamik. Selain itu, Waste4Change juga sering mengadakan acara bincang-bincang, seminar dalam jaringan, sampai IG Live yang pastinya bikin pengetahuan kita bertambah. Cuss, langsung cek yaa!!


Foto oleh: M Paschalia Judith J
Masker medis sekali pakai yang mesti diperlakukan secara khusus. Foto diambil pada April 2021



Sebagai contoh nih, pas akhir tahun lalu, aku galau soal sampah masker medis sekali pakai. Tiba-tiba, pas kepo akun Instagram-nya Waste4Change, ada infografis soal pengelolaan sampah medis. Langsung deh aku praktikkan. Teman-teman yang penasaran soal tips mengelolasampah medis ala Waste4Change bisa klik di sini.

Akhir kata, semoga tulisan kali ini bisa berfaedah buat teman-teman pembaca. Yuk kita ambil langkah pertama untuk mengelola sisa bahan dari tempat terdekat! Biarpun kecil dan pelan-pelan, yang penting kita melangkah bersama. Langkah kita juga bisa menjadi kado untuk merayakan Hari Bumi yang diperingati tiap 22 April. Yuk yuk yukkk!!

 

Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur 😊

Salam dari yang masih belajar melangkah dalam mengelola sisa bahan rumah tangga,

M Paschalia Judith J

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021

Nama penulis: Maria Paschalia Judith Justiari

Minggu, 31 Januari 2021

Dari Sentuhan Layar ke Pundi UMKM

Hai! Bagaimana kabarnya?

Semoga yang sedang mengikuti kata demi kata di tulisan ini sehat selalu yaa! Tentunya, sehat lahir batin.


Kini, aku ingin mengajak teman-teman menengok pengalamanku sebelum pandemi Covid-19 mengetuk Tanah Air. Di suatu hari, aku berpergian seperti biasa. Ransel merah kugendong di pundak, ponsel di saku celana. Lalu, aku mampir buat jajan. Saat hendak membayar, tanganku membuka risleting ransel dan berupaya mencari dompet lipat hitam yang sudah menemaniku lebih dari empat tahun. Biasanya, si dompet anteng nongkrong di dalam tas. Tak kunjung dompet itu tersentuh oleh jemari, aku spontan merogoh saku dan mengambil ponsel dan memindai kode respon cepat (quick response atau QR) yang ada di kasir. Transaksi selesai. Beberapa menit kemudian, aku mendapatkan kabar kalau dompetku tertinggal di rumah.

Jangan-jangan, sekarang orang lebih panik jika ponsel tertinggal dibandingkan dompet. Bayar-membayar kini sesederhana memegang ponsel dan memindainya. Transaksi pun berjalan real time atau hampir tak ada jeda waktu. Bahkan, terkadang kita tidak perlu membuka dompet untuk mengeluarkan uang tunai atau kartu.

Di tengah pandemi Covid-19, transaksi digital dengan ponsel menjadi arus baru. Pandemi menuntut masyarakat untuk bertransaksi tanpa kontak langsung (contactless) dan tidak bersentuhan langsung (touchless). Jika kita ingin berbelanja daring (dalam jaringan atau online) tanpa keluar dari tempat tinggal, cukup mengunjungi kanal e-dagang favorit, klik barang yang ingin dibeli, lalu pilih metode transaksi. Bisa transfer perbankan dengan aplikasi yang terpasang di ponsel, dompet digital, hingga memasukkan nomor kartu kredit.

Kalaupun kita terpaksa melangkahkan kaki untuk sebuah tanggung jawab dan di dalam perjalanan ingin jajan, transaksi digital tetap bisa menjadi andalan. Di sejumlah kasir, akan ada papan kecil yang biasanya berlapis plastik mika bening berisi beragam gambar QR dari masing-masing penyelenggara jasa sistem pembayaran. Bahkan, ada pula kasir yang cukup menampilkan satu gambar QR, yakni kode cepat standar Indonesia atau lebih populer dipanggil QRIS. QRIS membuat urusan bayar-membayar lebih enak lagi, baik untuk konsumen maupun penjual. Kenapa? Satu gambar QRIS dapat diakses oleh semua penyelenggara jasa sistem pembayaran.

Secara sadar maupun tidak sadar, saat belanja daring atau datang langsung secara fisik, beraneka produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyapa kedua bola mata kita. Mengingat ada Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia atau Gernas BBI, membeli barang dan jasa UMKM menjadi tanda solidaritas. Tak jarang, produk-produk UMKM bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Contohnya, aneka jajanan makanan, jamu untuk menjaga imunitas, kopi susu untuk mengusir kantuk, lauk dalam kemasan vakum yang tahan lama dan menemani makan siang, hingga kursi untuk menemani bekerja dan belajar dari rumah.

Ada angka menarik dalam diskusi yang diadakan Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 27 Januari 2021 lalu. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menyebutkan, Gernas BBI telah membuat sekitar 2,25 juta UMKM tergabung dalam ekosistem digital per 15 September 2020. Tentunya, setelah bergabung, para pelaku UMKM ini berharap produk, barang, dan jasanya dapat sampai ke tangan konsumen. Apalagi, sudah hampir setahun, UMKM dalam moda bertahan di tengah tekanan pandemi Covid-19. Padahal, UMKM adalah sakaguru perekonomian Ibu Pertiwi.

Sebagai salah satu jalan keluar, Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan daerah tengah bersinergi mendukung tercapainya 30 juta UMKM yang tergabung dalam ekosistem digital pada 2023. Mengapa krusial bagi UMKM untuk hadir secara digital? Pandemi Covid-19 telah menggeser pola belanja masyarakat ke ranah daring. Artinya, pasar UMKM kini ada di dunia digital. Agar dapat menemui konsumen secara daring, UMKM mesti terhubung di ekosistem digital, misalnya membuka situs penjualan secara mandiri atau bergabung di e-dagang.

Oh iya, QRIS juga membantu digitalisasi transaksi UMKM. Dengan QRIS, pelaku UMKM dapat melayani beragam konsumen yang mengunakan bermacam-macam jasa sistem pembayaran. Bank Indonesia menargetkan, ada 12 juta merchant pengguna QRIS pada 2021. Sepanjang 2020, Bank Indonesia mendata, terdapat 5,8 juta merchant pengguna QRIS dan 84 persen di antaranya merupakan usaha skala mikro dan kecil.*

Nah, kini tugas kita sebagai konsumen Tanah Air untuk bertransaksi secara digital dan memprioritaskan untuk membeli produk asli Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengalirkan rezeki dari layar ponsel ke pundi-pundi pelaku UMKM?


Terima kasih telah membaca tulisan ini
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur semuanya!
Semoga Yang Mahakuasa dan Semesta selalu menganugerahkan kesehatan dan kesadaran untuk bersolidaritas

Salam dari yang mengajak untuk membeli produk lokal dan membayarnya secara daring,
M Paschalia Judith J

-----

*sumber:
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_230921.aspx

Selasa, 21 Juli 2020

Pengingat Diri di Tengah Cerita Kompos

Halo teman-teman!

Jadi ceritanya, tulisan kali ini akan menjelma sebagai pengingat bagi diri sendiri dalam cerita mengompos sisa-sisa bahan organik dari tempat tinggal. 
Cerita mengompos ini pun belum selesai karena saya percaya akan ada hal baru yang dapat ditemukan dan dipraktikkan. Syaratnya, saya tak berhenti belajar, mencari tahu, dan bertanya.

Di tengah cerita mengompos yang baru mulai sejak April 2020 lalu, saya ingin membagikan sepenggal rangkuman yang semoga ada manfaatnya. Mohon digarisbawahi, saya juga masih belajar. Saya juga percaya, tiap pribadi memiliki cara dan kenyamanan masing-masing dalam mengompos. Jadi, kalau ada perbedaan, mari kita diskusikan secara sehat dan dengan pikiran terbuka.

Rangkuman ini sengaja dibuat di tengah-tengah cerita agar bisa mengingatkan diri terhadap langkah-langkah saya dalam mengompos sampah. Tak hanya langkah yang bersifat teknik maupun material, tetapi juga perasaan yang terlibat.

Dalam tulisan ini, saya mau bilang, saya selalu merasa nyaman, tenang, dan bahagia ketika mengolah sisa bahan organik di tempat tinggal untuk menjadi kompos. Proses itu seolah menjadi cermin diri saya dalam mengolah sisa-sisa rasa batin, yang kadang saya anggap sampah, tapi ternyata bisa dibentuk menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Balik lagi ke teknik kompos, saya mencoba merangkumnya melalui video singkat di bawah ini. Selamat menonton teman-teman!





Yap, di tengah-tengah video, lagi-lagi saya dengan senang hati dan berbangga menyebut Kak Andito sebagai mentor kompos. Tulisan kali ini juga patut menjadi sarana saya mengapresiasi Kak Andito, seorang mentor dengan sudut pandang positif, semangat membara, sikap yang mau memahami orang lain, kesabaran dalam berproses, dan cintanya pada proses alam semesta. Tentu saya juga ingat rasa bangga Kak Andito menjadi seorang petani urban. Elemen-elemen pada Kak Andito tersebut membuat saya mendapatkan energi sebagai mentee untuk belajar mengompos sisa bahan organik dari tempat tinggal, bahkan memberanikan diri menjadi petani urban. Oh iya, tak bosan-bosannya saya mengingatkan teman-teman untuk berlangganan dan menonton video tutorial dari Kak Andito tentang kompos dan bertani secara urban di kanal YouTube Rumah Hijau Net (sila diklik yaa).


Terima kasih Kak Andito atas waktu dan kesediaan diri yang diberikan untuk membagikan ilmu beserta pengalamannya!
Semoga Kak Andito dan keluarga selalu sehat dan bahagia


Demikian pengingat ini dibuat

Terima kasih juga bagi para pembaca!
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur :D

Semoga Sang Empunya Alam dan Semesta selalu melimpahkan cinta-Nya pada kita


Salam dari pribadi yang tengah belajar mengompos,
M Paschalia Judith J

Minggu, 14 Juni 2020

Bermenung Soal Papan, Menggenggam SiKasep dalam Ponsel

Pengguna membuka aplikasi SiKasep lewat genggaman ponsel dari tempat tinggalnya
Foto oleh: M Paschalia Judith J


Di dalam tempat tinggal yang tak dipunya, rumah bisa menjadi bahan bermenung dan bertanya. Kapan tinggal di rumah milik sendiri? Bukankah papan merupakan kebutuhan primer? Bagaimana memiliki hunian tanpa harus melangkah keluar dari tempat tinggal saat ini?

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, aplikasi SiKasep dapat menjadi sumber jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. SiKasep merupakan singkatan dari Sistem Infromasi KPR Subsidi Perumahan.


SiKasep diluncurkan sejak Desember 2019 lalu dan dikelola oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Harapannya, pemerintah dapat memantau sebaran ketersediaan dan kebutuhan hunian berdasarkan data yang diperoleh langsung dari masyarakat. Data ini dapat menjadi acuan perumusan kebijakan. 

Tentunya, data sebaran hunian itu akan menjadi semacam alarm berlebihnya ketersediaan rumah yang dibangun di lokasi yang tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat berpenghasilan rendah. Dari 'alarm' itu, pemerintah dapat menentukan langkah antisipasi.

Bagi yang ingin segera menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, aplikasi SiKasep mesti diunduh dan dipasang pada ponsel (handphone atau cell phone), tablet, atau gawai sejenisnya. Jangan lupa untuk mendaftar terlebih dahulu dengan memasukkan nama lengkap, nomor KTP (kartu tanda penduduk), nomor pokok wajib pajak (NPWP), nomor ponsel, dan penghasilan per bulan. Siapkan juga kata sandi untuk akun pengguna SiKasep.

Lewat aplikasi SiKasep, terdapat alur verifikasi pengajuan yang mesti dilalui pengguna. Setelah terdaftar, pengguna akan berproses dalam pengecekan pengajuan subsidi. Jika lolos pengecekan, pengguna akan masuk dalam tahap verifikasi pengajuan ke perbankan. Apabila disetujui, pengguna dapat memproses pengajuan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) oleh bank. 

Salah satu keunggulan dari SiKasep adalah terkoneksi langsung dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri. Dengan demikian, tahap verifikasi pengecekan pengajuan subsidi dapat berlangsung dengan cepat.

Target penyaluran pembiayaan perumahan dengan skema FLPP sepanjang 2020 yang ditetapkan untuk PPDPP sebesar Rp 11 triliun. Secara terperinci, total daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) sebesar Rp 9 triliun sedangkan sebanyak Rp 2 triliun berasal dari pengembalian pokok.

Dari segi realisasi, penyaluran hunian sepanjang Januari-Maret 2020 meningkat signifikan dengan total senilai Rp 861,43 miliar. Pada Januari 2020, penyaluran mencapai 32 unit rumah dan meningkat menjadi 3.192 unit rumah pada Februari, hingga mencapai 8.550 unit rumah pada Maret.

Per 19 Maret 2020, basis data PPDPP mencatat, pengguna aplikasi SiKasep telah mencapai 115.415 orang dan terdaftar sebagai calon debitur. Sebanyak 42.923 pengguna di antaranya telah dinyatakan lolos pengecekan subsidi dan terdapat 35.116 pengguna yang berada pada tahap verifikasi oleh pihak perbankan.


Saling menguntungkan
Untuk pengembang perumahan, SiKasep juga memiliki versi tersendiri. Versi ini membuat kredibilitas pengembang perumahan dapat terpantau. Namanya SiKumbang, SiKasep untuk Pengembang. 

Hingga 19 Februari 2020, SiKumbang telah mendata 9.517 lokasi perumahan yang didaftarkan oleh pengembang. Jumlah pengembang yang ada di dalam SiKumbang mencapai 5.986 pengembang yang berasal dari 19 asosiasi perumahan di Indonesia.

Karena mengintegrasikan pengguna yang tengah mencari hunian, perwakilan pemerintah, bank pelaksana, dan pengembang perumahan, SiKasep bersifat saling menguntungkan dan memudahkan tiap pihak. Data disajikan secara real time dan legalitas dokumen terkait hunian pun dipantau.


Tangkapan layar oleh M Paschalia Judith J


Kehadiran SiKasep senada dengan tren mencari hunian secara online (dalam jaringan atau daring). Analisis Google Trend menyebutkan, tingkat minat terhadap kata pencarian "jual rumah online" mencapai nilai 83 pada sepekan terakhir. Jika dibandingkan, tingkat minat terhadap kata pencarian yang sama pada Juni 2019 berkisar di angka 58.

SiKasep menjadi harapan untuk mencari hunian tanpa melangkahkan kaki keluar dari tempat tinggal saat ini. Cukup dengan menyalakan ponsel, membuka aplikasi SiKasep, dan memasukkan data-data yang dibutuhkan, masyarakat menjadi selangkah lebih dekat untuk memiliki rumah atas nama sendiri. *****



Sumber data dan informasi: https://ppdpp.id/9541-2/

Sabtu, 30 Mei 2020

Catatan Tani Halaman Pertama


Sabtu, 30 Mei 2020

Hari ini gue akan mulai menyimpan catatan aktivitas bertani (bertaninya yang sederhana aja kok, skala rumah tangga. Masih jauh jauh jauuuhh lebih hebat petani yang jadi produsen pangan kita) dari tempat tinggal  yang sebenarnya sudah sejak Januari 2020 lalu. Waktu itu bermula dari gue menanam durian di tempat tinggal (gue inget banget, itu gue nanemnya pas malem Minggu). Sebulan belakangan ini, gue menyadari diri mencurahkan lebih banyak fokus dan energi pada kegiatan yang menyenangkan ini.



Bentuk tulisannya mungkin seperti buku harian, santai dan tak formal. Isinya juga suka-suka gue aja haha

Oke.
Di hari ini, setelah bangun pagi, gue langsung memindahkan tiga bayi bawang merah gue (Crowny, Boxy, dan Bangwa), bayi sereh, dan bayi kurma ke tempat yang terkena sinar matahari langsung. Sereh dan kurmanya belum tumbuh sepenuhnya jadi belum dikasih nama hehe.

Yang gue inget adalah, gue menanam Crowny, Boxy, dan Bangwa pada malam Takbiran, yakni Sabtu, 24 Mei 2020. Maafkan, gue lupa kapan menanam sereh (dua batang) dan kurma (enam biji), yang jelas setelah malam Takbiran itu.

Habis itu, seperti biasa gue makan buah naga. Bapak juga minta buah naga. Alhasil, ada dua sumber buah naga buat jadi bahan eco-enzyme. Sip, begitu selesai makan, gue membuat dua botol eco-enzyme berbahan baku kulit buah naga.

Agak siangan, gue membuat pupuk cair berbahan baku nasi basi. Nasi basinya sudah gue diamkan sejak Senin, 26 Mei 2020. Lumayan, bisa dapet dua botol. Ohya, bikinnya sambil dengerin seminar dalam jaringan tentang investasi haha
Karena ibundo habis ngupas kulit bawang, gue langsung bikin pupuk cair lagi sebanyak satu botol. Namanya pupuk cair kulit bawang.

Foto oleh M Paschalia Judith J
Pupuk cair berbahan baku nasi basi


Foto oleh M Paschalia Judith J
Pupuk cair berbahan baku kupasan kulit bawang


Sekitar jam 19.00, gue menanam lemon (sembilan biji), sereh (tiga batang), buah naga, dan bawang merah (satu umbi, namanya BlueDucky). Tanah dan media tanamnya udah gue jemur pas siang-siang. Sebelum ditanam, tanahnya gue siram dulu biar agak lembab tapi tak basah (loh? bingung ga?). Oh ya menanam ini berarti jadi aktivitas malam mingguan gue ehe

Alhamdulillah, satu jam kemudian, ibundo cuci beras. Alhasil, air cucian beras itu tertampung buat jadi santapan lezat bagi bayi bawang merah, sereh, kurma, buah naga, durian, dan lemon. Porsinya beda-beda. Selain durian dan buah naga, bayi-bayi tanaman awak mendapatkan satu centong. Buat bayi durian 3,5 centong dan bayi buah naga 2 centong.

Gue pikir kegiatan bertani gue di malam Minggu udah kelar. Pas ke dapur, ternyata ada kulit pepaya yang masih segar karena baru dikupas. Baiklah, langsung gue sikat dan jadikan eco-enzyme kulit pepaya. Berarti di hari Sabtu ini, gue bikin tiga botol eco-enzyme dan tiga pupuk cair, secara total.
Sungguh, botol-botol ini akan bermakna buat bayi-bayi tanaman yang sedang bertumbuh di tempat tinggal orangtua gue :')

Foto oleh M Paschalia Judith J
Persiapan membuat satu botol eco-enzyme berbahan baku kulit pepaya. Tentu saja, lontong di piring tidak termasuk.


Demikian halaman pertama catatan tani gue.
Beberapa bagian akan gue tulis rinci, kayak membuat pupuk cair nasi basi atau pupuk cair kulit bawang. Tapi, gue nunggu dulu hasilnya kayak gimana, soalnya dua pupuk cair itu masih berproses hehe.


Terima kasih sudah membaca catatan ini
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur

Semoga Sang Pencipta dan semesta melimpahkan cinta dan rahmat-Nya untuk kita semua


Salam dari yang baru memulai catatan bertani,
M Paschalia Judith J

Dua Dapur

Sejak tanggal 18 April 2020 lalu, ada dua dapur di tempat tinggal orangtua saya. Pertama, tentunya ruang dapur yang digunakan untuk memasak makanan dan minuman bagi penghuni.

Dapur kedua adalah komposter, tempat untuk memasak pupuk kompos, baik padat maupun cair. Pupuk kompos ini akan menjadi makanan dan minuman pula bagi tanaman-tanaman yang sedang bertumbuh di rumah.

Foto oleh M Paschalia Judith J
Komposter hasil karya Kak Andito


Karena sampah organik dihasilkan tiap hari, ada kalanya komposter tak cukup menampung. Ya sudah, pada 24 Mei 2020, saya mencoba menghadirkan dapur baru bagi sampah organik. Namanya kompospot. Prinsipnya tetap mengompos, namun di dalam pot.

Foto oleh M Paschalia Judith J
Kompospot di tempat tinggal saya yang dibuat dengan menonton tutorial dari Kak Andito


Ohya teman-teman bisa mengecek YouTube Rumah-Hijau.Net untuk video tutorial membuat kompospot (klik di sini) bersama Kak Andito, mentor saya. Di kanal YouTube ini juga banyak tutorial seputar kompos yang bisa dipelajari dari tempat tinggal kita.

Daann, mari kita berkenalan dengan koki utama di dapur komposter maupun kompospot! TADAAA!!

Foto oleh M Paschalia Judith J
Belatung sebagai koki utama yang memasak di komposter dan kompospot





Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Yang Mahakuasa dan Semesta senantiasa menuangkan cinta dan rahmat-Nya dalam kehidupan kita

Salam dari yang menambah dapur di tempat tinggal,
M Paschalia Judith J

Minggu, 17 Mei 2020

Langkah Kedua tentang Sampah di Tempat Tinggal

Halo lagi bunda-bundi pembaca!

Mau melanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul "Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui" Ala Sampah.

Apa langkah kedua untuk memisahkan sampah organik dan anorganik dari tempat tinggal kita?
Menyediakan tempat sampah yang berbeda. Artinya, dari kegiatan awal membuang sampah, kita langsung memisahkan antara sampah yang organik dan anorganik. Yap, membuang sampah mesti kita lakukan secara sadar dan penuh perhatian.

Kalau aku pribadi, di rumah Bapak-Ibu, aku menyediakan dua tempat sampah di dekat dapur. Ember hitam untuk menampung sampah organik dan keranjang dengan plastik untuk sampah anorganik.

Foto oleh M Paschalia Judith J
Sampah rumah tangga di tempat tinggal orangtua M Paschalia Judith J


Lalu, apa langkah pertamanya?
Mencari tahu perbedaan dan jenis sampah organik dan anorganik sehingga kita bisa memilah dan memisahkannya. Misalnya di foto di bawah ini. Aku mau membuang sampah sisa tulang ayam yang tidak aku makan maka aku membuangnya ke ember hitam. Nah, kalau dilihat-lihat ember hitam yang aku foto berisi ampas kelapa parut, daun sayur yang tak bisa dimasak, kulit buah, cangkang telur, kulit bawang, dan kawan-kawannya.

Foto oleh: M Paschalia Judith J
Memasukkan sisa potongan sayur ke ember sampah organik



Sekian catatan hari ini, semoga bisa bermanfaat untuk bunda-bundi pembaca semuanya.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Sang Pencipta dan semesta selalu menganugerahkan cinta dan bimbingan-Nya.


Salam dari yang belajar untuk sadar dalam membuang sampah,
M Paschalia Judith J

Sabtu, 16 Mei 2020

"Sekali Mendayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui" Ala Sampah

Halo!
Sebagian besar dari kita tahu kalau kata-kata di dalam tanda kutip merupakan peribahasa yang bermakna, ada sejumlah keuntungan yang didapatkan dari satu perkejaan. Sampah, khususnya yang bersifat organik, menjadi wujud nyata dari peribahasa ini dengan bantuan dari kita, manusia. Wujudnya pun dapat dialami oleh panca indra kita.

Memilah dan memisahkan sampah yang bersifat organik dari tempat tinggal kita menjadi langkah dasarnya. Sampah rumah tangga yang bersifat organik, sepengalaman saya, berupa sisa potongan sayur atau buah, tulang dari daging hewan, duri ikan, sisa potongan tempe atau tahu yang tak termasak, dan teman-temannya.

Sampah rumah tangga organik ini, jika diolah secara tepat dan penuh perhatian, dapat menjadi pupuk kompos. Untuk apa pupuk kompos ini? Tentunya bisa menjadi nutrisi bagi tanaman atau tumbuhan yang ada di dekat tempat tinggal kita. Ini manfaat pertama.

Kedua (dan mungkin bergulir hingga yang ketiga dan seterusnya).
Jadi begini bunds. Indonesia itu sesungguhnya masih impor sampah. Sampah plastik dan sampah kertas, salah satunya. Nggak percaya? Impor sampah ini legal loh, ada aturannya di Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag Nomor 92 Tahun 2019 tentang Ketentuan Impor Limbah Non-bahan Berbahaya dan Beracun sebagai Bahan Baku Industri.
Tetapi, impor ini ada solusinya. Pelaku industri yang berkaitan langsung bilang, sampah plastik dan sampah kertas (juga mungkin limbah lainnya) yang ada di Indonesia dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri asalkan...


Tangkapan layar dari artikel yang saya tulis dengan tautan:
https://kompas.id/baca/ekonomi/2020/01/11/revisi-aturan-impor-indikasikan-kurangnya-koordinasi-lintas-kementerian/



Yak, benar. Limbah plastik dan limbah kertas itu kudu terpilah kalau mau jadi bahan baku industri untuk diproses atau dibentuk menjadi produk baru. Sebisa mungkin nggak tercampur oleh sampah organik. Kenapa? Limbah yang buat bahan baku industri ini sebisa mungkin mesti bersifat kering bunds. Di sisi lain, sampah organik sifatnya basah.
Yaa bayangin aja, industri pasti mesti menyediakan uang tambahan dongski kalau harus mengolah bahan baku berupa limbah yang tercampur. Sederhananya, industri sulit menjadikan limbah plastik dan limbah kertas, yang misalnya tercampur potongan sayur atau buah yang sudah membusuk, untuk jadi bahan baku.
Nah, kalau kita sebagai bagian dari masyarakat, minimal sudah membantu memilah dan memisahkan sampah dari tempat tinggal, bisa jadi memberikan rentetan dampak (yang semoga positif) hingga mengurangi impor limbah.
Makanya, di atas disebutkan manfaat kedua, ketiga, dan seterusnya dari memilah dan memisahkan sampah organik yang berujung pada pengolahannya. Proses pengolahan sampah organik terkenal dengan nama mengompos.

Daaannnn
Karena aku pribadi orangnya paling suka (juga paling sangkil dan mangkus) belajar sambil praktik langsung, aku memutuskan untuk ikut memilah, memisahkan, dan mengolah sampah organik dari tempat tinggal.
Tanggal 18 April 2020 menjadi hari yang cukup perlu diingat karena mentor dan guru saya, Kak Andito, dengan segala perjuangannya membuat dan membawakan komposter ini. Kak Andito ini juga membagikan ilmunya lewat YouTube (namanya Rumah Hijau Net) dan Instagramnya lohhh. Langsung klik aja bundss!!
Terima kasih yaa Kak Andito, maaf kalau saya terlalu cerewet kalau jadi murid hehe.




Semoga tulisan ini juga memberikan manfaat pada bunda-bundi sekalian.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Yang Mahakuasa dan Semesta selalu melimpahkan cinta dan tuntunan-Nya pada kita semua

Salam dari yang mulai memilah, memisahkan, dan mengolah sampah organik,
M Paschalia Judith J

Sabtu, 02 Mei 2020

Agak Sedikit Basi Kalau Sekarang Berbincang tentang Natal

Sekarang tanggal?
27 Januari 2017
Kira-kira 33 hari setelah Natal

Tapi biarlah saya berkata-kata tentang Natal. Semoga tidak banyak.

Alasan saya menulis tentang Natal. Bagi saya Natal (harusnya) bukan hanya tentang perayaan 25 Desember. (Mestinya) bukan hanya tentang budaya atau kebiasaan pada 25 Desember.

Sebelum Natal 2016, setiap ditanya "Dith, lo lebih suka Natal atau Paskah?" saya pasti menjawab, "Paskah lah!!". Tidak jarang jawaban saya menuai kernyitan dahi tapi saya tidak ambil pusing. Jawaban itu muncul karena sesungguhnya saya mulai melihat Natal hanya berkisar pada perayaan 25 Desember dan persiapannya. Atau hanya berkisar pada budaya-budaya (yang didominasi budaya barat). Atau terpaut pada lagu-lagu yang katanya lagu Natal namun setelah ditelisik liriknya, kata Natal hanya disebutkan sebagai keterangan dan yang dijual adalah romansanya. Walaupun yaa pada akhirnya saya tidak berkata bahwa Natal yang demikian itu salah. Toh tiap orang memiliki pemaknaan dan perayaan Natal masing-masing. Jadi yaa sah-sah saja kalau dirayakan demikian. 

Kembali lagi ke topik. Oleh karena penglihatan sok tahu saya, saya melihat Natal memberikan sedikit momen berefleksi dan berkontemplasi. Berbeda dengan masa Prapaskah hingga Paskah, selalu ada waktu untuk menyadari diri.

Kasihan diri saya ini. Padahal saya selalu bisa memilih beragam sudut pandang dalam memaknai Natal. Sayangnya, hanya segelintir kesempatan yang saya gunakan untuk memilah dan memilihnya.
Misalnya saat SMA, saya melihat bahwasanya Natal bukan hanya milik nasrani, tapi menjadi hak tiap orang. Kenapa? Sesederhana karena setiap orang berhak merasakan damai dan kebahagiaan.

Lalu setelahnya Natal bagi saya berlanjut hambar hingga tahun 2015 kemarin. Natal 2015 memberikan saya suatu sudut pandang bahwa Natal berarti lahirnya perdamaian dengan diri sendiri.

-------

Kalimat di atas merupakan ketikan terakhir pada 20 Februari 2017
Pada 3 Mei 2020 pukul 00.20, saya mencoba menelusuri lagi hendak ke mana tulisan ini. Syukur pada Yang Maha Memiliki Memori, saya masih ingat gambaran besarnya.

Sejak Natal 2015, entah kenapa Sang Penyentuh punya segala cara dan sarana agar saya bisa memiliki ruang dan waktu untuk berefleksi, meskipun hanya sejenak. Refleksi saya pun tertuang dalam kartu ucapan yang dibagikan secara dalam jaringan atau daring.



Berlanjut pada Natal 2016, terlintas di pikiran saya tentang Natal yang bisa jadi momen yang nggak enak buat Sang Raja. Bayangin aja, Sang Raja pasti tahu dan sadar, lahir ke dunia berarti harus siap dengan skenario wafat dengan cara paling keji. Dan meskipun tahu skenario itu, Dia tetap memilih untuk lahir. Ohya, refleksi lengkapnya ada di tangkapan layar status LINE saya.








Natal 2017. Kalimat yang terngiang-ngiang dalam pikiran saya adalah seruan Nabi Yesaya yang tercantum pada kartu di bawah ini. Kata-kata Nabi Yesaya itu mengingatkan saya pribadi sebagai manusia yang hanya berperan sebagai sarana bagi Yang Mahakuasa.



Tahun berikutnya, Natal 2018. Mengingat-ingat latar belakangnya agak berat. Refleksi ini ingin menggambarkan konsistensi kesederhaan yang diwujudkan dalam kecukupan. Merasa cukup bergantung dari definisi masing-masing pribadi manusia, menurut hemat saya. Meskipun definisi itu berbeda-beda, ada rambu bagi hasrat seorang pribadi yang menjadi pengelompok bagi kecukupan. Pengelompokan itu terdiri dari, pertama mengejar kecukupan yang didefinisikan secara pribadi. Kedua,  mendefinisikan kecukupan berdasarkan kondisi yang ada, dengan kata lain, membiarkan definisi kecukupan menghampiri. Dan ya, teladan konsistensi kesederhanaan dalam kecukupan ialah Dia yang lahirnya dirayakan pada 25 Desember.



Lalu ke Natal 2019. Refleksi pada Natal 2019 ini dipengaruhi oleh kata-kata yang diucapkan Untoro Eko S pada saya dalam salah satu tantangan hidup yang sedang saya alami. Dia mengingatkan saya untuk bersikap konsekuen. Lagi-lagi, sosok konsekuen yang patut menjadi teladan adalah Sang Raja yang lahir dan nantinya bermahkota duri.




Yak.
Namanya juga manusia bandel yak, ehe. Jika diminta memilih antara rangkaian Natal atau Paskah, saya tetap memilih Paskah.
Di luar urusan-urusan seperti yang dijabarkan di atas, ada satu hal kenapa Paskah lebih unggul dibandingkan Natal. Lagu-lagu Prapaskah (masa sebelum Paskah) bernuansa gothic dan saya suka alunan nada maupun untaian liriknya. Lagu Natal yang bernuansa gothic setahu saya hanya satu dan jadi favorit saya, Carol of The Bells. Maap yak Yang Diperingati

Baik. Demikian tulisan yang saya harap ada faedahnya.
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga Yang Lahir dan Bangkit melimpahkan cinta-Nya pada kita.


Salam yang masih memilih Paskah dibandingkan Natal,
M Paschalia Judith J

Jumat, 03 April 2020

Peta Persebaran Penanganan Covid-19 di Tataran Provinsi (episode 2)

"Better to light a candle than curse the darkness"

Halo lagi teman-teman sekalian!
Pada kesempatan kali ini, kami ingin menampilkan pemetaan yang diharapkan lebih padat dan ringkas. Itulah juga alasan ada kata "episode 2" pada tulisan kali ini. Kalau mau tahu wujud pemetaan pada episode 1, teman-teman bisa klik di sini.

Peta di bawah ini berisi sebaran penyelenggaraan donasi untuk menangani Covid-19, problematika dan gerakan sadar, serta kasus Covid-19 di tataran provinsi.

Di sejumlah provinsi, kami juga menampilkan gambar yang memuat tabel kebutuhan alat kesehatan beberapa rumah sakit yang datanya berhasil dihimpun.

Gerakkan kursor ke penanda dan klik untuk melihat rinciannya.
Untuk melihat rincian kebutuhan alat kesehatan pada rumah sakit di sejumlah titik, klik gambar di atas judul atau nama provinsi pada bagian paling kiri peta. Kalau tidak ada gambar, berarti kami belum berhasil menghimpun data kebutuhan alat kesehatan di provinsi tersebut.






Untuk melihat rincian penyelenggaraan donasi dalam menghadapi dan mengatasi kasus Covid-19, teman-teman pembaca dapat mengklik tautan berikut:
https://s.id/rinciandonasihadapiCovid-19
Donasi-donasi di daftar tersebut sudah diverifikasi dan dikonfirmasi oleh tim kami.


Peta ini dapat dibuat dengan dukungan:
1. Data termutakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (per 10 April 2020)
2. Penghimpunan data oleh Gloria FK Lawi dan tim lalu diolah M P Judith J.
3. Tautan Github yang menjadi basis data lokasi
4. Berita-berita yang diterbitkan di situs kompas.id (teman-teman pembaca dapat mengaksesnya secara gratis dengan mengklik tautan klik.kompas.id/dirumahaja lalu masukkan kode KOMPASWFH). Sumber-sumber dari berita-berita dalam jaringan yang juga tercantum dalam peta ini
5. Berita-berita dan narasumber kami yang telah mengonfirmasi dan memverifikasi

-----
Oh iya, semoga kami senantiasa memutakhirkan peta ini sesuai dengan kondisi terkini di malam hari (setelah segala tanggung jawab pekerjaan kami selesai)

Selamat menganalisis!

Semangat selalu, jaga kesehatan, dan jangan lupa bersyukur♥
Semoga semesta dan Yang Mahakuasa selalu melindungi dan membuat kita berhasil menangani Covid-19



Jumat, 20 Maret 2020

Peta Persebaran terkait Penanganan Covid-19 di Tataran Provinsi

"Better to light a candle than curse the darkness"


Hai!
Di tulisan kali ini, teman-teman pembaca akan disuguhkan dua peta.

Peta pertama berisi sebaran penyelenggaraan donasi untuk menangani Covid-19
Gerakkan kursor ke penanda dan klik untuk melihat rinciannya.







Peta ini dapat dibuat dengan dukungan:
1. Data termutakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (per 24 Maret 2020)
2. Penghimpunan data donasi dari Gloria FK Lawi dan tim
3. Tautan Github yang menjadi basis data lokasi

Untuk melihat rincian penyelenggaraan donasi dalam menghadapi dan mengatasi kasus Covid-19, teman-teman pembaca dapat mengklik tautan berikut:
https://s.id/rinciandonasihadapiCovid-19
Donasi-donasi di daftar tersebut sudah diverifikasi dan dikonfirmasi oleh tim kami.


Nah peta kedua ini berisi sebaran problematika dan gerakan sadar di tataran provinsi dalam menghadapi merebaknya Covid-19
Caranya sama, sila gerakkan kursor ke penanda dan klik untuk melihat rinciannya







Peta ini dapat dibuat dengan dukungan:
1. Data termutakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (per 24 Maret 2020)
2. Inisiasi problematika di daerah dan pengumpulan data terkait oleh Gloria FK Lawi dan tim
3. Tautan Github yang menjadi basis data lokasi
4. Berita-berita yang diterbitkan di situs kompas.id (teman-teman pembaca dapat mengaksesnya secara gratis dengan mengklik tautan klik.kompas.id/dirumahaja lalu masukkan kode KOMPASWFH). Sumber-sumber dari berita-berita dalam jaringan yang juga tercantum dalam peta ini
5. Berita-berita dan narasumber kami yang telah mengonfirmasi dan memverifikasi

-----
Oh iya, semoga kami senantiasa memutakhirkan peta ini sesuai dengan kondisi terkini di malam hari (setelah segala tanggung jawab pekerjaan kami selesai)

Selamat menganalisis!

Semangat selalu, jaga kesehatan, dan jangan lupa bersyukur♥
Semoga semesta dan Yang Mahakuasa selalu melindungi dan membuat kita berhasil menangani Covid-19

Minggu, 12 Mei 2019

Belajar Memasak (1)

Lupa, kapan persisnya.
Tetapi, yang jelas setelah beberapa kali aku memasak untuk kamu.

"Sekarang, masakan kamu adalah (salah satu) makanan favoritku," kata kamu.

Aku tersenyum, tersipu sambil menatap kamu. Dalam hati, aku merasa sesenang itu mendengarnya. Ternyata mendengar respon positif dari orang yang untuknya aku memasak, semenyenangkan itu. Jadi semangat masak lagi.
Terima kasih ya kamu :)
Kalau begitu, kamu mau aku memasak apa saja untuk kamu?

*****
Kalau pembaca penasaran, ini sejumlah masakan untuk yang-aku-sebut-kamu


Kue Kering Cokelat


Pudding Susu Cokelat


Nasi Liwet, Ayam Suwir, Sambal Bawang



*****

Terima kasih sudah membaca tulisan ini😁
Semoga Yang Mahakuasa dan semesta senantiasa mencurahkan berkah
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur💞


Salam dari yang senyam-senyum dan langsung semangat memasak,
M Paschalia Judith J

Senin, 06 Mei 2019

Senin, 29 April 2019

Waktu itu sudah malam, meski belum larut. Dan hujan.
Tapi kita berdua memutuskan bertemu di sekitaran Tebet, Jakarta. Kamu berangkat dari kawasan Setiabudi, aku dari Palmerah.

Ternyata suhu tubuh kamu panas, mungkin pertanda kamu sakit

"Bukannya tadi aku udah bilang, kalau kamu capek, nggak usah ketemu juga nggak apa-apa," kataku.
"Iya badan aku mungkin capek, tapi jiwa aku maunya ketemu kamu. Gimana dong?"
"....."

*****

Terima kasih telah membaca tulisan ini😁
Semoga selalu merasakan cinta Yang Mahakuasa dan semesta
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur💞


Salam dari yang senyam-senyum di Tebet,
M Paschalia Judith J

Makan Padang

Sabtu, 4 Mei 2019

Hai hai
Mau cerita soal obrolan pas makan Padang di Sabtu yang lalu. Bermula dari ngeliatin temen-temen jurnalis yang makan Padang pas Jumat sebelumnya. Alhasil, gue ngidam nasi Padang.
Pas Sabtu siang, gue hendak merealisasikan. Gue pun teringat adik gue punya tempat nongkrong nasi Padang favorit sejak jaman doi masih di bangku SMK. Dan ternyata dia paling demen ke Rumah Makan Padang Surya di Bendungan Hilir, Jakarta.
Ga cuma itu, gue langsung nyiapin nasi merah-hitam buat gue makan supaya ga merasa dosa-dosa amat kalau makan Padang-nya kebanyakan, ehe😜
Sip. Gue pun langsung cuss ke sana jam 13.00-an dan alhamdulillah ga sendiri :')

Ternyata, rumah makan Padang favorit adek gue ini modelnya menyajikan semua piring lauk dan sayur yang ditawarkan di atas meja makan pengunjung. Ntar kelar makan, ada mas-mas (atau mbak-mbak) yang nyamperin meja terus nyatet dan ngitungin kita makan apa aja.
[kan soalnya ada rumah makan Padang yang modelnya pengunjung nyamperin etalase lauk dan sayur yang ada di depan rumah makan terus langsung milih. Nanti mas-mas nya nyiram nasinya sama lauk dan sayur yang kita pilih duluan]

Lanjut. Semua piring dari pilihan lauk dan sayur yang tersedia pun sudah tertata di atas meja makan.
J: "Wah ini modelnya semua piring disuguhin yak. Harus hati-hati nih biar nggak laper mata."
U: "Iya, harus hati-hati."
...
U: "Untung semua yang disuguhin ini bukan masakan kamu."
J: "Hmmm, emang kenapa gitu?"
U: "Ya kalau masakan kamu sih fixed aku langsung sikat semuanya hehe"
J: 😶😶😶😶😶





Ya udah. Gitu aja. Ehe
Ohya, kalau makan di sini, per orangnya bisa sampai Rp 35.000 - Rp 50.000. Yaa jadi hati-hati aja sama dompetnya :)))
*********************************************

Terima kasih telah membaca tulisan ini😁
Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Semoga senantiasa menikmati berkat dan berkah dari Yang Mahakuasa dan semesta

Salam dari yang senyam-senyum di rumah makan Padang,
M Paschalia Judith J

Sabtu, 29 Desember 2018

Mencoba Merasuk (1)

Gara-gara membaca komik berjudul Beauty Pop sampai lupa kerja, terlalu banyak kesan dan rasa yang tertinggal. Yah, salah satunya perasaan saat mencoba berada di posisinya Kazuhiko Ochiai. Jadi, kutulis saja ehe
Ohiya gue tulis dari 16.35 sampai 16.52, setelah mengetik feature analisis buat kerjaan hehe

*****
Senyumannya

Kubetulkan kacamata, memastikan pandangan
Senyumnya saat mendengarkan cerita terasa beda
Tak dekat memang jaraknya, tak sadar dia kuada
Kuabadikan sunggingan tawa serta binar mata sarat makna

Sejengkal dasawarsa kemudian
Senyumnya tak pernah bosan kunikmat, kupandang
Memang tak ada jarak, sayang rasa kita tak sama
Sahabat menangkan senyumannya, selamanya


(Palmerah, 29 Desember 2018)

*****

Semangat selalu dan jangan lupa bersyukur
Cinta Yang Mahakuasa dan semesta selalu beserta kita

Salam dari yang telah mencoba merasuki Kazuhiko Ochiai,
M Paschalia Judith J

Minggu, 25 November 2018

What I Write About Inner Peace in 20 Minutes

April, 21st 2015 was my EF writing test. I was late but I could finish it in 20 minutes just because the topic was interesting. Here what I wrote and the topic.


The task:
In your opinion, can talking about your problems or bad experiences help you to deal with them? Can you think of any more ways of dealing with problems or bad experiences? Write an essay explaining your opinions!


My answer:
I usually share my problems or bad experiences to my closest circle, such as my mother, my father, my brother, or my best friends. Psychologically, I am an extrovert who naturally expresses what I feel or what I am thinking about.

When I am expressing my feeling, somehow I get relieved. It is same with when I'm sharing my problems to my family or my best friends. Sometimes, I don't need their advises. I just need somebody's listening and caring me.

Many books state that sharing our problems is one step to make peace with ourselves and a way to avoid stress. When we keep the problems just for ourselves, we can get stressed and there will be no more inner peace in ourselves. If we have no inner peace in ourselves, we make ourselves drown deeper in our trouble.

However, beside sharing our problems to someones we trust, we can get inner peace by ourselves. We just need to be alone for a little time. We can pray, write everything we feel or think and simply talk to ourselves. Then, we can find our inner peace.
The matter is, the inner peace that we get. Inner peace helps us a lot to think and feel clearly. Surely, it eases us to find the way for our problems. Go find your own inner peace! 


*******
I'm really sorry that I've just finished this post today.
Please forgive me for my bad grammar there hehe

Anyway, here's the picture of my writings. I took this pict before submitting it to my teacher





Thank you for reading this post
Cheers! Be grateful always and Godspeed :D

Regards from the one who writes about inner peace for English course test,
M Paschalia Judith J